Tukang Pijat Tradisional Masih Sangat Dibutuhkan

LAMPUNG — Usia sudah cukup tua namun semangat untuk tetap bekerja demi mencari nafkah tak menyurutkan Neli Sinaga (57) untuk memijat. Neli merupakan seorang wanita yang sehari hari sibuk menjadi tukang pijat bagi bayi, anak anak yang sakit bahkan orang dewasa yang memerlukan jasanya.
Neli yang saat ditemui Cendana News sedang memijat Ahmad (34) mengaku, awalnya dirinya bekerja sebagai penjual asongan di Pelabuhan Bakauheni. Tetapi sekitar 6 tahun lalu, dirinya sempat diminta memijat seorang anak yang terkilir kakinya, sehingga ia akhirnya dikenal bisa memijit bahkan bisa menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan rasa capek serta penyakit urat.
“Awalnya saya tak bisa memijat, namun mungkin karena sudah semakin tua saya harus berhenti bekerja di Pelabuhan dan diberi anugerah bisa memijat,”ungkapnya kepada Cendana News sambil mengurut pasien yang mengeluh sakit pada bagian urat punggungnya, Sabtu (01/08/2015).
Kemampuan Neli yang lebih akrab dipanggil Inang Eli (karena orang Batak) mulai menyebar dan setiap ada anak kecil yang memerlukan untuk dipijat, Inang Eli langsung dihubungi melalui telpon. 
Telepon genggam sederhana yang dimilikinya bahkan selalu berdering setiap hari, karena tak hanya anak kecil, bahkan orang dewasa pun memintanya untuk memijat, terutama jika kelelahan atau capek. Berbekal minyak urut ia pun dengan telaten akan memijat pasien yang akan dipijatnya.
Permintaan yang banyak dari beberapa warga di lingkungan tempat tinggalnya di Bakauheni tidak serta merta dipenuhi. Ia mengaku memijat bukan melulu untuk mencari uang tapi untuk menyembuhkan orang orang yang memerlukan pertolongannya. Ia bahkan membedakan dirinya dengan tukang pijat yang hanya berharap untuk memperoleh upah sementara kesembuhan pasien diabaikan.
“Saya kadang menolak dengan halus kepada orang yang mau dipijat jika saat bersamaan saya sedang memijat orang lain sebab satu jam terkadang belum selesai,”ungkap Inang Eli sambil terus mengurut.
Meskipun demikian, sebagai tukang urut ia tetap diminati oleh warga, bahkan warga terkadang memberi uang lebih sebagai tanda terima kasih. Inang Eli mengaku tak pernah mematok tarif namun orang akan dengan senang hati memberinya upah dengan upah satu hari kerja di daerahnya, yakni kisaran Rp30.000,- hingga Rp40.000,-  bahkan terkadang orang dengan senang hati bisa memberi lebih dari Rp60.000,-
“Saya tak pernah mematok berapa besaran uang yang harus saya terima, bahkan kalau orang tak membayar pun saya ikhlas terutama jika anak anak bayi yang sakit,”ungkapnya.
Neli juga memiliki hari hari tertentu dimana ia tidak menerima permintaan untuk memijat, sebab sesuai kepercayaannya, ia memiliki hari dimana tak boleh memijat. 
Profesi sebagai tukang urut tersebut diakuinya bukan tanpa kesulitan. Ia mengaku terkadang tidak nyaman jika orang yang diurut adalah laki laki, namun ia mengaku meminta isteri atau keluarga perempuan yang diurut untuk mendampingi. Namun jika anak anak ia tetap memijat dengan dampingan sang ibu atau ayah si anak.
Kepercayaan orang orang yang memerlukan tenaganya sebagai tukang urut atau tukang pijat hingga saat ini pun menyebar dari mulut ke mulut. Ia mengaku senang hati dengan membantu orang yang membutuhkan tenaganya sehingga ia bahkan siap dipanggil pada malam hari meski dirinya harus pergi ke rumah orang yang diurut dengan mengojek.
“Membantu orang kan tidak mengenal waktu, jadi kalau pun saya dipanggil untuk mengurut saya harus siap sewaktu waktu kecuali ada keperluan keluarga yang tak bisa ditinggalkan,”ungkapnya.
Wanita dengan tiga orang anak yang sudah berkeluaga ini mengaku tetap akan menekuni pekerjaannya sebagai tukang urut selama tenaganya masih kuat. Sang suaminya pun mendukungnya untuk tetap menekuni sebagai tukang urut. Jika tidak berhalangan sang suami akan mengantarkan ke orang yang akan diurut. Profesi yang ditekuni tersebut diakuinya bukan dijadikan sebagai sumber penghasilan sebab meski sebagai tukang urut namun ia masih membuka warung di rumahnya.
“Tukang urut hanya untuk membantu orang, ya kalau masih ada yang bisa saya bantu pastinya akan saya bantu terutama yang membutuhkan untuk diurut,”ungkapnya.
Setelah hampir selama satu jam setengah “pasien” yang dipijat merasakan bagian tubuhnya yang lelah agak berkurang. Ia mengaku agak lebih baik setelah dipijat dan berharap esok harinya akan lebih sehat untuk bisa menjalankan aktifitas sehari hari. Inang Neli pun berpamitan sambil tak lupa menerima tanda terima kasih yang diberikan kepadanya.
SABTU, 01 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...