Petani Gelar Upacara Adat Wiwit Jelang Panen Raya Padi

YOGYAKARTA — Di tengah menyusutnya sumber air akibat musim kemarau panjang, ratusan petani di desa Sidomulyo, Godean, Sleman, Yogyakarta justru merayakan musim panen raya padi. Tradisi itu disebut wiwit dengan melibatkan semua petani dan perangkat desa setempat.
Selasa (18/08/2015) pagi, ratusan pertani di desa Sidomulyo menggelar upcara adat mengawali musim panen raya padi, wiwit. Tradisi nenek moyang menjelang musim panen ini diadakan sebagai simbol ucap syukur atas berkah panen melimpah. Wiwit yang pada tradisi aslinya hanya dilakukan perorangan dengan acara doa dan persembahan sesaji di sawah yang akan dipanen, namun pada gelaran upacara adat wiwit Desa Sidomulyo diadakan serempak.
Acara dimulai sejak pagi sekitar pukul 07.00 wib, dengan prosesi pemotongan padi yang kemudian dibuat menjadi gunungan. Diiring pasukan tradisional dan barisan solawatan, gunungan padi kemudian diarak menuju Balai Desa Sidomulyo.
Masyarakat pun berjubel di sepanjang rute kirab. Lalu, setiba di Balai Desa Suidomulyo upacara adat wiwit diakhiri dengan doa bersama dan makan bersama yang disebut kembul bujana. Makan bersama atau kembul bujana ini merupakan simbol kebersamaan dan kegotong-royangan di antara petani dan masyarakat luas.
Ratjikan, koordinator acara mengatakan, upacara adat wiwit selalu diadakan setiap tahun sebagai simbol ucap syukur atas berkah panen yang baik. Wiwit dalam skala besar melibatkan 600-an petani di desa setempat itu, diadakan oleh Gapoktan, Gabungan Kelompok Pertanian Sidomulyo. Hadir dalam upacara adat itu, sejumlah perangkat desa setempat dan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Widi Sutikno  mengatakan, upacara adat wiwit ini merupakan budaya leluhur yang perlu dilestarikan dan diagendakan setiap tahun. Terlebih di desa Sidomulyo ini, karena Gapoktan Sidomulyo merupakan kelompok pertanian terbaik di Kabupaten Sleman. Bahkan, kata Widi, setiap tahunnya Gapoktan Sidomulyo selalu mendapatkan prestasi terbaik. 
“Penyuluhnya pun mendapatkan penghargaan sebagai penyuluh swadaya terbaik tingkat provinsi”, ujar Widi.
Sementara itu, Jumeni, Ketua Gapoktan Sidomulyo mengatakan, upacara adat wiwit ini selalu diprakarsai oleh Gapoktan. Dengan anggota sebanyak 604 Kepala Keluarga terdiri dari 6 kelompok pertanian, Gapoktan Sidomulyo mampu menghasilkan padi sebanyak 6,5 Ton per Hektar sawah. 
Jumeni yang juga merupakan penyuluh swadaya terbaik tingkat nasional tahun 2015 ini menjelaskan, dengan teknik tanam padi jajar legowo, anggota kelompoknya mampu meningkatkan hasil panen. Kendati saat ini hama tikus masih menjadi ancaman terbesar, namun dengan peran kekompakan sesama anggota, hama tikus bisa dikendalikan.
Sementara itu berkait pemasarannya, Jumeni mengatakan tidak menjadi persoalan. Pasalnya, Gapoktan Sidomulyo telah membuat kesepakatan harga dengan pembeli, sehingga harga jual tetap stabil. Karena itu, katanya, Gapoktan Sidomulyo selalu menjadi tujuan studi banding kelompok pertanian se-Indonesia. 
“Itu karena Gapoktan Sidomulyo selalu mendapat prestasi terbaik di bidang pertanian setiap tahunnya. Bahkan, untuk pengelolaan Lembaga Pengelolaan Distribusi Pangan Masyarakat (LPDM), kita meraih juara tingkat nasional pada tahun 2011. Padahal, LPDM ini merupakan unit kerja gapoktan yang paling sulit dikelola”, ungkap Jumeni.

SELASA, 18 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...