Program Optimasi Lahan di Satarmese Masih Terkendala Ketiadaan Pupuk

FLORES — Program Optimasi Lahan yang hendak diterapkan pemerintah pada usaha pertanian di berbagai wilayah di Indonesia tampaknya tidak semua bakal mencapai target peningkatan produktivitas yang diharapkan. Di Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, program tersebut masih terkendala masalah ketiadaan pupuk.
Salah seorang petani dari Desa Umung, Kecamatan Satarmese, Mus Wagut, yang  memiliki lahan sawah di hamparan daerah irigasi Wae Mantar I menyebutkan, hingga sejauh ini dirinya belum diberikan jatah pupuk sebagaimana yang seharusnya dari program tersebut.

“Kegiatan kami punya ini, optimasi, pak. Tapi ditunggu-tunggu pupuknya selama ini belum juga datang. Padahal sekarang tanaman padi kami sudah mau masuk usia 2 bulan,” ungkap Mus di Umung, Minggu (23/08/2015).

Mus khwatir, tanaman padinya bakal tidak bisa bertumbuh dan berkembang normal akibat tidak diberikan pupuk. “Jadinya tidak terjamin, pak. Kita sulit bicara hasil kalau masalah pemupukan saja begini. Beda pak. Untuk kami petani sawah ini, sangat beda hasilnya kalau jamin pemupukan. Padi itu tumbuhnya bukan begini kalau pakai pupuk. Karena sudah lebih dari satu bulan, pak,” tuturnya mengeluh.
Hal tersebut diakui pula oleh pihak Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK) Satarmese. Dalam konferensi persnya, Sabtu (22/08/2015), Ketua BPK Satarmese, Blasius Barung mengakui,  persoalan ketiadaan pupuk yang terjadi di Kecamatan Satarmese merupakan dampak lanjut dari masih sangat minimnya kuota alokasi jenis pupuk tertentu di tingkat kabupaten.
Pasalnya, kuota alokasi pupuk jenis NPK untuk Kabupaten Manggarai masih sangat jauh di bawah laporan kebutuhan. Tingkat kebutuhan pupuk jenis NPK untuk Kabupaten Manggarai, kata dia, seharusnya diperkirakan sekitar 4.000-an ton. Sementara itu, realisasinya bahkan masih kurang di bawah angka 2.000 ton.
Terhambatnya penerapan pola pemupukan yang baik akibat defisit alokasi pupuk ini, diakui Blasius, bisa mengancam upaya pencapaian target peningkatan produktivitas dan produksi. “Semestinya ada jenis pupuk tertentu yang dibutuhkan tanaman padi saat masih bayi, misalnya NPK. Tapi kalau itu tidak dipenuhi jelas sangat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Target yang dicapai dari program optimasi jelas sulit dicapai pula,” jelasnya.
Optimasi lahan merupakan program strategis yang dicanangkan Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Perluasan dan Lahan dalam kerjasama dengan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menuju terciptanya swasembada pangan yang berdaulat. Program optimasi lahan diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan pencapaian produktivitas per satuan luas lahan.
Pantauan Cendana News, program optimasi tampak sudah diterapkan pada banyak lahan sawah di Desa Paka, Ponggeok, Tal, Umung, Jaong dan Lolang. Akan tetapi, kondisi tanaman padi sebagian besar tidak berkembang baik akibat pola pemupukan yang tidak teratur. 
MINGGU, 23 Agustus 2015
Jurnalis       : Fonsi Econg
Foto            : Fonsi Econg
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...