Populasi Tanaman Cengkeh di Yogyakarta Terancam Punah

YOGYAKARTA — Populasi pohon cengkeh di desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, kini semakin menyusut. Komoditas perkebunan yang membutuhkan waktu lama untuk bisa berbuah itu, kini sedang mengalami kepunahan. Lebih dari 50 persen pohon cengkeh milik warga di desa tersebut telah mati. Sementara itu, pembibitan baru yang dilakukan masih harus menunggu 10 tahun lagi untuk bisa dinikmati hasilnya.
Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman Yogyakarta, berada di kawasan lereng selatan Gunung Merapi. Pada tahun 2010 lalu, desa itu rusak parah akibat debu vulkanik dari erupsi gunung api paling aktif. Masyarakat desa di lereng Merapi yang berhawa sejuk tersebut selama ini mengandalkan hasil pertanian berupa tembakau, cengkeh, kopi dan sejumlah tanaman perkebunan lain seperti durian dan kelapa.

Dari sekian komoditas perkebunan itu, komoditi tembakau, kopi dan cengkeh menjadi yang utama. Namun, para petani di desa itu kini mulai bersiap mencari sumber penghasilan baru. Pasalnya, pohon cengkeh yang selama ini diharapkan hasilnya ternyata justru menurun drastis. Bahkan, terancam punah.

Marno Suyatno (58), petani cengkeh di dusun Gading, Glagaharjo ditemui Sabtu (22/8) mengatakan, lebih dari lima puluh persen tanaman pohon cengkehnya kini telah berkurang. Selain mati karena dampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010, sejumlah pohon cengkeh miliknya juga mati karena usia. Sementara itu, penanaman bibit baru cengkeh tahun lalu tidak maksimal. Selain karena cuaca kemarau selama beberapa tahun ini cukup panjang dan membuat sumber air minim, Marno juga mengaku kesulitan dana untuk pengadaan bibit.

Penanaman kembali bibit cengkeh yang tidak maksimal tahun lalu, kini dirasakan benar dampaknya. Hasil panen cengkeh yang seharusnya di musim kemarau ini mulai  melimpah, menjadi menurun drastis. Tahun kemarin, kata Marno, hasil panen cengkeh bisa mencapai 3-4 kwintal dari sekitar 100 pohon cengkeh yang dimiliki. Kini dengan hanya separuh pohon cengkeh yang tersisa, Marno hanya bisa mendapatkan hasil panen sebanyak kurang lebih 1 kwintal. Menurunnya jumlah panen tersebut juga masih diperparah dengan harga jual cengkeh yang kini juga menurun.

Tahun lalu, jelasnya, harga cengkeh basah bisa mencapai Rp 40.000/kilo. Sedangkan untuk harga cengkeh keringnya Rp 125.000/kilo. Sekarang, harga jual cengkeh basah hanya Rp 30.000/kilo dan cengkeh kering Rp 90.000/kilo.

Marno mengatakan, pohon cengkeh baru bisa berbuah setelah usia 8-10 tahun. Karena itu, masih sangat lama untuk menunggu hasil dari regenerasi perkebunan cengkehnya yang baru. Kini, Marno harus bertahan hidup hanya dengan hasil panen cengkeh dari sekitar 50-an batang pohon cengkehnya yang tersisa. Dengan jumlah panen sekitar 100 Kg cengkeh basah pertahun, dengan harga cengkeh basah Rp 30.000 perkilo, berarti Marno hanya memiliki penghasilan Rp 3 Juta. Jika dirata-rata perbulannya, pendapatan Marno dari hasil kebun cengkehnya hanya Rp 100.000/bulan. Untuk menambah penghasilannya, Marno selama ini juga beternak sapi dan menanam kopi.

“Bertani cengkeh sekarang ini memang susah. Sangat jauh berbeda dengan tahun 1990-an. Tahun-tahun itulah masa jaya petani cengkeh”, ungkapnya. 

SABTU, 22 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...