Pakar Ekonomi UGM : Respon Pasar Dingin, Resufle Belum Tuntas

Dr. A Tony Prasetiantono, M.Sc, Pakar Ekonomi UGM Yogyakarta

YOGYAKARTA—Resufle yang sering diserukan oleh banyak pihak sejak kabinet Jokowi terbentuk, pada akhirnya kini terjadi. Enam menteri Jokowi telah diganti. Namun, mengapa pasar masih meresponnya dengan dingin? Dr. A Tony Prasetiantono, M.Sc, pakar ekonomi Universitas gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mengatakan, resufle kabinet Jokowi masih direspon dingin oleh pasar karena ekpektasi pasar terhadap resufle itu tidak terpenuhi. Apalagi, masih banyak menteri yang semestinya harus diganti.   
Resufle kabinet Jokowi, akhirnya dilakukan. Enam menteri telah diganti, dan diharapkan resufle ini akan memberi pengaruh positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ternyata resufle itu tak serrta-merta direspon positif oleh pasar. Padahal, sejumlah menteri yang baru seperti Rizal Ramli dinilai sudah cukup tepat dan cakap di bidangnya. Menurut pakr ekonomi UGM Yogyakarta, Dr. A Tony Prasetiantono, M.Sc, ada dua faktor yang menyebabkan pasar belum menanggapi dengan baik terhadap resufle itu.
Pertama, ekpektasi pasar terlalu tinggi terhadap resufle ini, karena sesungguhnya masih ada 20 menteri lagi yang semestinya diganti. Artinya, jelas Tony, menteri yang tidak perform itu lebih dari enam. Bahkan, menurut gosip ada 20 menteri. Sehingga ketika resufle 6 menteri, ekpektasi pasar tidak terpenuhi. Faktor kedua, memang ada devaluasi Yuan Cina yang sangat mengganggu perekonomian dalam negeri. Dengan adanya devaluasi Yuan Cina, kata Tony, barang-barang produksi Tiongkok menjadi jauh lebih murah, sehingga ekspor Tiongkok ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia akan menjadi jauh lebih besar. Dan, kemungkinan Indonesia juga akan mengalami defisit yang lebih besar terhadap Tiongkok. Ini  akan menimbullan sentimen negatif lagi. 
Tony yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (12/8) sore, memaparkan, dua faktor itu bergerak bersama-sama dan sangat berpengaruh. Tapi, Tony mengakui jika faktor internal yaitu resufle yang belum memuaskan memang dominan sebagai penyebab respon negatif pasar. Namun demikian, Tony juga memahami jika bagi Jokowi untuk meresufle 20 menteri itu tentu akan sulit dilakukan secara serentak. Selain akan menimbulkan goncangan politik, kata Tony, juga akan terlihat penyusunan kabinet Jokowi sejak awal memang tidak tepat. “Saya menduga, Jokowi sedang mencicil resufle itu. Artinya, ini bukan resufle yang terakhir, karen masih banyak menteri-menteri lain yang masih layak untuk diganti”, ujar Tony. 
Tony mengakui, jika pembentukan kabinet Jokowi sejak awal memang sudah tidak tepat. Menurutnya, hal itu mungkin disebabkan Jokowi tidak memiliki kebebasan. Posisinya tidak cukup kuat untuk menentukan sendiri personil-personilnya, karena Jokowi dibentuk oleh koalisi. Ada partai-partai pendukung yang pada akhirnya memang diakomodir oleh Jokowi. Padahal, kata Tony, partai-partai itu tidak punya beban untuk dimasukkan ke dalam kabinet. Mungkin, sambung Tony, Jokowi pada waktu itu memang tidak pada posisi tawar yang kuat sehingga itu dilakukan. “Akibatnya banyak posisi-posisi di kabinetnya tidak maksimal. Mungkin pula posisi yang tidak tepat pada kabinet itu juga berasal dari bisikan-bisikan di sekitar Jokowi dan bukan kemauan Jokowi sendiri”, kata Tony.
Dengan berbagai analisa tersebut, Tony mengatakan jika resufle ini akan menjadi pengalaman berharga bagi Jokowi agar lebih berani dan tepat menempatkan seseorang pada jabatan menteri dan paham cara membentuk kabinet yang baik. Ini bukan hal mudah, karena Jokowi adalah orang baru yang baru pertamakali membentuk kabinet. Sebelumnya, tegas Tony, pengalaman Jokowi hanya di level kota dan provinsi, sehingga menyusun kabinet ini pasti adalah sesuatu yang baru bagi Jokowi. “Saya kira setelah resufle yang pertama ini, Jokowi akan semakin memahami dan bisa membentuk kabinet yang profesional”, ujar Tony.
Namun demikian, Tony sedikit optimis dengan enam menteri baru dalam perubahan kabinet Jokowi. Darmin Nasution dan Rizal Ramli, dinilainya sebagai orang yang sudah tepat. Keduanya, kata Tony, ibarat matahari kembar di bidang ekonomi. Memang ada kekhawatiran jika keduanya justru saling bersaing. Karena itu, keduanya perlu menahan ego masing-masing agar tidak saling bersaing sehingga bisa menjadi partner yang bagus dan bisa bersinergi. “Saya kira Jokowi sengaja memasang keduanya untuk menunjukkan ada upaya serius dari pemerintah untuk melakukan perbaikan ekonomi”, ungkap Tony.
Posisi menteri berpengaruh langsung terhadap pergerakan ekonomi. Terutama menteri-menteri yang berhubungan dengan  pasar. Misalnya, menteri perekonomian yang harus bisa menjelaskan masalah dan meyakinkan pasar serta mampu menenangkan pasar jika sedang resah. Kemampuan ini, menurut Tony,  tidak dimiliki oleh menteri sebelumnya. Kalau menteri-menteri yang baru sekarang ini bisa meyakinkan pasar, akan banyak hal yang bisa diharapkan. Rupiah akan menguat, IHSG menguat dan kemudian akan mempermudah kebijakan-kebijakan ekonomi.
Sekarang, jelas Tony, persoalan yang paling memberatkan adalah dolar yang terlalu kuat dan rupiah yang terlalu lemah. Ini membuat masyarakat galau, resah, dan ragu-ragu mengambil keputusan. Investor akan berpikir ulang untuk berinvestasi di Indonesia karena rupiah tidak stabil. Karena itu, jelas Tony, menteri yang baru harus bisa memberikan sentimen positif. Sebelum resufle, harapan pasar sudah mentok. Sekarang setelah adanya resufle ini, harapan tumbuh lagi dan ini momentum yang baik bagi para menteri untuk mensosialisasikan program-programnya, meyakinkan pasar dan tentu saja mempercepat program-program pemerintah seperti yang paling krusial adalah belanja APBN. Juga harus bisa mengambil kebijakan yang lebih cepat.
“Resufle inisetidaknya membuat masyarakat menilai ada upaya serius dari pemerintah untuk melakukan perbaikan. Dan, paling penting dari resufle ini adalah menteri-menteri pengganti adalah mereka yang direkrut berdasarkan kinerja. Bukan karena kepentingan politis, tapi profesionalisme. Saya berharap, Jokowi akan terus mengevaluasi para menterinya, karena masih banyak menteri yang pantas untuk diganti. Terpenting adalah resufle itu dilakukan berdasarkan kinerja dan bukan alasan lain seperti memasukkan orang partai yang tidak cakap di bidangnya”, pungkas Tony. 
RABU, 12 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Gani Khair
Lihat juga...