Titiek Soeharto : UPPO Program Kementrian Pertanian, DPR Merekomendasikan Penerima

Titiek Soeharto ketika mendiskusikan masalah kebersihan kandang. 
SLEMAN—Kamis (6/8/2015) dalam rangkaian kegiatan resesnya Siti Hediati Soeharto, SE mengunjungi Kelompok Tani Ternak Mandiri yang berada di Dusun Ngangkring, Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman. Dalam kunjungannya Ia didampingi, Kepala BPPT Dr. Sudarmaji, DPRD DIY F-Golkar Agus Sumaryanto, DPRD Kabupaten Sleman F-Golkar Prasetyo Budi dan Ketua Kelompok Pengkaji Paskapanen Dr. IrTitiek F. Djafar, MP.
Kelompok Tani yang berdiri sejak tahun 1988 adalah kelompok tani yang awalnya beranggotakan petani salak pondoh dan mengembangkan diri dengan beternak kambing PE (Peranakan Etawah). Poktan ini memiliki 900 ekor kambing peranakan etawa, 42,355 rumpun salak pondoh dengan luas lahan 20,84 ha serta telah memiliki badan usaha berbentuk CV yang diberi nama CV. Tamto Mandiri dengan produk unggulan susu bubuk kambing etawa.
Titiek Soeharto meninjau ruang produksi susu bubuk kambing etawa
Dalam kunjungannya, hal yang paling mendapat perhatian utama dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini adalah masalah kebersihan. “Walaupun masih menggunakan peralatan tradisional kebersihan keseluruhan proses produksi harus diutamakan dan terus ditingkatkan” pesan Titiek kepada Tamto selaku Ketua Poktan ketika melihat ruang produksi susu bubuk.
Ketika Titiek diajak meninjau kandang kambing, masalah kebersihan kembali menjadi perhatiannya. Berulang kali Titiek mengingatkan masalah kebersihan adalah masalah yang sangat penting, “Kandang harus bersih, harus dipilah antara kotoran padat dan cair, kotoran ini jika diolah dengan baik akan bernilai ekonomi lebih” tegas Titiek.
Pada kesempatan ini, Titiek juga menyampaikan tentang program dari Kemetrian Pertanian yaitu UPPO (Unit Pengolah Pupuk Organik). Titiek menyampaikan akan merekomendasikan Kelompok Tani Mandiri pada anggaran tahun depan untuk mendapatkan bantuan. Pernyataannya ini disambut tepuk tangan meriah oleh semua anggota Poktan. 

“UPPO adalah program Kementrian Pertanian, namun DPR RI diberi ruang untuk merekomendasikan kelompok tani mana yang dirasa berhak dan layak untuk mendapat bantuan program tersebut” jelas Titiek.

Senada dengan yang disampaikan Titiek Soeharto, Ketua Kelompok Pengkaji Paska Panen  yang juga Peneliti Madya bidang pasca panen Dr. Ir. Titiek F. Djafar, MP memberikan penegasan tentang pentingnya pemilahan kotoran atau limbah.
Titiek Soeharto mencoba memberi makan kambing
“Memang sangat penting adanya pemilahan limbah untuk kandang bersih, ini sejalan dengan program Kementrian Pertanian yaitu Bio Industri” ia juga berharap dengan kunjungan reses Titiek Soeharto  sekarang ini, aspirasi kelompok tani dampingannya ini tersampaikan di DPR RI.
Kelompok Tani Ternak Mandiri memang masih kesulitan dalam pengolahan limbah ternak, saat ini sudah mulai melakukan pengolahan namun masih terbatas sebab belum memiliki alat yang memadai. Sehingga pengolahan pupuk masih untuk kebutuhan dalam kelompok,  belum mampu memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi.
“Saya sangat senang dengan kunjungan Mbak Titiek, terlebih beliau sangat memahami apa yang kami butuhkan yaitu dengan merekomendasikan program UPPO kepada kelompok tani kami” Ujar Tamto kepada Cendana News. Dengan adanya alat pembuat pupuk organik kami yakin mampu memprodusksi pupuk organik sesuai permintaan pasar, imbuhnya. 
Titiek Soeharto meninjau produk Kelompok Tani Mandiri
Ada tiga keluhan utama yang menjadi catatan Cendana News selama sesi dialog yaitu, sulitnya membuat legalitas Merk Dagang (MD). Beberapa syarat yang harus dipenuhi dan dirasa sulit oleh petani adalah harus memiliki bangunan yang layak (pabrik/gedung),  perlengkapan pengolahan atau produksi hingga masalah kemasan. 
Keluhan berikutnya adalah apabila petani membutuhkan modal dan mengajukan pinjaman ke bank, bunga pinjaman bank sangat tinggi, dan ini memberatkan petani dikarenakan harga jual fluktuatif sementara biaya untuk operasional tetap/stabil. 

Menanggapi masalah keluhan modal, Titiek menyampaikan sebenarnya masalah seperti ini sudah menemukan solusi sejak Orde Baru karena Pak Harto mendirikan banyak yayasan untuk menjembatani masalah modal bagi petani, bersamaan dengan itu, Titiek juga menyampaikan akan mengupayakan membantu Poktan yang memang layak dibantu melalui yayasan tersebut.

Keluhan ketiga adalah masalah pengolahan limbah yang sudah ditanggapi oleh Titiek Soeharto dengan merekomendasikan Kelompok Tani Mandiri dalam program UPPO. 
Titiek Soeharto menyerahkan bantuan secara simbolis kepada beberapa Kelompok Tani
Usai acara tanya jawab dengan anggota Poktan yang hadir, Titiek menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Kelompok Tani Wanita, Kelompok Ternak Mandiri dan Karang Taruna Tani. “Dengan bantuan ini, saya berharap produknya semakin higienis sehingga kualitasnya semakin bisa ditingkatkan dan memiliki daya saing di pasaran” 
KAMIS, 6 Agustus 2015
Jurnalis : Ryan Ariyanto
Foto : Ryan Ariyanto
Editor : Gani Khair
Lihat juga...