Polda Kaltim Sidik Dugaan Korupsi pada Proyek Bandara Paser

Konfrensi pers di Polda Kaltim
BALIKPAPAN – Polda Kalimantan Timur tengah menyelidiki kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Bandara Paser Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur. 
Dalam keterangan persnya, Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol. Fajar Setiawan mengungkapkan temuan dugaan Tipikor ini terjadi pada masa kontrak kerja pembangunan 2011-2015. Dari penyelidikan dan penyidikan terungkap kerugian APBD Kabupaten Paser  ditaksir mencapai Rp42 miliar.
“Pada 2006 Pemkab Paser merencanakan pembangunan bandara, tahun berikutnya bupati mengeluarkan SK penentuan lokasi bandara, yaitu di Desa Padang Parapat. Rencananya dibangun di atas lahan seluas 120 hektare, tapi diperluas menjadi 230 hektare. Pada 2011 ditunjuk PT LR sebagai pelaksana pembangunan bandara,” jelasnya kepada media, Kamis (13/8/2015).
Dalam Penyelidikan Fajar mengatakan, bukti-bukti sudah dikumpulkan termasuk keterangan dari saksi sebanyak 20 orang, baik dari kontraktor, konsultasi pengawas, Dinas perhubungan Kabupaten Paser, panitia lelang maupun tim ahli dari konstruksi. 
Proyek bandara Paser senilai Rp.389 miliar itu, sudah dibayarkan kepada kontraktor PT LR sebesar Rp.120 miliar atau pengajuan 9 termin pembayaran namun pekerjaan tidak tuntas sehingga dihentikan oleh pemkab Paser pada 1 Januari 2015. Selain pemanggilan saksi, pihak penyidik juga sudah terjun ke lapangan melihat lokasi.
Direktur Tipikor Polda Kaltim Kombes Pol Rosiyanto Yuda Hermawan menuturkan, saat ini belum ada penetapan tersangka. 
“Saat ini masih menunggu audit (BPK) proyek tersebut. Mungkin kedepan kita akan ketahui hasilnya,”sebutnya. 
Dari penelusuran pihaknya, ada pekerjaan yang fiktif. Semaksimal dihitung nilai pekerjaan dilapangan hanya 23 persen. 
“Jadi ada pekerjaan fiktif,  ada pekerjaan yang tidak sesuai spesikasi. Lalu juga ada pembayaran managemen kontruksi yang melebih Rp2 miliar. Disamping juga karena tanah untuk penimbunan runway diambil dari tanah lokasi sekitar pajak galian c itu tidak disetor Rp.7  miliar. Apabila ini digabungkan, maka total kerugian negara indikasi awal Rp.49,8 miliar,”terangnya. 
JUMAT, 14 Agustus 2015
Jurnalis       : Ferry Cahyanti
Foto            : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...