Proyek Penahan Gelombang Disambut Kritikan dan Harapan Warga

LAMPUNG — Pengerjaan proyek pembuatan revetmen pantai canti lanjutan (penahan gelombang) yang bertempat di Dusun Sukabanjar Desa Canti Kecamatan Raja Basa Lampung yang bersumber dari Dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) mendapat berbagai reaksi dari warga setempat. Selain harapan besar dapat mengurangi dampak abrasi, warga juga mengkritik pengerjaan yang terkesan asal-asalan.
Masyarakat berharap proyek tersebut dikerjakan dengan baik sebab manfaatnya akan dirasakan oleh warga terutama jika pasang gelombang tak akan lagi menghantam langsung pemukiman warga.
“Kita lihat sisi positifnya dari manfaatnya karena selama ini jika gelombang tinggi mengakibatkan abrasi pantai dan jika ada penahan gelombang maka akan membantu warga,”ungkap Hamid warga Desa Canti.
Di sisi lain beberapa warga juga mempertanyakan proyek pembangunan tersebut. Berdasarkan keterangan salah satu warga lain yang enggan disebut namanya, pembangunan proyek revetmen lanjutan pantai canti banyak ditemukan kesalahan – kesalahan fatal.
Dalam pembanguan, proyek tersebut tidak sesuai dengan petunjuk pelaksana (Juklak) dan petunjuk teknis (Juknis) yang ada, mengingat banyak yang tidak dikerjakan oleh pihak kontraktor. Diantaranya menggunakan batu yang tidak standar, dan banyak ditemukan batu-batu berukuran kecil.
“Dari pengerjaannya saja banyak yang dilakukan secara asal-asalan, seperti pemasangan susunan batu yang secara asal-asalan membuat batu cepat bergerak karena dihantam ombak,”ungkapnya.
Ia pun membeberkan cara pemasangan bebatuan pihak kontraktor juga tidak dilakukan pengerukan terlebih dahulu, sehingga kekuatan susunan bebatuan pun sangat diragukan ketahanannya.
“Kami  khawatir pekerjaan yang tidak sesuai dengan RAB ini, ditakutkan ada masalah dikemudian harinya nanti,” ungkapnya.
Selain itu, ia pun mengkritisi kinerja Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung Provinsi Lampung di lokasi pengerjaan banyak batu yang menumpuk, sehingga menguntungkan pihak kontraktor tanpa harus susah mencari material bebatuan.
“Seharusnya pihak balai menyarankan agar si kontraktor menambah beberapa meter. Warga sekarang lebih kritis dalam memantau proyek yang sifatnya massal sehingga pihak kontraktor harusnya bisa mendengar sikap kritis warga,”tutupnya.
Ia dan masyarakat mengungkapkan tidak mempersoalkan adanya proyek yang akan memberi manfaat bagi warga tersebut. Namun prosedur pengerjaan yang secara kasat mata terlihat dikerjakan asal asalan dinilai hasilnya tidak maksimal.
Proyek penahan gelombang tersebut merupakan proyek yang berlokasi tak jauh dari dermaga Desa Canti yang merupakan dermaga yang digunakan wisatawa asing dan wisatawan domestik untuk menuju ke Gunung Krakatau di Selat Sunda.
Pembangunan proyek penahan gelombang atau tameng pantai itu dikerjakan sejak bulan April tahun ini oleh PT. Kusuma dengan nilai kontrak sebesar Rp. 3.980.801.000,-. Nomor Kontrak : HK.02.07SNVT/PJSAMS/PK.SPII/IV/2015 dan waktu pelaksanaan selama 180 hari.
Proyek lanjutan kali ini dikerjakan sepanjang 300 meter bersebelahan dengan dermaga tradisional desa canti dengan mengerahkan tenaga ahli sebanyak 20 orang.
“Selama proses pembangunan penahan gelombang tersebut kita kerahkan empat unit mesin excavator dan lima unit kendaraan dumptruck,”ungkap Bambang, Humas PT.Kusuma pada Senin (03/08/2015).
Bambang menjelaskan, proyek ini merupakan proyek lanjutan pada tahun 2015 ini dari proyek revetmen tahun 2014 lalu yang terletak di Dusun Sukabanjar desa setempat yang sudah diusulkan tahun lalu.
“Tameng pantai ini untuk mencegah terjadinya abrasi pantai sehingga air laut yang sebelumnya telah banyak mengikis jalan disepanjang pesisir pantai,”ungkap Bambang.
Sementara berdasarkan pantauan Cendana News, pembangunan tersebut terus berlangsung dan akan menjadi penahan gelombang perairan Selat Sunda yang pada musim musim tertentu memiliki ombak yang cukup kuat dan menghantam pantai pesisir. Gerusan gelombang tersebut diantaranya mengikis beberapa perumahan warga sehingga penahan gelombang menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi warga.

SENIN, 03 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...