Rumah Makan dan Jasa Ekspedisi, Bagaikan Dua Sisi Mata Uang

LAMPUNG — Sepanjang jalan di semua daerah di Indonesia selalu dipenuhi dengan usaha kuliner, rumah makan yang secara khusus menjadi persinggahan bagi para sopir, pengendara, penumpang yang melakukan perjalanan dengan kendaraan. Rumah makan merupakan salah satu tempat yang dicari oleh para sopir dan juga pengendara untuk beristirahat, melepas dahaga serta keperluan lain. Usaha tersebut juga terlihat banyak di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang merupakan perlintasan kendaraan jenis bus, kendaraan pribadi, truk ekspedisi. Rumah makan dan truk ekspedisi bagiakan dua sisi mata uang dalam bisnis transportasi dan kuliner.
Salah satu pemilik usaha yang menjalankan usaha rumah makan diantaranya Maryadi (35), Marlina (33) yang memulai usaha tersebut sekitar tahun 2013 lalu di Jalan Lintas Sumatera Desa Kekiling. Maryadi mengaku sudah mulai bekerja sejak tahun 2001 di Jakarta sebagai mekanik di sebuah perusahaan otomotif. Pekerjaan yang ditekuni semasa masih bujang tersebut akhirnya harus diakhiri setelah ia menemukan tambatan hatinya Siti Marlina yang memiliki usaha rumah makan di Kotabumi Lampung Utara bersama keluarganya.
“Saya masih ikut mertua saat akhirnya berhenti dari mekanik dan menekuni usaha rumah makan bersama istri dan keluarganya, saya belajar bagaimana mengelola rumah makan dan juga menjalin sebanyak mungkin relasi terutama dengan pemilik armada bus dan truk,”ungkap Maryadi yang kerap dipanggil “bang Mae” kepada Cendana News di Rumah Makan Putra Linggau, Sabtu (29/08/2015).
Bermula dari belajar usaha tersebut, ia “memisahkan” diri dengan sang mertua dan mengajak isterinya untuk hijrah ke Lampung Selatan dan memulai peruntungan dalam usaha sejenis. Peluang semakin banyaknya pengusaha pengusaha baru dalam jasa pengiriman (ekspedisi) berbagai kebutuhan pertanian, kayu, serta barang barang lain dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa membuat Mae dan isterinya kemudian mendirikan rumah makan baru yang dinamakan Putera Linggau.
Ia mengungkapkan, saling terkaitnya usaha rumah makan dan jasa ekspedisi bukanlah hal kebetulan. Ia mengaku dua usaha tersebut dalam masa perkembangannya belum saling membutuhkan, hingga semakin ramainya jalur lalu lintas di Jalan Lintas Sumatera mengakibatkan semakin banyak bermunculan rumah makan serta jasa ekspedisi. Para sopir dan pengusaha ekspedisi memiliki kepentingan dalam hal kenyamanan bagi para sopir armada ekspedisi mereka termasuk dalam hal penyelesaian urusan dalam perjalanan semisal kerusakan mobil atau insiden kecelakaan mobil yang bisa diselesaikan oleh pemilik rumah makan yang berperan sebagai “perpanjangan tangan” sang bos pemilik usaha ekspedisi.
“Awalnya susah mencari pelanggan, relasi, namun karena kita sebelumnya sudah mulai memiliki usaha dalam bidang rumah makan sehingga kita akhirnya lebih memilih ke spesialisasi kendaraan jenis truk asal Sumatera Selatan, Bengkulu tujuan Pulau Jawa,”ungkap Mae.
Keputusan untuk memilih usaha rumah makan dan memilih bekerjasama dengan pengusaha truk ekspedisi bukan tanpa alasan. Ia mengaku pernah bekerjasama dengan pengusaha armada bus, namun berdasarkan pengalaman usaha tersebut justru membuatnya rugi. Kerugian yang dialami kala itu saat armada bus mengalami insiden sementara ia sebagai “pengurus” serta perpanjangan tangan sang bos harus mengeluarkan uang banyak untuk kejadian darurat. Akhirnya ia merugi dan lebih memilih untuk truk ekspedisi.
“Jika kontrak dalam setahun dengan pemilik usaha bus lintas kami pernah mendapat kontrak sebesar Rp50 juta tapi karena ada kejadian dan kami harus mengeluarkan uang ratusan juta karena kecelakaan membuat saya justru merugi,”kenang Mae.
