Walhi: Kerusakan Parah, 10 Tahun Lagi NTB Tidak Miliki Hutan

Truk yang mengangkut  Kayu Sono keling ilegal yang diamankan Polhut NTB

MATARAM — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Nusa Tenggara Barat mengungkapkan kerusakan hutan di NTB sudah mencapai angka 78 persen. Dimana, laju kerusakan hutan berada di level 1,4 persen atau minimal rusak 60 hektar pertahun. Bahkan, diprediksi dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, NTB tidak akan memiliki hutan.
“Dalam sepuluh tahun ke depan sudah tidak ada lagi hutan, dengan laju kerusakan 1,4 persen atau setara 60 hektar pertahun. Total kerusakan sudah 78 persen,” ujar Direktur Eksekutif Walhi NTB, Murdani di Mataram, Rabu (19/8/2015).
Ia menuturkan, saat ini luasan hutan di NTB mencapai 1,67 juta hektar dengan tutupan lahan sebesar 22 persen atau setara dengan 400 ribu hektar. Selain itu, total kerusakan hutan 22 persen berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan sisa hutan sebesar 40 persen. Sementara itu, hutan lindung yang tersisa diluar taman nasional hanya sedikit.
Melihat kondisi tersebut, Walhi mendorong agar Dinas Kehutanan mempunyai perencanaan strategis dalam pengelolaan hutan, melibatkan masyarakat secara partisipatif dalam mengawasi hutan dan memberdayakan masyarakat sehingga bisa menekan laju pembabatan hutan.
Murdani menambahkan, saat ini di kawasan hutan tanam rakyat sudah tidak terdapat kayu serta 700 hektar lahan hutan di kawasan hutan lindung Lombok Timur dalam kondisi yang rusak parah dan tandus. “Kondisi luas kawasan hutan kita tidak meluas tapi justru rambahannya yang semakin meluas,” ungkapnya di Mataram, Rabu (19/08/2015).
Sementara itu, potensi penebangan kayu yang dilakukan oleh pengomprong tembakau semakin tinggi sebab masyarakat mengalami kesulitan untuk mengakses bahan bakar jenis lain serta dominasi perusahaan untuk mengelola Hutan Tanaman Industri.
“Satu orang pengomprong tembakau sebanyak satu ton, rata-rata dia menghabiskan 2,8 sampai 3 kubik kayu,” katanya.
RABU, 19 Agustus 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...