Pengrajin Tingkatkan Produksi Batu Bata di Musim Kemarau

YOGYAKARTA — Musim kemarau tidak selalu membuat warga resah, terutama bagi para pengrajin batu bata di desa Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Pekerjaan yang sangat mengandalkan terik matahari untuk proses pengeringannya, membuat musim kemarau ini sangat mendukung. Ditambah jumlah permintaan cenderung meningkat. Bak gayung bersambut, musim kemarau dan pengrajin batu bata merah berjalan seiring harmonis simbiosis. 
Musim kemarau panjang membuat produksi batu bata merah bisa maksimal. Hasil produksi naik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Selain bisa memenuhi permintaan untuk saat sekarang, produksi melimpah bisa disimpan untuk persediaan di musim penghujan, dimana harga batu bata merah bisa melonjak tajam. 
Ini karena di musim penghujan para pengrajin batu bata merah tidak bisa berproduksi maksimal, bahkan sebagian besar di antaranya memilih beralih profesi untuk sementara waktu.
Sakiran
Sakiran (55), salah seorang pengrajin batu bata merah di desa Madurejo saat ditemui di tempat kerjanya, Minggu (16/08/2015) pagi mengatakan, setiap musim kemarau ia akan lebih memilih memanfaatkan lahan sawahnya untuk membuat batu bata merah. Ketimbang untuk menanam tanaman kebun seperti sayuran atau palawija, membuat batu bata merah di musim kemarau lebih menguntungkan secara ekonomis. Menurutnya, perkerjaan tersebut akan lebih cepat mendapatkan uang.
Dijelaskan Sakiran, jika menanam sayuran dibutuhkan waktu dua tiga bulan untuk panen, membuat batu bata merah hanya membutuhkan waktu sekitar 5-7 hari. Sehingga dalam waktu seminggu ia sudah bisa mendapatkan hasil. Lagi pula, membuat batu bata merah pun caranya cukup mudah. Tanah liat yang sudah dibersihkan dari kotoran dihaluskan dengan cara manual. Dicangkul dan diinjak-injak sampai halus, lalu dicampur dengan abu bekas pembakaran sekam padi dengan perbandingan 1 banding 3.
Setelah itu, tanah liat yang sudah kental dan kenyal digelar di hamparan tanah yang rata dan bersih, untuk kemudian dicetak menjadi kotak persegi. Sesudah dicetak itu batu bata dibiarkan sampai kering. Sesudah kering, hasil cetakan batu bata dirapikan untuk kemudian dibakar. “Cara pembuatan batu bata di sini masih tradisional. Batu bata dibakar dengan menggunakan sekam padi selama 3 hari atau lebih lama tergantung banyaknya batu bata”, katanya.
Dengan kondisi musim kemarau yang diperkirakan akan lama berlangsung, Sakiran pun mengaku lebih senang, karena membuat batu bata menjadi lebih cepat dan mudah. Sementara di musim kemarau ini, para pemborong yang biasa menggunakan batako akan beralih ke batu bata karena harganya sedikit lebih murah. Kendati harganya lebih murah, namun dengan jumlah yang banyak dan cepat laku Sakiran tetap merasa lebih untung jika membuat batu bata di musim kemarau.
“Kalau di musim penghujan, harga batu bata memang bisa lebih mahal. Tapi, jumlah permintaan juga sedikit karena proyek pembangunan seringkali dihentikan karena hujan. Jadi, sama saja. Harga naik, tapi penjualannya seret”, cetusnya.
Dengan berbagai hitungan ekonomis itulah, Sakiran dan sejumlah warga lainnya lebih memilih untuk membuat batu bata ketimbang memanfaatkan lahannya untuk menaman palawija. Selain membutuhkan pupuk, menanam sayuran atau palawija di musim kemarau juga rawan gagal panen akibat minimnya sumber air. 
“Membuat batu bata di musim kemarau tetap lebih menguntungkan. Dengan harga Rp 500.000-600.000 perseribu batu bata, penghasilan kami lebih terjamin dan mencukupi”, pungkasnya.
MINGGU, 16 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...