Perdagangan Ilegal Lobster Mulai Terjadi Pasca Penetapan Permen KP

MATARAM — Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Mataram, Edi Sutanta mengatakan, dari delapan Kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) dan Kabupaten Lombok Timur (Lotim) merupakan Kabupaten yang banyak terdapat lobster.
“Selama ini kedua Kabupaten tersebut termasuk kabupaten yang banyak terdapat lobster dan menjadi sentral budidaya lobster di NTB, tidak heran ketika peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan tentang larangan melakukan penangkapan dan penjualan lobster yang beratnya di bawah 200 gram, lansung mendapat reaksi keras dari masyarakat kedua Kabupaten tersebut,” kata Edi di Mataram, Selasa (11/8/2015).
Menurutnya, karena sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat pesisir pantai yang kesehariannya sebagai nelayan, selain mengandalkan penghidupan dari melaut, juga banyak dari hasil penangkapan lobster dalam ukuran besar dan kecil, sekarang dengan adanya aturan tersebut, banyak masyarakat nelayan yang mengaku kehilangan sumber pendapatan.
Disebutkan, karena adanya peraturan dan kebutuhan menjadikan perdagangan lobster di bawah 200 gram dilakukan secara sembunyi atau ilegal. Hasil penangkapan puluhan ribu bibit lobster oleh aparat kepolisian bersama Balai Karantina Ikan Mataram, juga berasal dari sana, yang dibeli dari masyarakat nelayan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dengan harga di kisaran 16 sampai 20 ribu satu bungkus bibit lobster berukuran kecil.
“Penjualan para nelayan dilakukan secara sembunyi ke pengepul yang kemudian biasanya akan diekspor ke negara Vietnam yang selama ini banyak memesan. Hal tersebut diketahu dari hasil pemeriksaan dan penangkapan terhadap para pelaku penjualan ilegal,” katanya
Lebih lanjut Edi Juga mengatakan, cara pengiriman oleh para pelaku penadah bibit lobster sekarang ini juga sudah cukup canggih, kalau biasanya pakai air, tapi ini sudah pakai spon, di mana bibit lobster ilegal yang hendak dijual mampu bertahan sampai 24 jam
SELASA, 11 Agustus 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...