Pedagang dan Konsumen Keluhkan Masih Langkanya Elpiji 3 Kilogram

Operasi Pasar
LAMPUNG — Seorang konsumen pulang kembali ke rumah dengan membawa tabung elpiji ukuran 3 kilogram yang masih kosong. Mutmainah (34) mengaku, sebelumnya di mendatangi warung yang biasanya menjual elpiji tabung melon tersebut. Namun pemilik warung masih belum mendapat pasokan dari pihak distributor.
Gopar (34) sang pemilik warung mengatakan, dalam dua pekan ini kesulitan memperoleh tabung elpiji ukuran 3 kilogram yang dipergunakan oleh masyarakat untuk memasak. Dan beberapa pelanggannya pun terpaksa pulang dan membeli ke daerah lain yang juga kosong pasokan.
Tak hanya langka, harga jual tabung ukuran 3 kilogram tersebut bahkan yang awalnya di tingkat konsumen mencapai Rp25ribu saat ini bisa mencapai Rp29ribu hingga Rp30ribu.
“Saya juga mendapat jawaban dari distributor stok lagi kosong sehingga tidak menjual tabung elpiji 3 kilogram meski konsumen selalu menanyakan kenapa tak ada persediaan,”ungkap Gopar kepada Cendana News, Jumat (07/08/2015).
Harga gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram yang langka dan mahal tersebut telah membuat banyak pihak dirugikan terutama masyarakat. Bahkan kelangkaan tersebut membuat masyarakat berspekulasi ada permainan terkait kelangkaan gas tersebut.
Salah satu warga pemilik warung makan di Kalianda Lampung Selatan, Jauhari (45) bahkan menyebutkan sulit memperoleh bahan bakar untuk memasak tersebut. Ia bahkan harus rela merogoh kocek lebih dalam akibat penjual seenaknya mematok harga akibat ketersediaan tabung elpiji yang langka tersebut.
“Berapapun dijual terpaksa dibeli sebab kalau tidak beli saya tidak bisa memasak untuk berjualan bahkan dari harganya Rp.25ribu harga hingga Rp.29 ribu pun saya beli,”keluhnya.
Dia menduga adanya permainan harga dari tingkat pedagang diwilayah Kota Kalianda. Karena, di kabupaten lain seperti Pringsewu dan Kota Metro harga gas elpiji 3 kilogram masih stabil, hanya sekitar Rp18 ribu per tabung.
“Kenapa di Kalianda harganya bisa semahal ini. Kami selaku pedagang kecil sangat keberatan. Kami harap pemerintah jangan diam saja. Operasi pasar tidak menyelesaikan masalah. Karena yang beli kebanyakan dari kalangan pengecer yang mereka jual lagi,”tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pasar dan Perdagangan Lamsel, Sri Hartati saat dikonfirmasi berjanji secepatnya akan berkoordinasi dengan pihak distributor untuk mengantisipasi permasalahan tersebut. Mereka menilai, kelangkaan dan melambungnya harga disebabkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Kami akan berkoordinasi dengan distributor yang ada di Lamsel untuk upaya menenakan harga tersebut. Kami tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan harga, namun kami akan berkoordinasi dengan pihak Hiswanamigas selaku yang memang berwenang,”kata Sri Hartati.
Disebutkan, pihaknya sudah menghubungi Hiswanamigas untuk menggelar OP gas. Rencananya besok akan digelar OP di Kecamatan Kalianda, Way Panji dan Sidomulyo. Untuk kuotanya sebanyak 560 tabung per kecamatan.
“Kami juga akan mengagendakan Operasi Pasar gas elpiji ukuran 3 kilogram di tiga titik,”sebutnya. 
Pelaksanaan operasi pasar yang tak merata pun disangsikan oleh beberapa warga. Warga mengaku dengan tanpa adanya sistem kupon banyak “joki” yang membeli tabung elpiji ukuran 3 kilogram untuk dijual kembali.
“Kita kan tidak tahu banyak yang membeli tapi tidak memakai identitas nah sebaiknya seperti tahun lalu membeli menggunakan Kartu keluarga sehingga tidak ada permainan atau warga yang membeli untuk dijual lagi,”ungkap Suminah salah satu warga di Way Panji.
Pantauan Cendana News, sistem penjualan dalam operasi pasar murah elpiji masih dengan menggunakan sistem bebas di mana siapapun bisa membeli dengan harga kisaran Rp15ribu pertabung. Sementara beberapa mengaku membeli untuk dijual kembali dengan harga lebih mahal. Tidak adanya peraturan untuk menggunakan kartu keluarga atau KTP membuat penjualan tidak tepat sasaran.

JUMAT, 07 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...