Peternak di Lampung Belum Manfaatkan Tekhnologi Agrobisnis

LAMPUNG — Petani pembudidaya ternak ruminansia (sapi,kambing,kerbau) di Provinsi Lampung masih didominasi dengan cara tradisional dan berorientasi untuk usaha sampingan disamping pertanian sebagai usaha pokok.
Namun, besarnya potensi pertanian yang dapat mengembangkan usaha peternakan berbasis agrobisnis masih belum dimanfaatkan secara maksimal masyarakat di Kecamatan Penengahan. Hal tersebut diakui oleh Camat Kecamatan, Penengahan Lukman Hakim. 
Menurutnya, dari beberapa wilayah pedesaan petani yang sekaligus menjadi peternak masih memelihara ternak sekedar untuk memenuhi kebutuhan mendadak yang akan digunakan dalam jangka panjang. Padahal potensi pakan di wilayah Kecamatan Penengahan masih cukup melimpah, bahkan disaat musim kemarau masih berlangsung.
“Rata rata keluarga petani memiliki beberapa ekor hewan ternak seperti kambing, sapi, kerbau yang masih dikembangkan dengan cara tradisional baik dari segi pemberian pakan maupun kandang,”ungkap Lukman Hakim kepada Cendana News, Jumat (07/08/2015).
Lukman Hakim menyebutkan, secara tekhnis pihak kecamatan telah bekerjasama dengan dinas terkait khususnya peternakan untuk pemberian penyuluhan sistem peternakan yang lebih bagus. Namun berdasarkan pengalaman, masih banyak peternak yang belum mendapatkan ilmu terkait sistem peternakan yang lebih modern terutama untuk pengolahan pakan.
“Pernah ada penyuluhan namun sepertinya belum ada sharing ilmu dengan peternak lain sehingga pemahaman keilmuannya belum merata bagi peternak lain,”ungkapnya.
Ia mengatakan, selama ini petani peternak masih direpotkan dengan mencari rumput segar setiap hari. Bahkan petani yang memelihara ternak lebih dari 3 ekor atau kambing lebih dari 5 ekor direpotkan dengan waktu mencari rumput. 
“Belum banyak yang menyiapkan stok pakan dengan memanfaatkan tekhnologi sehingga ini membuat efesiensi waktu kurang diperhitungkan belum lagi ketika hujan datang dan saat kemarau pun menjadi lebih repot,”ungkap Lukman Hakim.
Dia berharap agar secepatnya petani peternak di daerahnya bisa melakukan proses peternakan semi modern dengan proses silase seperti yang peternak daerah lain lakukan. 
Menurutnya, silase  merupakan pengawetan rumput dalam ruang/wadah yang tertutup rapat. Pada kondisi tertutup rapat, jasad renik tidak memiliki kemampuan untuk membusukkan rumput karena lingkungan hidupnya tidak mendukung. Sehingga rumput akan awet selama berbulan-bulan. 
“Pernah dilakukan penyuluhan namun mungkin proses itu memerlukan biaya sehingga petani tetap kembali ke sistem peternakan tradisional,”ungkap Lukman Hakim.
Sementara itu, peternak di Desa Gandri Kecamatan Penengahan, Sumini (34) mengungkapkan justru belum pernah menerapkan sistem beternak semi modern tersebut. Sehari hari ia dan sang suami Mukmin (39) memelihara sekitar 13 ekor kambing yang diberi makan dengan pakan yang setiap hari dicari oleh sang suami.
“Saya hanya merawat sementara suami mencari rumput setiap sore untuk persediaan pakan untuk persediaan hari berikutnya, kandangnya pun masih sederhana mas dari kayu”ungkap Sumini.
Ia berharap agar pihak terkait bisa memberikan penyuluhan terkait proses pembuatan pakan yang lebih modern. Namun Sumini mengaku pernah melihat di beberapa tempat sudah ada peternak yang melakukan proses pembuatan pakan secara modern tersebut.
Kambing yang dipelihara tersebut menurut Sumini merupakan persiapan untuk kebutuhan pasar yang tinggi akan hewan kurban saat hari Raya Idul Adha beberapa bulan lagi. Beberapa kambing miliknya bahkan sudah dipesan oleh pembeli ternak untuk persiapan hari raya kurban.

JUMAT, 07 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...