Tatto Merdeka Ekspresi ‘Gento’ di Hari Kemerdekaan

YOGYAKARTA — Turut memeriahkan peringatan HUT ke 70 tahun kemerdekaan RI, komunitas tatto di Yogyakarta yang menamakan diri Gento, Gerombolan Tukang Tatto menggelar kontes bertajuk Menanam Tjinta (baca: tinta) di Gedung Jogja National Museum Jalan Prof. Amri Yahya No. 1 Gampingan, Yogyakarta. Acara yang digelar dua hari, 16 sampai 17 Agustus ini, juga merupakan upaya penggalangan dana yang akan disumbangkan ke panti asuhan.
Tatto yang bagi kalangan masyarakat pada umumnya masih dianggap negatif, dalam rangkaian acara Tatto Merdeka bertajuk Menanam Tjinta, justru menjadi media seni untuk mengekspresikan kegelisan komunitas terhadap persoalan lingkungan dan peringatan HUT Ke 70 Kemerdekaan NKRI.
Bekerjasama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Komunitas Gento sengaja mengetengahkan isu-isu kerusakan lingkungan ke dalam ekspresi seni tatto. Selain dilombakan, tatto juga dibahas dalam diskusi terkait dengan tema yang diusungnya, yaitu tentang lingkungan hidup dan hari kemerdekaan. Lebih dari 20-an tukang tatto di Yogyakarta turut ambil bagian dalam kontes yang juga dimeriahkan dengan acara musik.
Huhum Hambilly
Huhum Hambilly, koordinator acara mengatakan, Tatto Merdeka kali ini berfokus kepada persoalan lingkungan hidup dan kemeriahan kemerdekaan. Tagline Menanam Tjinta juga merupakan representasi atas kondisi lingkungan hidup di sekitar. Gento melihat, akhir-akhir ini di Yogyakarta sedang mengalami kerusakan lingkungan hidup, dengan semakin berkurangnya sumber air akibat maraknya pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan atau mall-mall besar. Selain itu juga berkaitan dengan momentum hari peringatan kemerdekaan ini, gambar tatto seputar kegiatan perayaan hari kemerdekaan juga diketengahkan.
“Tatto Merdeka tahun ini menawarkan banyak konten. Mulai dari upacara bendera, pengumpulan bibit tanaman, pengumpulan kertas bekas, dan pameran karya rupa berjudul Jogja Hari Ini. Juga ada perang tatto dengan tema gambar lingkungan hidup”, jelas Huhum.
Tagline Menanam Tjinta, sambung Huhum, merupakan metafora dari kampanye tanam pohon. Maka menanam pohon bagi komunitas tatto sama halnya dengan para penatto menanam tinta. “Ini sebuah upaya menjaga alam dengan cita rasa seni”, ungkap Huhum.
Tatto telah sejak lama dikenal dalam peradaban manusia. Namun, tatto dalam sejarahnya muncul dari dunia hitam para pelaku kriminal dari zaman ke zaman. Huhum pun tak menampik, jika selama ini orang bertatto seringkali harus menerima stigma negatif. Kendati saat sekarang tatto telah diapresiasi sebagai sebuah karya seni, namun stigma negatif itu tetap saja tak mudah dihilangkan. Justru kontroversi keberadaan tatto itulah, menurut Huhum, yang membuat tatto itu menjadi menarik.
Huhum sendiri mengaku sudah mengenal tatto sejak kecil. Tatto pertamanya dibuat saat ia duduk di bangku SMA. Waktu itu, katanya, sebuah kalimat berbahasa Inggris berbunyi, Boy Never Perfect, ditorehkan di dadanya.

“Memang saat pertama kali ditatto dimarahi orangtua. Namun lama-kelamaan orangtua bisa memaklumi, sehingga tatto pada tubuh saya pun terus bertambah dari tahun ke tahun”, ungkapnya.

Kini,  tak kurang dari 10 gambar tatto menghiasi bagian tubuh, tangan dan kakinya. Huhum yang kini masih menempuh pendidikan manajemen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu pun mengaku tak pernah menyesal dengan tatto yang dibuatnya. Bahkan ketika sebagian orang menganggap tatto membuat tidak sah untuk melakukan wudhu atau bersuci untuk menjalankan ibadah solat, Huhum memiliki dalil tersendiri.
“Sebuah dalil ada yang menyebut, tatto itu membuat tidak sah wudhu jika tatto itu membuat air tidak bisa masuk ke dalam pori-pori kulit. Tatto seperti itu memang ada di zaman dulu. Namun, sekarang ini teknologi alat tatto sudah canggih, sehingga tinta yang ditanamkan ke dalam kulit tidak menutupi pori-pori. Maka, air tetap bisa masuk ke dalam kulit,” kilahnya.
Namun demikian, Huhum tak mau begitu merisaukan soal itu. Bagi dirinya, tatto adalah ekspresi seni. Dari tatto itu kepribadian seseorang bisa terwakili. Lagi pula, katanya, tatto juga ada yang dibuat untuk tujuan religius, magis dan spiritual, seperti rajah dan simbol-simbol keagamaan tertentu seperti salib dan sejenisnya. 
“Trend tatto saat sekarang sangat beragam. Di Yogyakarta sendiri keberadaan komunitas tatto bisa diterima dengan baik sebagai sebuah karya seni,” pungkasnya.
SENIN, 17 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...