Pak Harto, Pramuka, dan Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur.

CATATAN JURNALISGerakan Pramuka dengan lambang Tunas Kelapa dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, namun secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada khalayak pada tanggal 14 Agustus 1961 ketika Presiden Soekarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden RI Nomor 448 Tahun 1961. Sejak saat itu, setiap tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari lahirnya Gerakan Pramuka. 
Bagi Pak Harto, Presiden RI ke-2, program pendidikan kepramukaan adalah sangat penting. Dan pendidikan kepramukaan adalah pendidikan yang harus diarahkan untuk selalu menjadi pendidikan yang bertujuan membangun manusia pembangunan.
Gerakan yang betujuan menumbuhkan tunas-tunas muda bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, dalam artian mandiri, memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan serta mengamalkan sila-sila yang ada dalam Pancasila. Untuk mencapai terwujudnya tujuan tersebut, menurut Pak Harto sebagaimana yang disampaikan dalam pidatonya pada pembukaan Musyawarah Kerja Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Kwartir Daerah Se-Indonesia pada 12 April 1971 di Istana Negara, dibutuhkan pembinaan yang menserasikan antara ketinggian moral dan ketajaman akal. Antara tanggung jawabnya kepada diri sendiri dan tanggung jawabnya kepada masyarakat, antara usaha untuk mengejar kemajuan lahir dan kemajuan batin. Singkatnya, suatu usaha untuk melahirkan manusia Indonesia yang utuh dan penuh keseimbangan, yang dapat berdiri sendiri, mampu bertanggung jawab kepada dirinya dan masyarakat.
Dalam membina tunas-tunas bangsa itu sangatlah penting adanya latihan-latihan untuk menumbuhkan kepribadian dan kepemimpinan. Salah satu latihan yang kerapkali dilakukan oleh Gerakan Pramuka adalah berkemah. 
Sebagai Pemimpin Bangsa yang sangat memahami apa yang dibutuhkan rakyatnya, sangat menguasai masalah sehingga mampu memberikan jalan keluar yang selalu tepat sasaran. Pak Harto paham betul apa yang dibutuhkan oleh Gerakan Pramuka dalam skala nasional, yaitu tanah lapang yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya seluruh anggota Pramuka Se-Indonesia. 
Orde Baru mencatat, bahwa Pak Harto telah menghibahkan tanah seluas 200 hektar di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Yang kemudian dinamai Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur, tetapi masyarakat umumnya lebih mengenal dengan nama Bumi Perkemahan Cibubur.
Berkat tanah hibah tersebut, untuk pertama kalinya, Pramuka memiliki bumi perkemahan. Di tempat inilah Jambore Nasional untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tahun 1973, dan terus dijadikan tempat pelaksanaan Jambore Nasional selanjutnya. Dan di tempat ini pulalah, pertama kali Pramuka asal Papua ikut dalam kegiatan Jambore Nasional. 
Prestasi Pak Harto yang kala itu dipercaya sebagai Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka juga sangat luar biasa. Jika sebelumnya, anggota hanya ratusan ribu, dalam bimbingan Pak Harto jumlahnya meningkat pesat hingga lebih dari dua puluh juta, sehingga Pramuka menjadi organisasi kepanduan terbesar dalam jumlah anggota di dunia. 
Di tangan Pak Harto, Pramuka benar-benar mampu menjadi pendidikan yang bertujuan membangun manusia pembangunan. Membangun manusia pembangunan tidak lain adalah membangun manusia Pancasila. 
Membangun manusia Pancasila bukanlah pekerjaan mudah, tetapi bagi Pak Harto hanya dengan jalan itulah dapat meneruskan pembangunan dan menyelamatkan pembangunan bangsa. Hanya manusia Pancasilais yang dapat membangun masyarakat berdasarkan Pancasila.

Manusia-manusia yang tidak merasa memiliki Pancasila, yang tidak mengerti Pancasila, yang tidak menghayati Pancasila, yang tidak mencintai Pancasila, tentu saja akan sulit membangun masyarakat dan manusia Indonesia berdasarkan Pancasila.

Bagi Soeharto, tidak ada keraguan sedikit pun, bahwa pendidikan kepramukaan mampu menjadi wadah untuk melahirkan tunas bangsa yang Pancasilais. 
Reformasi seringkali mengkerdilkan jasa Pak Harto, era yang sudah berlalu 17 tahun yang lalu belum juga tuntas menuai hujatan hingga melupakan sejarah besar yang pernah ditoreh oleh Bapak Pembangunan, Presiden RI ke-2. 
Ditengah arus penolakan gelar Pahlawan Nasional bagi Jenderal Besar HM.Soeharto. Semoga era reformasi tidak malu-malu mengakui bahwa sejarah mencatat, Bumi Perkemahan yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan Jambore Nasional adalah jasa Pak Harto. Jangan juga lupakan sejarah, bahwa dalam bimbingan Pak Harto, Pramuka berhasil menjadi organisasi kepanduan terbesar dalam jumlah di dunia. 
Salam Pramuka !
JUM’AT, 14 AGUSTUS 2015
Penulis : Gani Khair
Lihat juga...