Surat dari Desa untuk Pak Presiden

CERPEN — Senja mulai menggelap. Lelaki tua itu masih berada di saungnya. Sebuah tempat peristirahatannya usai dirinya membanting tulang seharian di sawah.  Matanya tertumpah pada sehelai kertas putih yang mulai kusam dimakan usia peradaban yang tergeletak di sudut saung sederhannya. Entah berapa lama kertas kosong itu terparkir di sudut saungnya tanpa tersentuh. Matligut tak menghitungnya. Seingatnya anak pertamanya masih SMP.
Pikiran lelaki tua itu menerawang ke areal persawahan miliknya dan milik warga desa lainnya. Hamparan sawah yang dulunya menghijau dan menguning saat akan panen, kini tak terlihat lagi. layu dimakan musim. Mengering bak para pengungsi Yang terkatung-katung dilaut lepas tanpa tersentuh makanan sebagai nutrisi untuk daya tahan hidup.
Dengan keberanian yang luar biasa, petani tua Desa itu pun mulai menulis narasi dan diksi penderitaan yang mareka alami sebagai warganegara.
” Kalau saya tak punya keberanian untuk menuliskan surat ini, maka kondisi para petani akan tetap tak terperhatikan. Dan kalau bukan kepada Presiden, kepada siapa lagi saya harus mengadu persoalan hidup kami dinegeri ini,” batinnya dalam hati.
” Bukankah Pak Presiden hobi blusukan. Siapa tahu usai membaca surat ini, Pak Presiden langsung blusukan,” lanjutnya dalam hati. 
Senja makin menggelap. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Awan berarak.
Pak Presiden Yth.
Perkenalkan nama saya Matligut. Petani asal Desa Kocarkacir. Anak saya empat. Mareka masih bersekolah. Sementara istri saya hanya ibu rumah tangga.
Pak Presiden
Sudah sebulan ini sawah didaerah kami kekeringan. Waduk mengering. Aliran air kesawah kami menipis dan kadang tak ada. Walaupun ada maka saya dan kawan-kawan sesama petani harus berargumentasi dulu dengan petugas pengatur air.
Informasi yang saya baca di koran dan televisi, pertanian adalah bidang prioritas Bapak sebagai pemimpin negara. Tapi kok cuma narasi saja?
Selain itu harga jual gabah kami ditingkat lokal pun murah dan tak sesuai dengan yang sering saya baca dan dengar di media massa. Apa ini cuma sekedar pencitraan bapak saja?
Pupuk amat sulit kami dapati. Kalau pun ada harganya amat mahal dan tak terjangkau dengan kantong tipis kami para petani Desa. Sementara untuk akses perbankan, sederet kertas-kertas administrasi amat menjelimet. memang ada petani Desa yang dikucurkan perbankan tapi itu hanya kalangan terbatas. kalangan eksklusif. kalangan elite Desa.
Para penyuluh pertanian pun kadang hanya datang saat ada kunjungan kerja pembesar saja. Suara pak Kades tak mareka dengar. Apalagi suara kami, suara kaum minoritas di negeri ini. Padahal tanpa kami maka kita akan kembali ekspor beras. Padahal dulunya kita adalah bangsa besar dengan swasembada beras terbaik dan terhebat di dunia.
Pak Presiden,
Bantulah kami para petani Desa dengan kekuasaan Bapak sebagai pemimpin bangsa. Lagi pula sekedar mengingatkan suara kami, coblosan kami lah yang membuat Bapak bisa memimpin negeri ini. Bapak berutang budi dengan kami, rakyat negeri ini. Saatnya Bapak membalas budi baik kami yang telah membuat Bapak menjadi pemimpin.
Demikianlah surat dari kami, petani Desa
Wassalam
Matligut.
Di Istana, Presiden tampak murung. Beberapa agenda kerja tak berjalan sebagaimana yang telah dijadwalkan staff Kepresidenan. Bebarapa tamu penting dan mementingkan diri sendiri pun banyak yang pulang. Pak Presiden belum bisa menerima mareka. Demikian jawaban dari para Jubir Presiden.
Pak Presiden tampak masih murung. Kemegahan istana tak mampu mengurangi kemurungannya. Ornamen istana yang dihiasi beragam kemewahan tak mampu urai kesedihan diwajahnya,S urat kusam kumal itu masih ditangannya. Baru kali ini Presiden tampak murung usai membaca surat dari warga.
“Kita ke sana malam ini juga,” ujar Presiden kepada ajudannya.
Dengan dikawal ajudan dan sopir kepresidenan. Pak Presiden meluncur menembus malam yang makin pekat. Sepekat jiwa Matligut yang tengah bermimpi tentang indahnya panen kali ini disaung sawahnya dengan bertemankan nyamuk dan harmonisasi suara kodok sawah yang mampu menidukannnya untuk bertemu matahari pagi. Ya, matahari pagi tanda kehidupan pun akan segera dimulai.
MINGGU, 02 Agustus 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...