SMK Tambang Nusantara, Mengasah Murid “Kelas Tiga” Menjadi Emas


KENDARI—SMK Tambang Nusantara, adalah SMK Pertambangan Swasta satu-satunya di kota Kendari, Sulawesi Tenggara, didirikan pada tahun 2011 oleh Dr. Anwar Bey, seorang Doktor Matematika yang telah mendedikasikan dirinya menjadi dosen di Universitas Haluoleo selama lebih dari 10 tahun. Sekolah kejuruan ini bermula dibuka di sebuah ruko (Rumah Toko), tetapi dalam 2 tahun terakhir, SMK Tambang Nusantara menempati gedung tua sisa-sisa pembangunan Orde Baru yang berada di THR (Tamah Hiburan Rakyat).
THR, sedianya akan dibangun sebagai pusat hiburan rakyat Kendari pada khususnya dan Sulawesi Tenggara pada umumnya. Tetapi setelah HM.Soeharto, Presiden RI ke-2 purna tugas, tempat tersebut tidak difungsikan sebagaimana seharusnya. “Jika sesuai dengan rencana Pak Harto, THR ini dibangun seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang terdiri atas beberapa anjungan,” jelas Dr.Anwar Bey selaku pendiri sekaligus Kepala Sekolah SMK Tambang Nusantara.
Kondisi gedung utama THR yang mulai menua, menjadikan sekolah kejuruan ini nampak “kurang bonafit” jika dipandang dari kualitas bangunan sekolah. Tetapi, mennurut Dr.Anwar Bey, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan baik walaupun dengan keadaan yang seadanya. 
Ia menceritakan dengan bangga bagaimana dukungan dari kawan-kawan sesama dosen untuk membesarkan SMK Tambang Nusantara dan mencetak generasi muda bangsa yang trampil dan cerdas walaupun siswa/siswi yang mendaftar ke sekolah ini, menurutnya adalah siswa/siswi “kelas tiga”. 
“Seharusnya, idealnya, yang masuk ini memiliki bekal matematika yang kuat, yang mana dalam pandangan masyarakat umumnya, yang menguasai matematika adalah anak pintar atau cerdas, nah yang mendaftar ke sekolah ini, justru anak-anak “buangan” dari sekolah “kelas satu dan kelas dua”,” lanjutnya.
Anak-anak “kelas tiga” yang ia maksudkan adalah anak-anak yang tidak diterima di sekolah lanjutan atas favorit pertama dan kedua. “Jadi secara bekal kemampuan, anak-anak yang masuk kesini, di level ketiga, sangat minim kemampuannya, tetapi disitu justru letak semangat kami para pengajar di sekolah ini karena bagaimana mengasah mereka hingga akhirnya ketika keluar dari sekolah ini, mereka menjadi emas yang bernilai tinggi'” jelasnya dengan semangat.
Jika ditinjau dari biaya, untuk masuk ke SMK Tambang Nusantara, orang tua murid dikenakan biaya pendaftaran dan iuran sebesar RP 1,5 juta dan untuk biaya bulanan, masing-masing siswa dikenakan biaya RP 150 ribu. “Ini jauh lebih murah dibandingkan SMK Pertambangan Negeri di Kendari,” Jelas Titik, Guru Bahasa Inggris satu-satunya di SMK Tambang Nusantara.
SMK Pertambangan Negeri yang ia maksudkan adalah SMK 6 Kendari. Menurutnya, kualitas lulusan SMK Tambang Nusantara dan SMK 6 Kendari tidaklah berbeda jauh, semua siswa yang dididik di sekolah ini, meskipun berangkat dari nol, tetapi akhirnya mereka bisa menjadi lulusan dengan kualitas yang layak disandingkan dengan lulusan sekolah negeri.
Perihal metode yang digunakan oleh SMK Tambang Nusantara dalam mengasah kualitas murid-muridnnya, menurut Dr. Anwar Bey, ia menerapkan metode “Tiada Hari Tanpa Matematika”. Karena menurutnya, apabila matematikanya sudah kuat maka mereka akan mampu menaklukkan mata pelajaran lain. 
Selain metode tersebut, ia menambahkan, yang paling utama adalah menanamkan pentingnya kedisiplinan kepada siswa serta keinginan untuk membaca. Dengan disiplin dan rajin membaca, mereka akan berwawasan luas, ketika mereka memiliki wawasan luas, mereka pun ingin mengembangkan dirinya agar menjadi pribadi yang terus berkembang dan berkualitas. 
Saat ini, jumlah murid Kelas I adalah 38 anak, jumlah murid Kelas II adalah 16 anak, dan jumlah murid Kelas III adalah 27 anak. Anwar Bey tidak pernah berkecil hati dengan jumlah murid yang sedikit identik dengan sekolah yang ia dirikan tidak laku atau kurang mendapatkan kepercayaan dari para orang tua. 
“Saya rasa, semua yang masuk sini awalnya hanya bermodal “yang penting sekolah”, karena mereka memang banyak yang tidak benar-benar tahu apa itu SMK Tambang Nusantara, bahkan sebagian orang tua murid yang kami temui mengatakan, tujuannya menyekolahkan anaknya kesini adalah yang penting sekolah dan lulus sekolah bisa langsung kerja, menghasilkan uang,” lanjut kakek dengan 7 cucu yang masih nampak bugar ini. 
Hal positif yang dirasakan olehnya dengan jumlah murid yang masih sedikit ini adalah, interaksi antara pengajar, murid dan orang tua bisa terbangun dengan baik. Belum tentu jika jumlah murid ratusan hal tersebut bisa dilakukan secara berkesinambungan. Selain itu, hal positif lain menurutnya adalah, pengajar bisa fokus sehingga pembinaan bagi masing-masing murid juga maksimal, hal ini belum tentu bisa dilakukan ketika jumlah murid sudah ratusan sementara jumlah guru sedikit.
Menutup percakapan dengan Cendana News, Dr.Anwar Bey menjelaskan tentang lulusan SMK Tambang Nusantara yang mendapatkan beasiswa ke Perguruan Tinggi Negeri, ada yang langsung bekerja di perusahaan tambang dan dalam waktu singkat mendapatkan penghasilan setara sarjana, 
“Mereka mendapatkan beasiswa ke Perguruan Tinggi Negeri, itu artinya mereka berkualitas. Mereka tidak sekedar jadi kuli di pertambangan, itu juga sebuah prestasi yang harus saya apresiasi, mereka mendisiplinkan dirinya dengan belajar dan membaca, mereka yang mengantar diri mereka “naik kelas” dari murid “kelas tiga” menjadi emas, kami para pengajar hanyalah alat bantu bagi mereka menaikkan “kelas” mereka,” tutupnya.
SELASA, 18 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Sari Puspita Ayu
Foto : Sari Puspita Ayu
Editor : Gani Khair
Lihat juga...