Siaga Kekeringan, 170 Desa di Provinsi Yogyakarta Terancam

Dropping air bersih gratis di Prambanan

YOGYAKARTA — Dampak Elnino yang menyebabkan kemarau panjang di Indonesia mulai dirasakan benar di Yogyakarta. Sejumlah wilayah di provinsi DIY mulai mengalami kekurangan air bersih. Bencana tahunan ini mengancam di empat kabupaten.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyatakan, sebanyak 26,7 persen atau sekitar 170 desa di Yogyakarta terancam bencana kekeringan. Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Provinsi DIY tak tinggal diam, dan mensosialisasikan bahaya kekeringan. 
Memasuki pertengahan bulan ini, kemarau panjang yang diprediksi bakal terjadi sampai akhir tahun ini mulai meresahkan warga di Yogyakarta. Di kecamatan Prambanan, Sleman, Yogykarta, misalnya, ketersediaan air bersih muai menyusut signifikan. Bahkan, BPBD Kabupaten Sleman terpaksa meminta bantuan berbagai pihak agar terpanggil turut membantu penyediaan droping air bersih gratis kepada warga di wilayah tersebut. Droping air gratis dari BPBD Sleman jumlahnya sangat terbatas akibat minuimnya pendanaan. 
Sementara itu, warga desa Prambanan harus mencari sumber-sumber air seperti sungai kecil dan telaga yang jaraknya cukup jauh. Kendati sebenarnya tak layak untuk kebutuhan sehari-hari lantaran kotor dan keruh, namun mereka terpaksa menggunakannya. Kekeringan di wilayah Prambanan diperparah dengan kondisi pipa air yang dipasang oleh pemerintah setempat beberapa tahun lalu, kini telah mengalami kerusakan. Selain patah, pipa saluran air juga sudah berkarat. 
Karenanya, penyaluran air melalui saluran pipa-pipa tersebut tak bisa dilakukan. Sedangkan BPBD Sleman selama ini hanya mampu mensuplai droping air bersih gratis sebanyak 100 tangki, dari jumlah 900 tangki yang dibutuhkan.
Juli Setiono, Kepala BPBD Sleman mengatakan, setidaknya diperlukan 900 tangki air untuk membantu masyarakat yang mengalami kekeringan di Prambanan untuk sampai akhir musim kemarau Desember nanti. Sementara itu, pihaknya hanya mampu menyediakan 100 tangki air gratis, karena keterbatasan dana. 
“Kami mengharap ada kepedulian berbagai pihak untuk membantu kebutuhan air bersih warga di wilayah Prambanan”, ujarnya.
Kekeringan tak hanya mengancam kawasan Kabupaten Sleman saja. Namun juga Kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo. Ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/8),  Gatot Saptadi Kepala BPBD DIY mengungkap, pihaknya telah mendata ada sekitar 170 desa di DIY yang terancam bencana kekeringan ini. Sebanyak 170 desa itu tersebar di empat kabupaten yang ada di Yogyakarta. 
“Dari 170 desa rawan bencana kekeringan itu terdiri dari 60 desa di semua kecamatan  di Kabupaten Gunungkidul, 20 desa di Kabupaten Kulonprogo, 17 desa di Bantul dan sisanya di wilayah Kabupaten Sleman”, jelasnya.
Gatot mengaku pihaknya telah melakukan konsep pengurangan resiko bencana dengan berkoordinasi ke semua Satuan Kerja Perangkat Desa (SKPD) di masing-masing kabupaten untuk bersama-sama mensuport daerah-daerah yang mengalami kekurangan air bersih. 
“Kita juga mengimbau kepada seluruh warga masyarakat, instansi pemerintah maupun swasta untuk bersama-sama mengatasi bencana tahunan ini. Tanpa ada kerjasama sema pihak masalah kekeringan ini tidak akan teratasi”, ungkapnya.
Kekeringan Parah 74 Hari Tanpa Hujan

Warga Gayamharjo Prambanan mencari sumber air

Senada dengan analisa tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi DIY juga melansir, bahaya kekeringan tahun ini di Yogyakarta terasa semakin parah dan terus meluas yang diakibatkan oleh badai elnino akan berakhir Desember nanti. Agar tak semakin meluas, pun BMKG mensosialisasikan bahaya kekeringan itu. 
Tony Agus Wijaya, Kepala BMKG Kelas I Yogyakarta mengatakan, dampak elnino telah mengakibatkan sejumlah kawasan di Yogyakarta tidak mengalami turun hujan selama lebih dari 60 hari.
Dampak kekeringan, menurutnya, saat ini yang paling parah terjadi di desa Dolo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, karena desa tersebut sudah mengalami hari tanpa hujan selama 74 hari. Sementara itu hari terpendek tanpa hujan, kata Tony, terjadi di desa Beran, Tridadi, Sleman, yaitu 60 hari.
BMKG DIY memperkirakan, hari tanpa hujan ini masih akan terus berlangsung sampai akhir November mendatang. Karenanya, pihaknya terus mensosialisasikan siaga kekeringan, dengan meminta masyarakat dan Pemkab setempat untuk meningkatkan kewaspadaan  dan langkah antisipasi menghadapi berbagai dampaknya.
Dijelaskan Tony, langkah-langkah antisipasi itu bisa dilakukan antara lain dengan menghemat air, mencari suamber air baru, penyediaan pompa air, penyediaan pipa distribusi air, droping air bersih dan menyesuaikan jenis komoditas tanaman pertanian.
Selain siaga kesulitan air, BMKG DIY juga meminta masyarakat agar mewaspadai munculnya berbagai gangguan kesehatan akibat perubahan suhu udara yang sangat ekstrim. Pada siang hari, jelas Tony, suhu udara bisa mencapai maksimum 34-35 derajat celcius, sementara pada malam hari suhu udara mencapai 19 derajat celcius.  
“Dengan perubahan suhu yang ekstrim itu, masyarakat harus benar-benar menjaga kondisi kesehatannya, agar tidak mudah terserang penyakit”, pungkasnya. 
Tony wijaya, Kepala BMKG DIY sosialisasi bahaya kekeringan

SELASA, 11 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...