Tak Miliki Tanggul Penangkis Ombak, Pantai Ketapang Rentan Abrasi

LAMPUNG — Tidak adanya penahan buatan dan alami mengakibatkan Pantai Timur Lampung terutama di wilayah Kecamatan Ketapang Lampung Selatan rentan terhadap abrasi. Bahkan sejak bulan Juli lalu, abrasi mengakibatkan sekitar 8 rumah warga terancam ambruk.
Salah seorang warga di pinggir pantai tepatnya di Desa Legundi, Somad menyebutkan, saat ini kondisi pantai sudah sangat parah dan ini sudah berlangsung dari tahun 1998, dimana jarak antara bibir pantai dan rumah warga tersisa 10 meter.
“Dahulu perahu perahu ditambatkan jauh dari rumah warga karena memang tepi pantai agak jauh namun kini semakin mendekati daratan dan rumah semakin dekat dengan bibir pantai,”ujar Somad kepada Cendana News, Rabu (26/8/2015).
Kondisi tersebut akan semakin parah terlihat jika kondisi air laut sedang pasang disertai angin kencang. Abrasi pantai dipastikan akan semakin parah akibat kontur tanah berlumpur dan berpasir tanpa adanya tanaman penahan atau tanggul penangkis. 
Hal serupa juga terjadi di Dusun Sumur Induk Desa Sumur. Abrasi mengakibatkan beberapa warga harus menerima kenyataan saat air pasang air laut masuk ke rumah mereka.
Salah seorang warga Buyung (50) mengaku sejak tahun 2012 ia mengakui abrasi dan tergerusnya tanah di sekitar lahan rumahnya sudah terjadi. Situasi tersebut bahkan pernah dibicarakan oleh instansi terkait dan ada wacana pembuatan penghalang ombak, namun hingga kini wacana tersebut belum terealisasi. Ia berharap dalam lima tahun ke depan yang saat ini sedang dalam masa untuk pergantian kepala daerah, pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi warga pesisir.
“Saya masih ingat beberapa tahun lalu tanah yang menjorok ke laut ada sekitar sepuluh meter lebih tapi kini sudah semakin habis tergerus gelombang, malah bagian dapur saya kemasukan air saaat gelombang pasang,”ungkap Buyung bersama isterinya Inadiah.
Melihat kondisi yang menimpa rumah miliknya ia menambahkan kondisi tersebut juga menimpa beberapa rumah milik tetangganya yang kini bahkan tak ditempati. Buyung bahkan mengungkapkan pemilik rumah yang ada di dekatnya sudah pindah akibat tak tahan dengan kondisi saat air laut sering masuk ke rumahnya.
“Kalau kami mau pindah ke mana, tak punya lahan sebab lahan yang kami miliki sejak dulu hanya di tepi pantai ini,”ungkapnya.
Ia bahkan mengaku berusaha menahan terjangan dan abrasi dengan menanam pohon kelapa namun terjangan ombak masih bisa merusak bibir pantai di sekitar rumahnya.
Dari pantauan CND di sekitar pantai tersebut beberapa bagian masih berpasir sementara di bagian lain sudah diberikan batu batu penghalang ombak yang masih belum dibronjong.

RABU, 26 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...