Tak Peroleh Jatah Perbaikan Jalan, Warga Merasa Dianaktirikan

LAMPUNG — Warga wilayah Pekon Mataram Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung merasa kecewa dan “dianaktirikan” akibat kondisi jalan yang rusak parah, namun tidak mendapat prioritas perbaikan.
Seperti yang disebutkan salah satu warga pekon Mataram, Sumardi (45). Dia mengaku wilayah tersebut hampir lebih dari 10 tahun mengalami kesulitan akibat kerusakan jalan yang cukup parah. 
Akibatnya masyarakat yang akan melakukan aktifitas harus berhati-hati dengan kondisi jalan yang berlubang, becek saat hujan serta berdebu saat panas.
“Anak-anak kami yang bersekolah setiap hari melintas di ruas jalan ini sehingga kebutuhan akan perbaikan jalan harus diutamakan,”ungkapnya Senin (3/8/2015).
Ia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dan jika ada alasan defisit anggaran maka prioritas yang harus diutamakan berdasarkan tingkat kerusakan jalan. Sebab ia mengakui masalah kerusakan jalan merupakan masalah klasik namun harus dilihat tingkat kerusakan jalan mana yang harus lebih didahulukan untuk diperbaiki.
“Jangan jalan yang masih bagus diperbaiki sementara jalan yang tak pernah tersentuh perbaikan justru tidak dimasukkan dalam rencana perbaikan,”keluhnya.
Menyikapi hal tersebut, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pringsewu, Anton Subagiyo mengaku kecewa, seharusnya pembangunan jalan tersebut dijadikan prioritas, karena kondisinya sudah rusak berat. Hal tersebut harus segera diakomodir oleh pihak terkait.
Anton mengungkapkan, hal tersebut wajar jika masyarakat mengaku seperti dianaktirikan dibandingkan wilayah lain, sementara masyarakat Pekon Mataram sudah lama mengharapkan upaya perbaikan dari pemerintah daerah setempat.
Anton bahkan menyebutkan, untuk perbaikan terhadap infrastuktur jalan Kabupaten Pringsewu telah tercover senilai kurang lebih Rp.67 miliar di Dinas PU Kabupaten Pringsewu. Sementara perbaikan terhadap ruas jalan mataram sudah diusulkan dan  disampaikan langsung kepada Bupati Pringsewu serta juga Bappeda guna diprioritaskan.
Anton bahkan mengaku, dengan tidak diakomodirnya harapan warga tersebut, sebagai anggota DPR dirinya merasa dipermainkan.
Sebagaimana aspirasi yang disampaikan warga saat reses anggota DPRD pada bulan Februari lalu ia mengungkapkan, warga bahkan telah menghibahkan lahan seluas 3 hektar untuk pembangunan Akademi Komunitas Negri (AKN) Pringsewu. Penghibahan tersebut salah satunya dimaksudkan untuk bisa memperoleh perhatian dari pemerintah daerah, terkait kondisi infrastruktur diwilayahnya yang rusak.
SENIN, 03 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...