Polisi Buru Pelaku Pembunuhan Sadis di Pakem Sleman, Yogyakarta

Mujimuin, ayah korban di rumah duka

YOGYAKARTA — Sampai hari ini, Rabu (19/8), jajaran Kepolisian Sektor Pakem, Sleman, Yogyakarta masih memburu pelaku pembunuhan terhadap Sumarsih (33), warga desa Kemiri, Purwobinangan, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Sebelumnya, Sumarsih ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah pesanggrahan atau homestay milik warga setempat, Selasa (18/8), petang. Korban ditemukan oleh rekan kerjanya dalam kondisi tak bernyawa, terlentang di bawah pohon mahoni di halaman pesanggrahan tempatnya bekerja.   
Duka mendalam masih dirasakan Mujimin (63), ayah korban. Dia tak menyangka, jika putrinya itu nasibnya akan berakhir tragis. Sumarsih dikenal sebagai seorang ibu yang baik dan penyabar. Selama ini, ia bahkan berupaya untuk menerima suaminya, Paijan, yang sama sekali tidak bekerja alias pengangguran.
Ditemui usai pemakaman putrinya tersebut, Mujimin memaparkan, Sumarsih dan Paijan sudah lama tidak tinggal serumah. Hubungannya memang sudah lama tidak harmonis, karena Paijan tidak pernah memenuhi tanggung-jawabnya sebagai suami. Mujimin mengatakan, Paijan itu sehari-hari hanya berfoya-foya dan sering mabuk-mabukan. Bahkan, pada bulan Juli lalu, Paijan melakukan percobaan pencurian dengan kekerasan. Tetapi, aksi nekatnya itu gagal total dan membuatnya diuber-uber warga dan petugas polisi dari Polsek Pakem. “Waktu dikejar warga dan polisi itu, Paijan nekat menceburkan diri ke jurang dan mengalami luka parah”, ujar Mujimin.
Penuturan Mujimin tersebut dibenarkan oleh Kompol Sudaryanto, Kapolsek Pakem. Dikatakan, setelah aksi nekatnya itu Paijan terpaksa dirawat di RS Panti Nugoroho Pakem Sleman. Sementara itu, kasus percobaan pencurian dengan kekerasan yang dilakukannya dalam proses pemberkasan. Begitu sembuh dari sakitnya, Paijan pulang ke rumah orangtuanya di dusun Kemiri, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Selama dalam masa penyembuhan itu, Paijan dalam pengawasan Polsek Pakem.
Sampai kemudian terjadi kasus pembunuhan yang menimpa Sumarsih, lalu tiba-tiba Paijan menghilang tanpa jejak. Warga pun lalu menduga Paijan sebagai pelaku pembunuhan terhadap Sumarsih yang tak lain adalah istrinya sendiri. Dugaan sejumlah warga desa itu, menurut Mujimin, cukup beralasan. Pasalnya meski sudah pisah ranjang beberapa lama, Paijan masih sering mencegat Sumarsih ketika hendak berangkat bekerja. Paijan sering mengajaknya berbincang, dan suatu hari Mujimin tahu jika dalam perbincangan itu Paijan ingin rujuk. “Paijan masih menyimpan harapan bisa rujuk, tapi anak saya sudah tidak mau. Mungkin karena jengkel tidak diterima lagi itu kemudian Paijan nekat membunuh anak saya”, kata Mujimin.
Kendati kecurigaan warga tampak beralasan, namun polisi belum menentukan seorang pun tersangka. Kompol Sudaryanto menngatakan, sejauh ini pihaknya masih dalam proses pengembangan dan penyelidikan. Belum ada satu pun alat bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) yang bisa menunjukkan identitas pelaku. “Karena itu, kami belum bisa menentukan siapa tersangka pelakunya”, tegasnya.
Korban bernama Sumarsih ditemukan pertamakali oleh rekan kerjanya, Sapto Raharjo, dalam keadaan tak bernyawa dan bersimbah darah. Berdasarkan hasil otopsi, korban meninggal akibat luka pukulan benda tumpul di bagian pelipis kiri yang menyebabkan mata kanannya mengalami pendarahan. Bagian belakang kepala korban juga mengalami luka parah akibat pukulan benda tumpul.

“Sementara itu dari kondisi jenazah, sambung Kompol Sudaryanto, korban diperkirakan sudah meninggal 24 jam sebelum ditemukan”, pungkasnya.

Kompol Sudaryanto, Kapolsek Pakem mengumpulkan informasi di rumah korban

makam korban

RABU, 19 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...