Penjual Bubur Cendol Keliling Banjir Rezeki di Musim Kemarau

LAMPUNG — Musim kemarau yang mengakibatkan hawa panas di beberapa wilayah di Indonesia tidak hanya berdampak negatif, namun juga positif. Seperti yang dirasakan oleh salah satu pengrajin sekaligus pedagang minuman bubur cendol. Hawa panas yang menimbulkan rasa haus membuat penjualan minuman yang disajikan dengan es menjadi pilihan. 
Mang Usman (40) yang setiap hari mendorong gerobaknya tersebut terlihat mangkal di perempatan kompleks pasar tradisional Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Lelaki asal Garut Jawa Barat ini mengaku sudah berjualan es cendol semenjak 10 tahun lalu dengan menggunakan gerobak dorong beroda sepeda tersebut.
“Saya sudah lama jualan cendol dari beberapa daerah terus pindah ke daerah lain sambil melihat peluang yang ada jika belum banyak usaha sejenis,”ungkap Mang Usman kepada Cendana News sambil melayani pembeli di bilangan Pasuruan Sabtu (8/8/2015).
Disebutkan, sudah setahun ini dia pindah ke Lampung Selatan dan mengontrak di sebuah desa yang jauhnya sekitar 2 kilometer dari lokasinya berjualan. Setiap hari ia dibantu sang isteri dalam membuat bubur cendol tersebut di rumah kontrakan. Sekitar pukul 08:00 WIB ia mulai berkeliling di jalan jalan dengan mendorong gerobak.
Gerobak warna biru laut dengan beberapa toples berisi bahan racikan es bubur cendol disiapkan, diantaranya toples berisi bubur sumsum warna hijau, mutiara dari tepung kanji warna warni, air gula merah, santan putih kelapa serta es batu yang dimasukkan dalam termos.
Berjualan keliling bubur cendol dilakoninya meski terkadang ia tak meraup keuntungan yang berarti terutama ketika musim hujan. Mang Usman mengaku pernah hanya membawa pulang sekitar Rp30ribu hingga Rp40ribu. 
“Kalau musim hujan kurang pembeli tapi kalau musim panas atau kemarau seperti ini berdasarkan pengalaman sih banyak yang membeli cendol saya,”ujar lelaki berbadan kurus yang memakai baju lengan panjang biru telur bebek tersebut.
Dagangan cendol miliknya pun akan laris saat pasar tradisional Desa Pasuruan melakukan aktifitas yang terjadi setiap hari Selasa, Jumat dan Minggu. Meski hanya mangkal di sekitar pasar biasanya cendol miliknya dibeli dalam jumlah besar sebagai pelengkap jajanan pasar bagi kaum ibu yang ke pasar. Dalam sehari jika jualan miliknya habis Mang Usman mengaku bisa membawa pulang uang ratusan ribu sementara jika tidak habis hanya membawa pulang puluhan ribu rupiah.
Menyadari rata rata pembeli cendol miliknya sebagian besar anak anak ia mengaku menjual cendol miliknya dengan harga Rp1000 untuk satu bungkus plastik kecil atau Rp2000 hingga Rp3000 menggunakan gelas plastik. Harga yang terjangkau tersebut diberikan sebab ia mengaku lebih banyak mangkal di dekat Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Meski hanya berjualan cendol keliling Mang Usman yang mengaku menikah sejak umur 19 tahun ini sudah bisa menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMA, sementara itu dua anak lainnya masih bersekolah di SMP dan SD di daerah Garut. Ia mengaku selalu menabung dan menyisihkan uang hasil penjualannya untuk dikirim ke kampung halamannya dimana anak anak dititipkan kepada sang nenek.
“Musim panas ini dagangan saya alhamdulilah selalu laris mungkin karena cuaca panas banget sehingga saat haus cendol saya jadi pilihan,”ungkapnya.
Ia pun mengaku bersyukur terutama jika ada kegiatan olahraga anak anak sekolah atau instansi sehingga setelah olahraga di lapangan banyak yang membeli cendol hingga ia kewalahan. Hawa panas yang membawa rasa haus membuat es cendol jadi pilihan. Ke depan ia pun berharap dengan akan adanya HUT RI ke-70 banyak kegiatan massal yang menjadi magnet bagi berkumpulnya banyak orang.
“Kalau ada lomba lomba atau upacara tujuh belasan kan biasanya saya mangkal di dekat lapangan berjualan habis itu ada lomba lomba dagangan saya cepat habis kalau lihat pengalaman tahun sebelumnya,” kenangnya.
Meski harus berjalan terkadang sekitar puluhan kilometer sambil mendorong gerobak serta hanya dinaungi payung dan topi, Mang Usman bersyukur bisa mencari uang dengan cara yang halal. Ia menyadari meski musim kemarau namun menjadi berkah tersendiri baginya meski bagi pihak lain kemarau merupakan masa yang berat terutama bagi petani. Ia meyadari akan keadilan Tuhan yang telah berpihak kepadanya diantaranya memberi musim kemarau panjang yang memebri keuntungan baginya dalam berjualan es cendol.

SABTU, 08 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...