Sementara untuk usaha rumah makan yang bekerjasama dengan kendaraan ekspedisi jenis truk, ia mengaku lebih efektif dan lebih menguntungkan. Keuntungan tersebut diperoleh dari sopir yang makan dan istirahat di rumah makan miliknya dan menjadi sumber pemasukan baginya. Keuntungan tersebut digunakan sebagai modal sekaligus perluasan usaha miliknya dengan membuat tempat istirahat, kamar kecil, tempat sholat dan fasilitas lain.
Ia mengaku sebagai rumah makan khas Sumatera, menu masakan yang istimewa dan selalu menjadi pilihan para sopir dan kernet adalah menu Pindang Meranjat serta Pindang Patin serta olahan berbahan ikan. Harga yang bersaing dengan rumah makan lain membuat Rumah Makan Putera Linggau semakin hari semakin ramai dikunjungi khususnya oleh sopir ekspedisi maupun penyuka kuliner pindang.
“Meski yang datang setiap harinya kebanyakan sopir namun banyak juga penyuka kuliner ikan yang datang ke sini untuk makan hidangan pindang buatan kami,”ungkap Mae dan istrinya Lina.
Usaha rumah makan dan jasa ekspedisi menurutnya adalah usaha yang bersisian dengan usaha rumah makan. Rumah makan membutuhkan “langganan” dan para sopir ekspedisi membutuhkan rumah makan untuk istirahat serta memenuhi kebutuhan makanan mereka. Dua sisi seperti sisi mata uang yang saling berkaitan terutama rumah makan miliknya dibuat untuk spesialisasi para pelaku jasa ekspedisi.
“Mereka untung dan kami tentunya untung sebab selama di rumah makan mereka bisa istirahat, bisa membersihkan mobil, mendinginkan mesin dan juga bisa makan sesuai selera mereka terutama yang disukai oleh mereka adalah menu pindang,”ujar Mae.
Menu pindang yang disantap pada saat cuaca panas dengan ciri khas sambal dan makanan olahan ikan tersebut menjadi pilihan sopir sebagai pelaku usaha ekspedisi. Mae mengaku harga yang dipatoknya pun tidak menguras isi kantong sopir, untung pindang ikan mas ia mengaku  dihargai Rp.18rb, pindang ikan Simba 22ribu, pindang meranjat 20ribu, pindang baung Rp25ribu.
“Kami menyajikan menu yang terjangkau para sopir dan tentunya menyesuaikan dengan harga bahan baku dimana ikan yang kami beli rata rata perkilogram bisa Rp.17-Rp.18ribu,”ujar Mae.
Dalam sepekan ratusan mobil yang sebagian besar truk ekspedisi berhenti di rumah makan miliknya baik yang akan menuju ke Pulau Jawa dari daerah Bengkulu, Sumatera Selatan dan sebaliknya dari Pulau Jawa. Ia mengaku masih optimis persentase kendaraan yang mampir ke rumah makan miliknya akan tetap mengalir meskipun dalam waktu dekat di Lampung akan dibuat jalan tol menghubungkan Lampung-Sumatera Selatan.
“Optimis saja usaha rumah makan masih akan tetap berjalan dan jika ada penurunan saya yakin sekitar 10 persen masih akan mampir di rumah makan milik saya,”ungkap Mae.
Usaha yang saling menguntungkan antara pemilik rumah makan dan pelaku jasa ekspedisi tersebut bagi Mae merupakan lahan bisnis yang hanya bisa dijalankan oleh orang orang yang siap untuk menghadapi berbagai persoalan. Namun ia mengaku dengan banyak persoalan yang dihadapi terutama saat kendaraan yang mampir mengalami insiden maka ia tetap menjadi orang pertama yang akan mengurusi dan membantu para sopir bahkan jika para sopir tidak memiliki uang jalan maka Mae akan dengan senang hati menalangi terlebih dahulu dan selanjutnya sang bos pemilik usaha ekspedisi yang akan menyelesaikan. Rumah makan dan jasa ekspedisi menurut mae akhirnya menjadi sebuah hubungan kekerabatan yang saling membantu dan dibangun atas dasar kepercayaan sehingga keduanya bisa berjalan beriringan.

SABTU, 29 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...