Tes DNA Dapat Jelaskan Status Anak dalam Kawin Kontrak

SURABAYA — Perlindungan hukum dan status keperdataan merupakan hal mutlak yang dibutuhkan oleh seorang anak. Karena hal tersebut sangat berpengaruh bagi anak dalam menjalani kehidupan di era legalitas seperti sekarang ini. Biasanya dalam akte kelahiran tertera nama ayah, namun bagaimana dalam kasus kawin kontrak.

Hal inilah yang mendasari salah satu mahasiswa Universitas 17 Agustus (Untag), Ayu Tanisa Devi (22 tahun) melakukan penelitian terhadap status keperdataan anak kawin kontrak.

Diuraikannya, kawin kontrak sejatinya merupakan jenis perkawinan yang tidak mendapatkan keabsahan dari negara Indonesia. Status anak hasil dari kawin kontrak tidak jelas, sehingga ia pun tidak mendapatkan haknya sebagai anak.
“Indonesia mempunyai aturan hukum tentang perkawinan yaitu UU No. 1 Tahun 1974,” Jelas wanita berparas ayu ini.
Dalam UU ini mengatur tentang perkawinan dan syarat perkawinan yang sah untuk dilakukan oleh calon pasangan suami istri. Dan juga mengatur tentang status keperdataan serta hak yang melekat pada anak yang dihasilkan dari perkawinan tersebut.
“Masalahnya adalah tidak adanya kejelasan mengenai status anak dari kawin kontrak,”tegas mahasiswi Fakultas Hukum ini.
Selama penelitiannya, ia menemukan kasus seorang perempuan yang mau kawin kontrak dengan pria asal Jerman, ini terjadi di Cisarua, Bogor. Perkawinan ini hanya berlangsung satu tahun dan menghasilkan seorang anak.
“Anaknya kasihan tidak mendapat status keperdataan dan haknya sebagai anak dari ayahnya,” tandasnya.
Konsekuensinya anak dari kawin kontrak, dianggap anak yang tidak sah dan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu saja.
“Status anak itu di dalam akta tertulis anak di luar nikah dan hanya tertulis nama sang ibu,” Tukasnya.
Tetapi setelah dikeluarkannya Putusan MKRI No. 46/PUU-VIII/2010 pada tanggal 17 Februari 2012 mengubah semuanya. Dengan adanya putusan ini maka status anak diluar nikah tidak hanya memiliki status hubungan perdata dengan ibunya saja tetapi juga dengan ayah biologisnya.
“Caranya dengan tes DNA atau alat bukti hukum lain, yang mempunyai hubungan darah sehingga bisa mempunyai hubungan perdata tidak hanya ibu tetapi juga ayah dan keluarga ayahnya,” tandasnya.
SABTU, 29 Agustus 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Foto            : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...