Nelayan Kalianda Paceklik Ikan akibat Pengaruh Angin

LAMPUNG — Para nelayan di Desa Muara Piluk Bakauheni dan di beberapa wilayah Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, mengeluhkan masih terjadinya paceklik ikan. Sejumlah nelayan yang terpaksa melaut bahkan hanya membawa pulang sekitar 15 hingga 30 kilogram ikan berbagai jenis. Angin kencang di perairan diperkirakan menjadi kendala bagi nelayan untuk melaut.
Salah satu nelayan tradisional di perairan Kalianda mengungkapkan pengaruh musim Timur mengakibatkan nelayan saat melaut harus berlindung di teluk atau perairan yang berdekatan dengan pulau, seperti Teluk Bangkai di Pulau Sebuku, serta sekitar perairan Pulau Sebesi.
Sementara nelayan di Perairan Selat Sunda mencari ikan di sekitar perairan Pulau Kandang Besar, Pulau Sangiang dan beberapa pulau lainnya. Kondisi tersebut membuat penghasilan nelayan menurun dan sebagian bahkan melaut hanya untuk kebutuhan sehari hari.
“Saya memancing di sekitar perairan Kandang Besar karena banyak teluk untuk berlindung saat ada angin besar, lumayan kalau dapat banyak dijual tapi saat ini sedang musim angin Timur sehingga hasil pancingan menurun,”ungkap Joni, salah satu nelayan dari Desa Sumur yang sehari hari memancing dengan perahu katir Sabtu (22/8/2015).
Sementara pemilik perahu perahu nelayan berukuran besar jenis kapal cumi dan bagan congkel terpaksa melaut dengan hasil yang lebih sedikit dibandingkan hari biasa. Para nelayan tetap melaut meskipun tetap mewaspadai bahaya cuaca yang bisa berubah sewaktu waktu di perairan Teluk Lampung dan perairan Selat Sunda.
Salah satu bos pemilik kapal Bagan Apung, Daeng Iman, mengungkapkan sebagai nelayan memang harus peka dengan kondisi cuaca. Ia dan anak buah kapal yang bekerja dengannya mengaku harus mengetahui kondisi cuaca perairan.
“Jika tidak memungkinkan atau terdapat hari pantangan, kami memilih untuk berlibur melaut sementara jika aman kami berangkat melaut,”ungkapnya.
Nelayan di perairan Selat Sunda, Teluk Lampung biasanya menjual ikan hasil tangkapan mereka di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Piluk Bakauheni, TPI Boom Kalianda serta TPI Lempasing. Pantauan Cendana News, minimnya hasil tangkapan membuat beberapa nelayan memilih untuk memperbaiki jaring serta kondisi kapal. Sementara nelayan yang tetap melaut terlihat memperoleh tangkapan dalam jumlah sedikit dalam keranjang keranjang dan kotak es sebelum disortir dan dibawa ke TPI.
Nelayan di perairan tersebut menurut Daeng Iman tak hanya berasal dari wilayah Lampung tapi sebagian berasal dari wilayah Banten, Jawa Barat dan Bengkulu yang melakukan pencarian ikan menggunakan kapal kapal berukuran lebih dari 20 GT. Sementara nelayan nelayan tradisional masih menggunakan perahu katir sederhana.
Kondisi cuaca yang membuat nelayan mendapatkan sedikit tangkapan tersebut masih ditambah dengan ulah oknum nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan racun ikan serta bom ikan. Kepala Satuan Polisi Perairan Polres Lampung Selatan Iptu Baharudin bahkan mendapatkan laporan dari nelayan terkait aksi pengeboman ikan tersebut.
“Sementara masih laporan namun sudah kita himbau kepada masayarakat untuk segera melapor jika melihat tindak pengeboman ikan di perairan makanya kita minta nelayan mencatat nomor anggota Satpolair,”ungkapnya.
Sebagian nelayan mengaku takut menghalau atau memperingatkan para pengebom ikan yang mereka lihat sebab para pelaku menggunakan kapal lebih besar dan kerap mengancam para nelayan. Berdasarkan pantauan, beberapa terumbu karang di perairan antara Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku mati akibat pengaruh penggunaan racun ikan.

SABTU, 22 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...