Amien Rais: NKRI Sedang Rapuh dan di Ambang Kehancuran

Amien Rais

YOGYAKARTA — Menyusul bergabungnya Partai Amanat Nasional (PAN) ke dalam kubu pemerintahan Jokowi, membuat tokoh pendiri partai berlambang matahari, Amien Rais, merasa perlu menyampaikan pendapatnya. Kamis (03/09/2015), siang Amien Rais menggelar pertemuan dengan insan media di Joglo kediamannya di Sawit Sari, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. 
Amien Rais menanggapi serius bergabungnya PAN dengan koalisi partai pemerintah saat ini. Amien mengakui jika ia pun masih menunggu kepastian tujuan dari bergabungnya PAN ke dalam partai pemerintahan. Amien berharap, jika bergabungnya PAN ke dalam pemerintahan itu merupakan upaya awal untuk menyatukan semua kekuatan bangsa demi menghadapi tantangan yang kini sedang dihadapi bangsa dan negara, yang menurutnya, dalam bahaya.

Amien menegaskan, jika koalisi itu nanti hanya berhenti pada sekedar membentuk koalisi dengan berbagai perhitungan remeh temeh bagi-bagi kursi dan sebagainya, maka hal tersebut akan menimbulkan perpecahan politik yang lebih runyam.

Amien yang begitu tiba di pendopo joglo kediamannya sekira pukul 10.15 wib, tanpa basa-basi langsung membabarkan kegelisahannya terkait masuknya PAN ke dalam pemerintahan. Pasalnya, kata Amien, saat ini para pemimpin bangsa ini sudah kehilangan kewaskitaannya. Merasa percaya diri dan seolah masih kuat menghadapi tantangan ekonomi yang sudah semakin terpuruk.

Amien meminta agar semua elemen bangsa ini belajar dari sejarah runtuhnya negara-negara di dunia seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Dikatakan Amien, ada lima hal yang membuat negara itu bisa runtuh dan hilang dari peta dunia. Pertama, adalah gagalnya perekonomian negara seperti yang dialami oleh Uni Soviet dan Yugoslavia. Juga seperti krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 1998 dan yang sekarang ini rasa-rasanya akan mengalami krisis ekonomi yang agak berat lagi.

“Dalam kegagalan ekonomi itu, rakyat hanya merasa menjadi alas kaki para pemimpinnya yang rata-rata hanya pandai menebar janji dengan slogan-slogan yang menarik,”sebutnya.

Sebab kedua, para pemimpin terlibat konflik yang semuanya bersifat pragmatis bahkan menjurus kepada kepentingan yang bersifat hedonistis. Para pempimpin secara sadar berusaha memecah lawan-lawan politiknya, karena menganggap dengan politik pecah belah itu pemerintahannya bisa menjadi kuat.

“Hal tersebut agak mirip dengan bangsa ini sekarang,”sebutnya.

Sebab Ketiga, para pemimpin tidak kompeten dan dihinggapi rasa puas diri dan percaya diri yang berlebihan. Jika rasa puas diri dan percaya diri berlebihan menghinggapi diri seorang pemimpin, kata Amien, maka harapan perubahan semakin jauh dari kenyataan.

Sebab Keempat, perselisihan etnik sangat marak terjadi dan sebab kelima adanya kekuatan global yang memang ingin melihat kehancuran suatu negara. Menyitir pesan Bung Karno, Amein menegaskan jika suatu negara yang pecah di dalam, tidak akan bisa tegak berdiri. 

NKRI Sedang Rapuh

Sementara itu berkenaan dengan kondisi negara saat ini, Amien membeberkan, jika saat ini NKRI mengalami kerapuhan politik atau keraguan politik. Sedangkan, negara ini merupakan negara kepulauan dengan keberagaman agama, ras dan etnis serta tradisi yang memerlukan usaha tanpa henti agar bhineka tunggal ika benar-benar menjadi realitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping itu, sambungnya, Indonesia sekarang ini tidak peka lagi dengan kekuatan-kekuatan eksternal yang bisa melemahkan bangsa Indonesia.

Ada kesan kuat, kata Amien, pemerintah saat ini membungkuk terhadap pemerintahan asing. Sementara itu, kekuatan ekonomi asing akan membanjiri bangsa Indoensia seperti perbankan, pertambangan, pertanian, perindustrian dan berbagai bidang ekonomi bangsa Indonesia sudah didominasi oleh kekuatan asing. Bukan tidak mungkin, tegas Amien, Indonesia akan menjadi penonton yang lapar, karena kekuatan ekonomi asing menggasak nasional secara habis-habisan.

Berkait semakin dominannya kekuatan asing di tanah air, Amien mencontohkan jika saat ini 78  persen tanah di DKI sudah dimiliki oleh kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai jaringan kekuatan dari luar. Amien, menyadari jika pemerintah Jokowi saat ini memang mewarisi suatu keadaan yang tidak menguntungkan dari pemerintahan masa lalu. Namun, Amien menyayangkan pemerintah saat ini bukannya melakukan koreksi, dan justru memperparah keadaan dengan jalan mempermudah jalan masuknya kekuatan global yang sangat ingin meruntuhkan dan menguasai ekonomi nasional.

Karena itu, lanjut Amien, kewaspadaan nasional harus ditingkatkan. Jika bangunan ekonomi negara terus cidera dengan anjloknya rupiah dan terus meningkatnya krisis ekonomi ditambah lagi menguatnya gerakan sparatisme yang laten di seluruh bangsa Indonesia, kata Amien, maka kebutuhan untuk menghindari perpecahan politik menjadi mutlak. Karena itu, Amien mengusulkan agar dilakukan langkah politik besar untuk memperkuat eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara, di tengah masyarakat yang sudah tidak sabar dan semakin menderita di tengah kesulitan ekonomi yang semakin mencekik.

“Saya mengusulkan agar seluruh kekuatan politik melakukan dua sharing. Yaitu sharing of power dan sharing of responsibility. Melakukan pertemuan dengan seluruh pemimpin lembaga negara, dua pimpinan TNI dan POLRI, ketua umum-ketua umum partai, wakil agama, tokoh sepuh bangsa, wakil kampus, wakil pengusaha, media massa, dan semua elemen bangsa ini, untuk menyamakan  pandangan tentang krisis yang sedang kita hadapi. Dan, pertemuan itu harus dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden”, pungkas Amien.
KAMIS, 3 september 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...