Pengemudi Resah Terkait Ketidakjelasan Nasib Bemo di DKI

JAKARTA — Tahun 1997, mulai beroperasi Angkutan Pengganti Bemo (APB) di daerah Olimo. Karena tidak ada komunikasi terlebih dahulu dari Pemerintah kala itu maka 150 supir Bemo Olimo-Mangga Besar berunjuk rasa di Jalan Kartini yang berakhir ricuh dengan jatuhnya banyak korban cedera dari pengemudi Bemo.
Untuk menghindari jatuhnya korban lebih besar, Dandim 0501 Jakarta Pusat kala itu Letkol Inf. Moeldoko (sekarang Jenderal Moeldoko-Panglima TNI) melerai dengan memprakarsai mediasi yang akhirnya membuat Bemo harus berbagi trayek dengan APB.
Kisah ini diceritakan Didi Junaedi koordinator Paguyuban Bemo Jakarta (PBJ) karena hingga saat ini belum ada kepastian dari Pemprov DKI apakah melikuidasi Bemo atau tidak.

“Kembali saya teringat saat era Gubernur Fauzi Bowo, dimana kami tidak pernah diberi kabar jelas lalu tiba-tiba pasukan razia Bemo dari pemprov datang mengangkut sekitar 30 unit Bemo secara paksa tanpa ada penggantian,” cerita Didi kepada Cendana News di pangkalan Bemo Olimo, Jakarta Pusat.
Paguyuban Bemo Jakarta sudah memberi beberapa usulan mengenai solusi nasib Bemo sejak era Gubernur DKI Joko Widodo atau akrab di sapa Jokowi. Diantaranya adalah :
1, Mengajukan sekaligus mendemonstrasikan kendaraan pengganti Bemo bernama Bio Bemo yang berbahan bakar Gas atau bertenaga listrik, dengan estimasi produksi awal sebanyak 80 unit untuk ujicoba.
2, Menjadikan Bemo sebagai angkutan cagar budaya yang dilestarikan dengan memberikan trayek khusus bagi Bemo untuk melayani kebutuhan transportasi masyarakat.
3, Menjadikan Bemo sebagai kendaraan Feeder/pengumpan tarif gratis bagi para penumpang Trans Jakarta sekaligus kendaraan angkutan umum legendaris yang dilestarikan, dimana Pemprov bisa menggaji bulanan para pengemudi Bemo sebagai kompensasi mereka menjadi feeder.
Namun Jokowi hanya memberi janji-janji akan menindaklanjuti saja tanpa realisasi hingga saat sudah menjadi Presiden sekarang ini. Bahkan saat ini Pemprov di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau akrab di sapa Ahok juga belum memberikan sinyalemen terkait solusi Bemo. Keadaan ini membuat para pengemudi Bemo yang tergabung dalam PBJ khawatir dengan masa depan Bemo di Jakarta.
“Ada sekitar 700-an Bemo di Kota Jakarta yang antara lain tersebar di daerah Olimo, Mangga dua, Buaran, Benhil Karet, Tanahabang,  Grogol latumenten, dan Pasar Baru. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak pengemudi Bemo berikut keluarganya yang menderita jika tiba-tiba Bemo dihapuskan tanpa ada dialog untuk solusi,” Didi kembali memaparkan.
Sekali lagi Pemerintah tidak peka dalam memberikan solusi bagi rakyatnya. Padahal jika ditarik benang merah keinginan, maka para pengemudi Bemo hanya menginginkan agar mereka tetap ada mata pencaharian setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka masing-masing di rumah.
Jika ada yang mengatakan baik itu pemerintah, media, atau siapapun bahwa Bemo sudah tidak diminati masyarakat, maka silakan datang dan saksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana aktifitas Bemo di salah satu Pangkalan Bemo Olimo tepat didekat Halte Busway Olimo Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.

JUMAT, 28 Agustus 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...