Taman Ismail Marzuki, Tempat Masyarakat Bersosialisasi Santai

JAKARTA — Berawal dari sebuah tempat kongkow masyarakat bernama Taman Raden Saleh (TRS), kemudian dirubah sekaligus diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menjadi sebuah pusat seni lintas budaya dan berkumpulnya praktisi seni lintas generasi yang diberi nama Taman Ismail Marzuki pada tanggal 10 November 1968.
Taman Ismail Marzuki atau dikenal khalayak luas dengan TIM seolah melanjutkan TRS dimana sampai saat ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dalam bersosialisasi santai maupun diskusi kecil. Para seniman, mahasiswa, pelajar, karyawan, dan lainnya, semuanya menjadikan TIM sebagai tempat kongkow favorit.
Didalam TIM juga berdiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ), planetarium, gedung arsip, enam teater modern, dan berbagai fasilitas ekspresi seni budaya untuk seluruh masyarakat Jakarta.

Bebi,  seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta mengatakan ia suka sekali berkunjung ke TIM untuk menonton pentas seni atau teatrikal.

“Seperti kemarin konser kebangsaan bertema Akulah Sejarah, tidak mungkin saya melewatkan moment tersebut,”ucap Bebi kepada Cendana News, Sabtu (29/08/2015).
Di malam hari,  area depan pintu masuk TIM berubah menjadi tempat kuliner kaki lima lesehan. Seluruh pengunjung TIM tampak menikmati duduk ramai-ramai menikmati kuliner favoritnya masing-masing sambil berbincang santai, diskusi, dan saling berbagi gosip-gosip renyah.
“Saya jarang mengikuti acara-acara di TIM, tapi saya tidak pernah absen makan nasi goreng lesehan di sini malam hari,”ujar Danur, seorang karyawan yang bekerja di daerah kwitang.
Untuk mencapai TIM kita bisa menggunakan semua jalur transportasi umum. Commuter Line turun di stasiun cikini,  Busway turun halte gang Sentiong lanjut naik Metromini 17 rute Senen-Manggarai, dan Kopaja P20 rute Senen-Lebak Bulus.
Seni merupakan bahasa universal,  maka seni itupun menjadi bagian lintas generasi dari seluruh masyarakat. Dan Taman Ismail Marzuki membuktikan betapa universalnya seni budaya tersebut dengan menjadi tempat yang akan mempersatukan semuanya.

JUMAT, 28 Agustus 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...