Warga Pulau Rimau Balak Masih Kekurangan Pasokan Gas Elpiji 3 KG

LAMPUNG — Kebutuhan akan gas elpiji di wilayah Kabupaten Lampung Selatan sempat mengalami kendala pasokan. Selain kendala pasokan tabung yang tersendat harga yang cukup mahal sempat membuat kaum ibu menjerit. Bahkan di beberapa tempat harga pernah mencapai kisaran Rp 23- Rp 24 ribu. Menurut warga di Muara Piluk Bakauheni, saat ini kebutuhan akan gas elpiji 3 kilogram sudah mulai normal baik pasokan maupun harga.
Sementara itu beberapa pangkalan dan penjual tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram di Bakauheni mengaku dalam beberapa pekan distribusi sudah mulai lancar. Pasokan lebih cepat habis akibat permintaan yang cukup banyak dari warung warung untuk dijual kembali. Sementara itu beberapa warung dan restoran lebih memilih tabung besar untuk memasak.
Salah satu pemilik pangkalan tabung elpiji 3 kilogram, Ahmad (45) mengaku seminggu hanya dua kali mendapat jatah hanya 200 tabung melon sehingga dalam seminggu sebanyak 400 tabung dipasok oleh distributor ke agen tersebut. 
“Namun selama ini kita dikirim malam hari oleh distributor siang harinya pasti sudah ludes karena dibeli oleh warung warung untuk dijual kembali,”ungkap Ahmad salah satu pemilik pangkalan di Bakauheni kepada Cendana News, Minggu (16/7/2015).
Sementara itu puluhan warga di Pulau Rimau Balak yang berada tak jauh dari Pulau Sumatera dan masuk ke Kecamatan Ketapang Lampung Selatan masih mengandalkan kebutuhan tabung elpiji 3 kilogram dari Pulau Sumatera. Salah satu warga Pulau Rimau Balak yang tinggal di daerah Paritan mengaku di wilayah Pulau Rimau tidak ada warung yang menjual tabung elpiji 3 kilogram.
“Kebutuhan akan tabung elpiji di pulau memang banyak namun karena tidak ada agen di pulau sehingga setiap hari kami harus ke daratan untuk membeli tabung sekaligus berbelanja kebutuhan sehari hari,”ungkap udin dan Sri isterinya di dermaga Muara Piluk Bakauheni.
Udin mengaku dua hari sekali pergi ke pasar Bakauheni menggunakan perahu tradisional untuk berbelanja kebutuhan sehari hari. Ia mengaku menjual hasil hasil kebun dan mencari ikan di sekitar untuk dijual ke pasar dan pulang kembali membeli kebutuhan beras, tabung elpiji, serta kebutuhan lain.
Selain Udin dan isterinya puluhan warga Pulau Rimau Balak ketiadaan agen elpiji membuat warga  harus menempuh perjalanan sekitar lima belas menit menggunakan perahu tradisional. Sementara cuaca buruk warga tak bisa menyeberang ke Pulau Sumatera.

MINGGU, 16 Agustus 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...