Warga Resah, Dampak Kemarau Picu Melonjaknya Harga Pangan


YOGYAKARTA—Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga. Demikianlah nasib wong cilik saat ini. Sudah ditimpa musibah kemarau panjang yang mengakibatkan krisis air bersih dan kekeringan, masyarakat masih harus menanggung dampak ekonominya. Musim kering itu menyebabkan hasil panen pertanian menjadi berkurang, sehingga harga jualnya pun melambung tinggi. Kenaikan harga sayur mayur terpantau di sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta.
Dampak musim kemarau panjang di Provinsi DI Yogyakarta tak hanya menimbulkan krisis air bersih. Namun juga berdampak kepada perekonomian masyarakat kecil. Gara-gara kekeringan itu sejumlah hasil pertanian seperti sayur mayur mengalami kenaikan harga sebesar 20 persen. Besarnya kenaikan harga kebutuhan pangan tersebut tentu saja membuat masyarakat mengeluh. Di sejumlah pasar tradisional di Kota Yogyakarta, semisal di Pasar Beringharjo, harga sayur mayur seperti mentimun dan cabai sudah terjadi sejak sepekan lalu.
Diungkapkan Sukamdi, pedagang sayuran dan Tarmini pedagang cabai di Pasar Beringharjo, harga mentimun mengalami kenaikan sebesar Rp 5.000 perkilonya. Sementara itu untuk harga cabai di semua jenisnya juga mengalami kenaikan. Cabai jenis keriting mengalami kenaikan harga dari Rp 27.000 menjadi Rp 33.000. Cabai teropong dari harga Rp 25.000 menjadi Rp 30.000. Cabe rawit merah dari harga Rp 50.000 menjadi Rp 55.000.
Sukamdi mengatakan, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan itu disebabkan oleh musim kemarau yang mempengaruhi jumlah panen. Dua jenis sayuran seperti mentimun dan sayur mayur, katanya, membutuhkan banyak asupan air pada saat ditanam. “Karena itu, di musim kemarau ini hasil panen mentimun dan cabai menurun drastis, sedangkan jumlah permintaan cenderung meningkat karena musim hajat pernikahan dan peringatan hari kemerdekaan”, cetus Sukamdi, yang ditemui Rabu (12/8).
Kenaikan harga sayur mayur, sambung Sukamdi, juga dialami oleh jenis sayuran lain seperti daun kemangi dan kentang. Daun kemangi yang sebelumnya hanya seharga Rp 3000, kini menjadi Rp 5000. Sedangkan untuk kentang, besar kecilnya kenaikan harga sebesar Rp 500-1000 perkilonya.
Namun demikian, tak serta-merta kenaikan harga sayur mayur itu membuat para petani tersenyum bahagia. Kenaikan harga jual hasil pertanian itu tak memberikan keuntungan berlebih, lantaran biaya produksi selama masa tanam juga ikut membengkak. Para petani harus susah payah mencari air untuk menyirami tanamannya, dan harus pula mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air  bersih. 
RABU, 12 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Gani Khair
Situasi Pasar Beringharjo, DI.Yogyakarya yang berhasil diabadikan Cendana News

Lihat juga...