Warga di Lampung Masih Kesulitan Peroleh Gas Elpiji 3 Kg

LAMPUNG — Warga di sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan dalam beberapa pekan ini mengalami kesulitan memperoleh gas elpiji ukuran 3 kilogram karena terlambatnya pasokan. Kesulitan tersebut terutama di beberapa daerah yang berada jauh di pedesaan, seperti di daerah Gandri Kecamatan Penengahan.
Kendati pihak terkait telah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan operasi pasar untuk menambah pasokan, namun justru beberapa desa mengalami kelangkaan dan harga masih belum normal. 
Salah seorang warga Desa Gandri kepada Cendana News, Minggu (2/8/2015) mengungkapkan, akibat kelangkaan tersebut membuat dirinya sementara memasak menggunakan kayu bakar.
“Selama tak ada tabung gas elpiji, ya kami memasak sementara menggunakan kayu bakar, kalau nanti sudah ada elpiji kami akan membelinya,”ungkap Mukmin.
Hal serupa terjadi di Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, keberadaannya sulit dicari, meskipun ada, harganya masih sangat tinggi, yakni Rp.25 ribu per tabung.
Salah seorang warga Desa Sidomakmur, Suminah (33) mengungkapkan, jika di desanya tidak satupun warung yang menjual gas. Ia bahkan mengaku sudah berusaha mencari ke beberapa warung, namun kosong.
Untuk mendapatkannya, dia terpaksa mencari hingga ke wilayah Kalianda meski harganya mencapai Rp25ribu per tabung. Harga tersebut sangat jauh berbeda dengan harga saat operasi pasar yang dilakukan sebelum lebaran dengan harga hanya Rp15ribu per tabung.
“Meski harganya mencapai Rp 25 ribu per tabung tetap saya beli, karena sekarang kalau tak ada gas kami tak bisa memasak,”ujar Suminah.
Ditempat lain, di Kecamatan Palas di daerah Tanjungsari, meski beberapa warung masih menjual elpiji ukuran 3 kilogram, namun harganya relatif tinggi. Dari pantauan bahkan beberapa warung menjual elpiji 3 kg dengan harga bervariasi, berkisar antara 20-25 ribu rupiah per tabung. Sementara dibeberapa pangkalan, jika sudah siang hari keberadaan gas elpiji sudah tidak ada.
Salah seorang warga yang sehari-hari berjualan gorengan dan pecel, Murdatin (34) mengaku harus membeli tabung elpiji di warung, meskipun biasanya membeli di pangkalan sebanyak 3 tabung. 
“Kalau belinya pagi masih kebagian, tapi karena sudah siang kami tidak kebagian di pangkalan dan terpaksa beli di warung dengan harga yang sudah naik,”ungkapnya.
Mengakali kondisi tersebut, ia mengaku meskipun sudah menggunakan tabung ukuran 3 kilogram untuk menggoreng makanan yang akan dijualnya, ia tetap menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu untuk memasak air.
“Kalau memasak semua pakai kompor gas biaya operasionalnya tidak sesuai dengan penjualan, makanya tetap gunakan kayu bakar dengan tungku,”ungkap Murdatin.

MINGGU, 02 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...