Titiek Soeharto : Pertanian Adalah Soko Guru Ekonomi Kita

Titiek Soeharto ketika memberikan sambutan. 
SLEMAN—Tentu bukan untuk mengenang dan meratapi masa yang telah lewat, jika sekarang ini banyak orang merindukan masa-masa jaya zaman Pak Harto. Namun karena memang begitu banyak ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Betapa sekarang ini kita banyak mengimport beras, gula pasir dan bahkan sejumlah sayuran. Itulah mengapa pada setiap kesempatan, Titiek Soeharto selalu mengatakan, jika dahulu Bapak (Presiden Soeharto-red) selalu memperhatikan pertanian.   
Ditemui di tengah kunjungan silahturahmi dan sambungrasa dengan Kelompok Ikan Mina 21 Sombokerten, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Senin (10/7) siang, Titiek mengatakan jika selama ini memang sebagian masyarakat merindukan lagi zaman Pak Harto. Slogan  “Penak Zamanku, to?” yang banyak dibuat stiker di mana-mana, kata Titiek, itu dibuat oleh masyarakat sendiri. “Bukan kita yang membuat”, tuturnya. (Baca juga berita : Titiek Soeharto : Pesan Pak Harto, Semua Petani Harus Bisa Sejahtera)

Titiek menolak jika harus menjawab pertanyaan perihal perbedaan di zaman Pak Harto dengan zaman reformasi ini. Ia meminta kepada masyarakat untuk menilainya sendiri. 

Namun demikian, Titiek mengakui jika sejauh pengetahuannya di zaman mendiang ayahnya itu negara ini bisa swasembada pangan dan beras. Sekarang, katanya, negara banyak mengimport beras dan kebutuhan pangan lainnya dari negara lain.
“Sekarang situasinya memang berbeda. Namun seingat saya, Bapak (Soeharto-red) itu sangat memperhatikan pertanian. Karena pertanian itu adalah soko guru perekonomian kita. Kalau pertanian kita maju dan tidak import dari negara lain, masyarakat kita bisa maju. Tapi kalau tidak diperhatikan, pertanian kita bisa terbengkalai dan repot sendiri. Setiap tahun akan import terus”, bebernya.
Karena itu, Titiek mengaku sangat perhatian dengan pertanian. Terutama bidang perikanan yang menjadi bidang kerjanya di Komisi IV DPR RI sekarang ini. Seperti tak ingin para petani ikan di Sleman terpuruk, pun Titiek banyak menyambangi sentra-sentra penghasil ikan di wilayah Sleman, Yogyakarta. Sekiranya cukup beralasan, jika Titiek menyambangi sejumlah petani ikan di Sleman. Sebab, di kabupaten itu terdapat 554 Kelompok Petani Ikan yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Sleman.
Suparmono, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sleman yang turut mendampingi kunjungan Titiek, menjelaskan, saat ini ada 554 kelompok tani di wilayah Sleman. Bahkan saat ini kawasan mina padi di Sleman dipilih sebagai proyek percontohan mina padi oleh Food and Agriculture Organization (FAO), lembaga PBB di Indonesia yang membidangi bidang pertanian. Sleman, katanya, mendapat bantuan dari FAO untuk menjalankan proyek percontohan Mina Padi dengan lahan seluas 25 hektar. Program itu harus mulai dijalankan bulan Agustus ini. Pada saat panen nanti, sambung Suparmono, FAO akan mengundang regional Asia Pasifik untuk melihat hasilnya.
Mina Padi

Suparmono mengungkap, wilayah Kabupaten Sleman dipilih untuk menjalankan proyek mina padi se-Asia Pasifik itu karena selama ini dinilai cukup berhasil.

Sistem mina padi, jelasnya, sekarang ini menjadi penting sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan sistem mina padi itu, terjadi hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Dengan menanam padi sambil memelihara ikan, sisa pakan ikan akan menadi pupuk. Bahkan, ikan-ikan yang hidup akan memakan wereng atau hama dan gulma yang selama ini meresahkan banyak petani. 
“Dengan sistem mkna apdi ini, pasti hasil padi akan jauh lebih bagus, karena ada simbiosis semacam itu”, jelasnya.

Sementara itu, sambung Suparmono, saat ini pun perikanan terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Hasil sensus pertanian tahun 2003-2013 menunjukkan rumah tangga pembudi daya ikan naik 40 persen lebih. 

Karena itu, tegasnya, orang beramai-ramai meninggalkan pertanian dan beralih ke perikanan. “Dan, sensus itu bukan angka sensus dalam setahun. Melainkan dalam kurun waktu 10 tahun, sehingga ini bukan karena anomali”, cetusnya.
Suparmono. Kadinas Perikanan, Sleman.
Di wilayah Kabupaten Sleman, menurut Suparmono, pemerintah daerah melalui dinas terkait telah menggalakkan sistem mina padi sejak tahun 2009. Waktu itu hanya sekitar 5 hektar lahan mina padi, dan sekarang telah ada sebanyak  80 hektar lahan mina padi yang tersebar di seluruh wilayah Sleman. Paling banyak ada di kecamatan Seyegan, Pakem, Minggir dan Godean. Pesatnya perkembangan petani ikan mina padi ini, menurut Suparmono, pertama-tama terjadi karena ada peran pemerintah yang memberi dukungan dan kemudian masyarakat sendiri melihat hasilnya. “Karena hasilnya memang menguntungkan, maka masyarakat pun tergerak sehingga pertumbuhan petani mina ikan tumbuh dengan sendirinya”, katanya.
Berkait musim kemarau saat ini, Suparmono mengatakan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun kemarin, musim kemarau ini tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan mina padi. Selain di sejumlah kawasan mina padi telah memiliki sistem perarian secara teknis, masyarakat petani ikan juga lebih pandai dalam menghadapi tantangan alam dengan caranya sendiri.
“Mina padi terbukti menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteran para petani. Coba dengan teknologi pertanian apa lagi untuk meningkatkan ekonomi petani? Dengan mina padi ini, petani bisa diuntungkan karena ada sisa pakan ikan yang menjadi pupuk dan wereng serta gulma yang mengganggu tanaman dimakan ikan”, pungkasnya.
SENIN, 10 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Gani Khair
Lihat juga...