Seni Tradisional di Lereng Gunung Merapi Bangkit dari Mati Suri

YOGYAKARTA — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengadakan acara Gelar Atraksi Seni 2015 di dusun Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Acara ini sebagai upaya pelestarian seni budaya setempat yang sebelumnya mati suri akibat erupsi Gunung Merapi 2010. 
Dusun Pagerjurang, merupakan salah satu dari puluhan dusun yang rata dengan tanah akibat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, silam. Bencana Merapi itu tak hanya meluluh-lantakkan seisi dusun, namun juga mematikan sekian banyak adat dan tradisi desa setempat. Maka, selama hampir lima tahun ini warga desa Pagerjurang berjuang menata kembali kehidupannya.
Kini, mereka telah bangkit. Menempati lahan hunian tetap sebagai pengganti dusunnya yang telah lebur menjadi hamparan debu vulkanik, mereka hidup dengan beternak sapi dan bercocok tanam. Seiring dengan itu, revitalisasi kekayaan seni dan budaya setempat perlahan dilakukan. Melalui Gelar Atraksi Seni 2015 Dusun Pagerjurang, hasil revitalisasi sejumlah kesenian tradisional setempat dipertunjukkan.
Gelar Atraksi Seni itu dilangsungkan Sabtu (29/08/2015), malam, dengan serangkaian pergelaran seni karawitan uyon-uyon dan macapatan, tarian dan jathilan atau kuda lumping.  Wiyana Suhadi, panitia pelaksana acara sekaligus Kaur Kesra Desa Kepuharjo mengatakan, gelar atraksi seni tersebut merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, bekerjasama dengan Pemerintah Desa Kepuharjo.

“Agenda seni itu diadakan sebagai upaya melestarikan seni tradisional desa setempat, yang selama ini mati akibat erupsi Merapi tahun 2010”, jelasnya.

Hadir dalam acara itu perwakilan Disbudpar Sleman, Haryanta, Camat Cangkringan, dan segenap jajaran muspika setempat. Tak banyak kata sambutan dari sejumlah perangkat desa, kecuali mereka berharap generasi muda mau meneruskan estafet kesenian tradisional tersebut.
Gelar Atraksi Seni Dusun Pagerjurang, diawali dengan pergelaran seni uyon-uyon dan macapatan. Lalu, disambung dengan pementasan Tari Sumyar dan Tari Gugur Gunung oleh anak-anak usia Sekolah Dasar asuhan Sanggar Seni Tari Cokro Kembang. Menurut Wiyana, saat ini kesenian tarian tradisional sudah berjalan regenerasinya. Tetapi untuk uyon-uyon dan macapatan, regenerasi mengalami kesulitan akibat generasi muda yang kurang berminat di bidang tersebut.

“Dari sekitar 20-an anggota Kelompok Karawitan Sedyo Rukun dari dusun Manggong, seluruh anggotanya sudah berusi tua”, pungkas Wiyana, sembari menambahkan Gelar Atraksi Seni Pagerjurang nanti akan dipungkasi dengan dengan pentas Jathilan atau kuda lumping dari Grup Turonggo Mudo Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

MINGGU, 30 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...