Veteran Pejuang Prihatin Pada Patriotisme Generasi Muda

LAMPUNG — Energik, penuh semangat dan tinggal di sebuah rumah papan sederhana yang selama puluhan tahun, begitulah kondisi Wakiyo (87) yang masih tegap dan dengan ramah menyambut siapapun yang berkunjung ke rumahnya. Laki laki ini merupakan salah satu tokoh perjuangan dimasa penjajahan Belanda dan Jepang di wilayah Pringsewu.
Laki laki yang dalam masa perjuangan tersebut berjuang memanggul senjata untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang dari bumi Pringsewu, kini menjalani masa masa tuanya dengan menyibukkan diri sebagai petani. Sebagai salah satu veteran RI, ia mengaku masih kerap diundang oleh pemerintah dalam kegiatan penting maupun ulang tahun Kabupaten Pringsewu serta dalam setiap peringatan HUT Kemerdekaaan RI.
Pejuang kemerdekaan yang bersyukur masih diberi umur panjang hingga memasuki masa kemerdekaan RI ke-70 ini mengaku, sejak ulang tahun RI dari tahun ke tahun kondisinya pun masih tetap seperti sekarang ini dalam kesahajaan dengan menyibukkan diri menanam sayuran, bertani di kebun.
“Tuhan masih memberi rahmat kesehatan dari masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini sudah memasuki kemerdekaan dan saya terkadang mengenang masa masa perjuangan dengan kondisi saat ini yang tentunya sudah sangat berubah,”ungkap Wakiyo di rumah yang berada di Pekon Sukoharjo III, Kecamatan Sukoharjo, Kamis (27/8/2015).
Sebagai salah satu pejuang kemerdekaan diantara pejuang lainnya dari Pringsewu yang diantaranya sudah tiada, Wakiyo memiliki keprihatinan yang teramat dalam akan nasib pemuda dan bangsa Indonesia saat ini. Ya, keprihatinan bapak 10 anak yang juga kakek 21 cucu ini lebih dikarenakan, bangsa Indonesia saat ini sudah tidak lagi memiliki jiwa patriotisme dan jiwa merah putih yang sebenarnya.
“Setiap saya berziarah ke makam rekan seperjuangan terkadang saya menangis karena sedih jasa jasa dan perjuangan rekan pahlawan kala itu seolah sia sia jika melihat kenyataan yang ada saat ini, padahal dahulu kemerdekaan dibayar dengan nyawa,”ungkapnya berkaca kaca.
Saat kemerdekaan RI memasuki usia yang ke-70, dalam benak dan pandangan Wakiyo, kemerdekaan sejati adalah terbebasnya bangsa Indonesia dari tekanan, kekerasan dan segala bentuk penindasan lainnya. Termasuk penindasan secara ekonomi bahkan dari cengkraman kesulitan yang membuat negara ini terus terpuruk.
“Bahkan saat ini, bangsa Indonesia justru dijajah oleh bangsa kita sendiri dan ini bukan hanya pengandaian, mas bisa melihatnya sendiri dengan banyaknya korupsi dan mengambil kekayaan bangsa sendiri untuk kepentingan sendiri,” ungkapnya yang duduk di kursi kayu sederhana di rumahnya.
Kenyataan itu menurut Wakijo terlihat dari tayangan tayangan di televisi terkait kasus kasus korupsi pejabat, rebutan kekuasaan saat pemilihan kepala daerah serta berbagai peristiwa yang menunjukkan generasi penerus justru tidak mengisi kemerdekaan dengan baik.
Rasa prihatin Wakiyo juga ditambah dengan kondisi generasi muda zaman sekarang dan adanya kecenderungan, dimana, sebagai calon generasi mendatang, pemuda saat ini justru memiliki moral yang rusak serta jiwa kapitalisme yang kental. Selain itu, kata dia, pemimpin saat ini juga sudah berani memakan yang bukan haknya. 
“Pemuda saat ini hanya memiliki jiwa merahnya saja, mereka berani menindas dan merusak kemerdekaan yang sebenarnya tapi soal putihnya masih perlu dilihat dan direnungkan lagi,” ungkapnya dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca.
Dibalik ceritanya soal sederet perjuangan merebut dan memperjuangkan kemerdekaan melawan kolonial belanda dan Jepang Wakiyo mengemukakan kekecewaanya terhadap pemerintah yang dinilainya tidak memiliki kepedulian terhadap kelangsungan nasib para pejuang yang sudah merelakan nyawanya demi tegaknya republik ini.
“Pemerintah sekarang hanya memperdulikan diri sendiri, menumpuk harta dan kekayaan tanpa mau melihat, rakyatnya yang masih kelaparan. Perjuangan kami dimata mereka seolah-olah tidak ada maknanya,” ucapnya berapi-api. 
Dalam sanubarinya, Wakiyo berharap para pemuda bangsa untuk terus bangkit membangun Indonesia yang lebih baik, melawan dan menjauhi korupsi, menghormati jasa para pahlawan serta tetap menjaga dan melestarikan sejarah dan budaya bangsa. 
Setengah mengingat masa perjuangan yang dilalui bersama rekan-rekan seperjuangan, Wakiyo melafalkan sebuah bait puisi yang dihapalnya.
Pemuda pemudi Indonesia Raya. Curahkan tenagamu bagi tanah airmu. Marilah kita semua bersama-sama mengejar cita-cita yang suci dan mulia. Majunya Indonesia karena seiya-sekata. Berbaktilah-berbaktilah. Semua tenaga haruslah bersatu. Siap menghancurkan kianat korupsi,”ucapnya.
Dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca, seolah memendam kepedihan yang teramat dalam, dengan suaranya yang masih lantang, Wakiyo menambahkan lirik lirik puisi yang diungkapkannya lagi. 
Lihatlah benderaku Merah Putih, berkibar di udara riang gembira, merah berarti berani dan putih berarti suci. Itulah jiwa kita Indonesia,” ucapnya.
Mengenakan baju yang menandakan dirinya sebagai veteran RI ia juga masih sempat menunjukkan foto foto pahlawan kemerdekaan yang terpasang di dinding papan rumahnya. Kesederhanaan yang masih terpancar dari seorang pejuang yang sampai saat ini masih menghirup udara kemerdekaan. Sosok pejuang yang hingga kini hidup bersahaja meski pada masa perjuangan jasanya tertulis sebagai pejuang yang tertuang dalam sertifikat veteran yang disimpannya.

KAMIS, 27 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...