Balas Dosa

CERPEN — Keruntuhan Desa Ancoklilot dalam lima tahun terakhir membuat warga Desa merasa bersalah.Pilihan warga Desa lima tahun yang lalu membuat Desa mareka yang dulunya hebat dan berdaya saing tinggi kini anjlok. Dukungan warga Desa terhadap Matliluk ternyata hanya membuahkan penderitaan dan menghasilkan dosa saja.
” Bagaimana nggak berdosa kita ini, kalau pemimpin yang kita pilih gagal total menjawab keinginan seluruh masyarakat selama rentang waktu lima tahun ini.Padahal kita iklas memilihnya tanpa embel-embel apapun,” ungkap Roy dengan nada setengah kecewa.
” Benar Bung. Kita ternyata salah besar,”sambung Tea.
” Untuk membalas dosa kita terhadap masyarakat, maka kita harus menjawabnya dengan membantu Pak Juara dalam Pilkades bulan depan. Bukankah selama kepemimpinannya dulu Desa kita hebat dan berdaya saing dengan Desa-desa lainnya di Kecamatan ini,” Jawab Roy.
Kesalahan moral yang dilakukan Roy dan kawan-kawan bukan hanya membuat Desa mareka hampir bergabung dengan Desa sebelah, namun membuat Desa mareka menjadi bulan-bulanan para aparat hukum. Hampir tiap minggu para penegak hukum datang ke Kantor Desa untuk memeriksa para aparat Desa. Kegagalan Matliluk yang menempatkan perangkat Desa bukan pada pengetahuannya dan pengalaman kerja serta kompetensi aparat Desa membuat para aparat Desa banyak melakukan kesalahan. Belum lagi beredarnya desas desus tentang adanya setoran ke atas membuat nilai proyek menjadi minim dan kadang tak sesuai dengan peruntukannya. 
” Terus terang, problem kami yang paling urgen adalah soal setoran ke pimpinan. Kalau tidak maka siap-siap dimutasi ke bagian yang tak sesuai dengan kompetensi kita. Contohnya Pak Mari. Pengalaman kerjanya sebagai Kasi Pemerintahan tiba-tiba dioper ke bagian pengairan. Kan tidak cocok dengan pengalaman dan pengetahuannya,” ungkap Pak Tri kepada rombongan Roy yang datang menemuinya.
” Belum lagi soal keterlibatan istri pimpinan yang sok berkuasa dan minta selalu dihargai itu makin membuat kami ini terjerumus dalam lingkaran yang tak bertuan dan dalam jurang kesesatan dalam mengabdi sebagai pelayan masyarakat,” ungkap aparat Desa yang lain dengan mimik muka sarat kekecewaan.
” Makanya berbagai predikat buruk selalu diraih Desa kita. Ya karena itu tadi,” sambung aparat yang lain.
Roy dan kawan-kawan yang dulunya mendukung Matliluk hingga menjadi Kepala Desa kini merasa berdosa. Mareka merasa berdosa atas apa yang menimpa Desa mareka dan masyarakatnya. Dulu mareka berasumsi bahwa Matliluk bisa menjawab keinginan masyarakat dengan gaya Matliluk yang sederhana dan merakyat. Roy dan kawan-kawan lima tahun lalu menganggap Matliluk adalah sosok pemimpin yang bisa mensejahterakan masyarakat. Ternyata apa yang diimpikan Roy dan kawan-kawan laksana punguk merindukan bulan. Matliluk bekerja ala dirinya dan tidak mengacu kepada perundang-perundangan yang berlaku. Matliluk bekerja dengan seenak perutnya. Tak pelak beragam predikat buruk mulai menghampiri Desa Ancoklilot dan masyarakatnya. Matliluk seakan tak peduli dengan aspirasi yang berkembang di masyarakatnya. Pemimpin yang dulunya diasumsikan mampu menjadi panutan masyarakat justru sibuk menebar bisnis dalam kegiatan di Desa mareka. Tak heran bila Matliluk pun sempat beberapa kali harus dipanggil aparat hukum.
Roy dan kawan-kawan masih ingat dengan peristiwa lima tahunan lalu saat mareka secara bersama-sama dengan bergerilya untuk memenangkan Matliluk. Saat itu yang bertarung dalam Pilkades hanya dua pasangan calon. Walaupun secara nurani enggan mendukung Matliluk,namun kekesalan mareka dan masyarakat atas perilaku para kelompok pekedindil  itu membuat mareka melawan dan mendukung Matliluk.
” Kami dulu mendukung Matliluk karena kami kesal dengan tingkah laku para pekedindil pemimpin saat itu yang sok kuasa dan mementingkan dirinya pribadi,” ungkap Roy saat mareka berkumpul di warkop Mang Jojon yang hingga kini masih membujang.
” Ya. Itu yang masyarakat lawan. Bukan pemimpin saat itu,” sambung yang lain.
” Mareka itulah yang membuat pemimpin saat itu kalah dan tumbang,” celetuk warga lainnya.
” Dan hebatnya saat itu kami mendukung Matliluk tanpa dana besar. Hanya ala kadarnya dan itu sumbangan dari para simpatisan. Dan tak ada dukungan dana dari Matliluk,” cerita Roy sambil ketawa ngakak.
Usaha Matliluk untuk mendekati kelompok-kelompok masyarakat dan komunitas mulai menemui jalan terjal bahkan buntu. Iming-iming dana yang besar tak menggoda para warga Desa untuk membantunya dalam Pilkades kali ini. Tak ada warga Desa yang tertarik dengan iming-iming yang menggoda dan wah yang ditebarkan Matliluk. Mareka bertekad ingin menumbangkan Matliluk. Hanya itu tekad warga Desa sebagai kompensasi kesalahan mareka lima tahun yang lalu.
” Kami membantu Pak Juara karena kami ingin membalas dosa kami lima tahun lalu,” ungkap warga Desa kepada timses Matliluk.
” Dan kami hanya ingin Desa ini hebat, berdaya saing dan bermartabat karena dikelola pemimpin yang cerdas, sudah terbukti dan berwibawa,” sambung warga yang lain. Wajah para timses Matliluk pun memerah atas jawaban masyarakat Desa.
Matliluk kini mulai menyadari kesalahannya. Pemimpin setengah baya itu mulai memahami bagaimana rasanya kalau masyarakat sudah tak merespon lagi dirinya. Pria ini mulai tahu bahwa ketika kepercayaan dari warga tak ada lagi maka jangan harap ada asa yang digantung dalam jiwa. Tak ada asa yang layak digantungkan.taka ada cita-cita yang patut diperjuangkan. Yang ada hanya perlawanan secara sporadis dari masyarakat. Dan itu adalah balas dosa dari masyarakat untuk Desa mareka,untuk warga Desa dan tentunya untuk Desa mareka.
Malam semakin melarut. Pernak pernik bintang menebarkan kerlap-kerlip sinarnya sembari susuri langit yang makin cerah sebagaimana cerahnya hati masyarakat Desa Ancoklilot yang akan menyambut datangnya pemimpin baru mareka.
MINGGU, 20 September 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...