Pangkalan Ojek Balkot 2 Kendari : Pak Harto Presiden yang Tidak Main Slogan

KENDARI—Dipastikan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia menyambut antusias Hari Kemerdekaan RI dengan cara yang berbeda-beda. 
Tetapi salah satu cara yang bisa dikatakan seragam di seluruh Indonesia adalah menghias rumah, kantor, warung, jalanan dan tempat lainnya dengan bendera merah putih dan atribut lainnya berwarna merah putih, dan pada sebagian lokasi memberikan sentuhan khusus dalam hiasannya sesuai dengan slogan yang dicanangkan Presiden RI ke-7, Joko Widodo, yaitu Ayo Kerja!
Salah satu komunitas yang berhias diri sebagai wujud kebahagiaannya menyambut Hari Kemerdekaan adalah komunitas tukang ojek yang berada di pangkalan ojek Balkot 2 kota Kendari. Balkot 2 adalah sebuah lorong yang berada di sekitar Balai Kota Kendari, ada beberapa lorong, salah satunya adalah lorong 2 yang akhirnya lebih dikenal dengan nama Balkot 2.
Ketika Cendana News menemui para tukang ojek yang mangkal di sana pada Senin, (17/8/2015), siang, mereka nampak sedang mengisi waktu istirahat dengan bermain kartu dan menonton tayangan televisi. Ada yang menarik di pangkalan ojek ini yaitu dipasangnya gambar Pak Harto, Presiden RI ke-2 di sudut ruangan terbuka berbahan kayu tersebut.
Kepada mereka, Cendana News menanyakan tentang pilihan foto HM.Soeharto, salah satu dari mereka, yang enggan disebut namanya, menjelaskan “Pak Harto itu Pemimpin yang tidak main slogan, tapi langsung kerja nyata,” jelasnya antusias. 
Ditambahkan oleh anggota yang lain, “Dulu zaman Pak Harto tidak perlu slogan ayo kerja, karena semuanya sudah bekerja bersama untuk Indonesia walau tidak pakek slogan,” ujarnya. 
Jika pada umumnya, sapaan yang populer adalah “Piye Kabare Le, Isih Enak Zamanku To. . .?”, tapi di pangkalan ini sapaannya diganti dengan “Apa Kabar Broo. . .”, mengenai hal ini mereka menyampaikan penjelasan yang nyaris sama yaitu, “Ini kan Kendari, Sulawesi, kalau yang biasanya itu kan bahasa Jawa, ini dibuat lebih Indonesia dan gaul gitu,” lanjutnya. 
Sebelum mengakhiri perbincangan, beberapa dari mereka mengkisahkan nostalgia dimasa kecil, kalau dulu saat upacara Hari Kemerdekaan RI di Istana Negara, seluruh lapisan masyarakat di Indonesia antusias nonton melalui televisi, menunggu baris-berbaris yang gagah dan pidato sambutan Presiden. 
“TVRI kan berjasa besar untuk menyiarkan seluruh kegiatan di Istana, sehingga yang di Sulawesi pun bisa lihat, itu kan sukses namanya, karena kalau Presiden tidak menyiarkan ke Sulawesi sebenarnya bisa saja kan, tapi karena Kemerdekaan adalah milik seluruh wilayah Indonesia, maka dulu di televisi upacaranya bisa dilihat semua masyarakat,” lanjutnya sambil menyampaikan semoga Indonesia kembali menjadi negara yang berwibawa seperti dulu.
“Sekarang ini, beli baju saja mampunya beli baju bekas dari luar negeri, seperti kita ini sudah sangat miskin, sampai-sampai tak mampu beli baju baru buatan Indonesia,” tutupnya.
SENIN, 17 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Gani Khair
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...