Pentingnya Mencerahkan Praktek Perdagangan Manusia untuk Masyarakat Pedesaan

KONAWE—Kejahatan perdagangan manusia (Human Trafficking) yang sering terjadi mendorong “Sulawesi Tenggara Monitoring Democrazy” untuk mengajak dialog warga desa tentang masalah, pola dan pemberantasan praktek perdagangan manusia.
Dialog yang diadakan di Desa Wawonggole, Kecamatan Unaha, Kabupaten Konawe ini menghadirkan tiga pembicara yaitu AKP Lilik Mustoyo, Kasat Bimas Polres Konawe mewakili Kepolisian, Dr. Haslita M.Si mewakili kalangan akademisi, Akriman S.Sos mewakili Dinas Sosial Kabupaten Konawe. 
“Saya sangat bahagia karena masyarakat di Desa Wawonggole sangat antusias dengan acara ini, semua kursi yang kami sediakan tidak ada yang kosong,” jelas Rochman, salah satu penanggung jawab acara. 
Salah satu hal yang membanggakan dari acara ini adalah, walaupun Desa Wawonggole jaraknya 90 km dari kota Kendari tetapi banyak mahasiswa yang berpartisipasi pada acara ini. “Masalah perdagangan manusia memang sudah seharusnya menjadi kepedulian semua kalangan termasuk mahasiswa,” ujar Dr. Haslita. 
Pada sesi tanya jawab bisa diketahui bahwa masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman terbatas tentang perdagangan manusia. Ketika disampaikan pola yang berpotensi terjadinya praktek perdagangan manusia, salah satu peserta menyampaikan bahwa ia baru tahu jika human trafficking juga bisa terjadi didalam negri, dalam pemahamannya selama ini, perdagangan manusia hanya dialami oleh para TKW yang bekerja di luar negeri.
“Saya pikir trafficking itu TKW yang mau ke luar negeri tapi disekap, tidak jadi berangkat,” ujar salah satu peserta. Sementara peserta yang lain menyampaikan, pemahamannya selama ini tentang trafficking itu apabila TKW yang seharusnya bekerja sebagai pembantu tetapi dijadikan perempuan penghibur.
Merespon apa yang disampaikan oleh beberapa peserta yang hadir, AKP Lilik Mustoyo menyampaikan bahwa praktek perdagangan manusia bisa terjadi disekitar kita, tidak hanya diluar negeri. Ia melanjutkan tentang perlunya masyarakat berhati-hati jika ada perekrutan tenaga kerja yang seringkali masuk ke desa-desa, dengan dalih mencarikan pekerjaan di kota sebagai pembantu atau penjaga toko, tetapi ternyata setelah sampai di kota, dijadikan pekerja sex. 
Dipekerjakan sebagai pembantu atau penjaga toko pun belum tentu tidak terjadi praktek perdagangan manusia, jika tidak diberikan haknya yang layak maka itu sama dengan perbudakan, dan perbudakan adalah bagian dari perdagangan manusia, demikian juga dengan jual beli organ tubuh manusia, jelas Dr. Haslita. 
Selanjutnya, peserta dicerahkan tentang berartinya peran masyarakat dalam membantu kepolisian untuk meringkus pelaku perdagangan manusia. Kepercayaan masyarakat bahwa polisi adalah pelindung masyarakat dan sahabat untuk mengadu jika ada pelanggaran hukum terjadi disekitarnya, merupakan modal awal terjalinnya sinergi yang harmonis antara masyarakat dan kepolisian. Diharapkan dengan adanya acara ini masyarakat jadi tahu tentang pola dan masalah perdagangan manusia. “Kalau masyarakat tidak tahu tentang apa itu perdagangan manusia, mana mungkin bisa mengadu, jadi masyarakat harus tahu, selanjutnya jangan takut mengadu,” tutup AKP. Lilik Mustoyo
.
Selain mencerahkan tentang peran Dinas Sosial dalam menolong korban perdagangan manusia, Akriman juga menghimbau agar informasi yang didapatkan di balai desa ini disebarkan kepada teman, keluarga dan saudara agar semakin banyak yang tahu tentang apa itu perdagangan manusia. 
Masyarakat di pedesaan sangat penting mengetahui masalah perdagangan manusia, karena penduduk desa seringkali jadi korban praktek ini. Karena salah satu penyebab suburnya praktek perdagangan manusia adalah, adanya manusia tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan ketidak tahuan dan kemiskinan sebagai alasan memuluskan rencana jahatnya. 
Para peserta yang hadir, nampak sangat puas dan tercerahkan dengan adanya acara ini. Mereka menyampaikan sangat beruntung datang ke balai desa untuk ikut acara dialog ini. “Jadi tahu, dan bisa hati-hati agar tidak jadi korban,, dan juga tambah pinter,” ujar Asmita, salah satu peserta yang pernah berniat bekerja di luar negeri tetapi mengurungkan niatnya karena banyaknya berita tentang human trafficking di media.

JUM’AT, 21 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Gani Khair
Foto : Rochman 
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...