Pemuda ini Peroleh Uang Saku dari Berkebun Sayur Organik di Lahan Desa

LAMPUNG — Beberapa tanaman sayur mayur terlihat menghijau. Beberapa sedang ditanam dan tumbuh dengan subur setelah disemai. Sementara beberapa jenis sayuran lain bahkan siap dipanen. Beberapa tanaman sayuran yang ditanam diantaranaya, cabai rawit, kemangi, terong, sawi, pepaya, bayam, tomat, kangkung, bayam merah, serta beberapa tanaman lain, diantaranya pisang serta tanaman singkong yang berfungsi sebagai pagar. Dengan lahan minim dapat memberikan hasil maksimal di tangan Rahman, warga Dusun Jatisari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
Pemuda berusia sekitar 23 tahun ini sebetulnya memiliki keahlian sebagai mekanik dan bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel di pasar tradisional Pasuruan. Pekerjaan menjadi mekanik yang diawalinya dari pukul 8:00 WIB dan selesai sekitar pukul 15:00 WIB tersebut dilakoninya sebagai pekerjaan tetap. Namun setiap pagi semenjak pukul 05:30 WIB pemuda ini sudah berada di lahan kecil yang menjadi tempatnya menanam sayur mayur.
Lahan kecil yang dimaksud bukanlah lahan milik pemuda ini maupun milik keluarganya. lahan ini merupakan bagian dari lahan “bengkok” (Jawa: lahan garapan yang menjadi milik desa dan menjadi garapan pejabat kepala desa yang menjabat). Lahan sempit tersebut sebetulnya hanya lahan kecil dari sekitar puluhan hektar lahan bengkok milik Desa Pasuruan yang diantaranya sawah, lahan bangunan serta beberapa lahan lain.
Setelah mendapat restu dari sang kepala desa untuk memanfaatkan lahan kecil tersebut dengan ukuran sekitar 10×20 meter, setiap pagi hari dan sore hari ia bergumul dengan tanah, pupuk kandang serta mencangkul lahan tersebut untuk ditanami dengan berbagai jenis sayuran. Bersama sama ayah, Slamet (45) sehari hari ia terus menekuni pertanian organik yang saat ini terlihat subur tersebut.
“Sebelum berangkat ke bengkel saya menyiapkan guludan untuk ditanami, memupuk atau menyiram sayuran yang saya tanam, setelah itu saya berangkat kerja sebagai mekanik di sebuah bengkel namun kalau hari Minggu saya libur di bengkel,”ungkap Rahman saat berbincang dengan Cendana News di kebun kecil tersebut Minggu (30/8/2015).
Bermodalkan sekitar Rp.100 ribu untuk membeli bibit sawi, kangkung, bayam ia mulai menanami lahan tanah bengkok tersebut sekitar tahun 2012. Awalnya lahan yang ditanaminya adalaha tanah gersang yang setiap hari menjadi tempat untuk menggembala kambing dan kerbau. Namun berkat ketekunannya dengan membuat sistem pupuk kandang dan kompos, lahan yang semula gersang tersebut busa ditanami berbagi jenis sayur mayur yang bisa dijual di warung.
“Kebetulan ibu saya membuka warung dan selain dijual diwarung milik saya biasanya pembeli datang langsung ke sini untuk mencabut sendiri sawi atau kangkung serta bayam yang dibelinya,”ungkap Rahman.
Rahman mengaku meskipun sudah memperoleh penghasilan cukup lumayan dari pekerjaannya sebagai mekanik namun ia mengaku berkebun sayur organik yang dilakukannya untuk menambah uang jajan baginya serta sang adik. Pembeli merasa lebih menyukai membeli syur yang ditanam oleh Rahman dan sang ayah karena tanaman sayur tersebut tidak pernah menggunakan zat kimia dalam perawatannya.
“Saya selalu rajin memeriksa kalau ada hama pengganggu jenis ulat atau belalang tapi tidak pernah menyemprot menggunakan zat kimia,”terangnya.
Berkat ketekunannya tersebut dalam seminggu ia memgaku bisa memperoleh uang ratusan ribu dari berkebun tanaman sayur organik. Setiap ikat sayuran yang sudah dibersihkan dijual dengan harga Rp3.000,- perikat untuk sawi, bayam maupun kangkung. Lahan sempit yang berada dekat dengan aliran sungai kecil tersebut membuatnya tidak mengalami kesulitan saat harus menyirami tanaman sayur miliknya pagi dan sore hari.
Saat hari Minggu seperti ini Rahman mengaku bisa lebih lama berada di kebun tersebut dan digunakan untuk menyiapkan lahan baru. Umur tanaman syuran yang ditaman olehnya bahkan rata rata tidak lebih dari satu bulan sehingga setiap panen lahan bekasnya langsung digunakan untuk menanam tanaman baru. Sirkulasi tersebut membuat lahan miliknya selalu berganti dan terus menerus ditanami dengan berbagai jenis sayuran.
“Tanaman jenis bayam merah dan kangkung selalu menjadi favorit terutama oleh warga sekitar namun juga terkadang di beli oleh pemilik restoran yang menyediakan menu cah kangkung,”ungkapnya.
Sebagai seorang pemuda di desanya, Rahman mengaku menabung dari uang hasil penjualan sayur di lahan tersebut tanpa kuatir harus menyewa lahan. Sebab lahan kecil tersebut boleh dikelola olehnya tanpa harus membayar uang sewa, berbeda dengan lahan sawah tanah bengkok lainnya yang mencapai hektaran, bagi warga yang ingin menggarap harus membayar uang sewa.
Berkat ketekunannya sebagai mekanik dan bekerja sambilan menjadi penanam sayur ia mengaku bisa membeli kendaraan roda dua yang diidam-idamkannya. Ia juga mengaku bisa membantu memberi uang saku serta membayar uang sekolah adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Rahman yang mengaku hanya tamat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) otomotif ini mengaku jika ia memiliki lahan luas dirinya ingin berkebun sayur organik untuk dikirim ke pasar di daerahnya agar penggunaan pestisida atau zat kimia bisa dikurangi. Ia berharap sistem pertanian organik bisa dicontoh oleh warga lain.

MINGGU, 30 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...