Pedagang Bendera Keluhkan Penggusuran oleh Satpol PP

PADANG — Peringatan 17 Agustus selalu membuka lahan usaha bagi pembuat dan penjual bendera Merah Putih. Hampir di semua kota-kota besar akan dijumpai penjual bendera dengan berbagai ukuran di pinggir jalan.
Tak terkecuali di Kota Padang. Di jalan-jalan Kota Padang berjejeran penjual bendera. Namun ada hal yang unik di Kota ini, para penjual sering digusur. Meski mereka hanya berjualan dengan memakai pagar rumah warga sebagai Etalase.
Arief (28), salah seorang penjual bendera mengaku bahwa ia sering digusur oleh Satuan Polisi Pamong Praja itu. Arief yang telah berdagang bendera selama lima tahun belakangan ini mengaku heran dan merasa aneh.
“Selama lima tahun saya berjualan, baru tahun ini kena gusur. Padahal etalase saya hanya pagar rumah warga dan itupun sudah minta izin pada yang punya rumah,” ujarnya sembari menunjuk dagangannya.
Menurut Arief, para petugas sewenang-wenang dalam menggusurnya. Untuk menggelar dagangan saja, Arief butuh waktu satu setengah jam untuk memasang benderanya. Sedangkan petugas menggusur dengan mencopot paksa dagangannya.
“Kalau memang dilarang, berilah kami waktu untuk membuka benderanya dengan baik. Jangan main copot paksa saja,” kesalnya.
Bendera-bendera itu ia buat bersama keluarga. Untuk hari-hari biasanya, Arief berprofesi sebagai tukang jahit baju di Pasar Raya Kota Padang.
Ia yang sudah mulai jualan semenjak tanggal 6 Agustus ini, mengeluh. Sebab omzetnya turun drastis dari tahun sebelumnya.
“Tahun ini saya hanya memperoleh omset Rp200.000 per harinya, itu hanya memperoleh laba kotor Rp50.000. Jauh turun dari tahun-tahun sebelumnya,” lanjut Arief.
Untuk harga satu benderanya cukup terjangkau. Bendera dengan ukuran 10×30 centimeter atau bendera yang bisa dipasang pada mobil dan motor. Arief mematok harga Rp5.000 saja. Untuk ukuran 60×90 Cm dibandrol dengan harga Rp20.000. Sedangkan untuk bendera ukuran besar, ia menjual dengan harga Rp35.000 per meternya.
SABTU, 15 Agustus 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...