BEM se Jabodetabek Desak Pemerintah Perbaiki Perekonomian Indonesia


NASIONAL — Pertumbuhan perekonomian indonesia yang hanya mencapai angka 4,71 persen pada kuartal 1 tahun 2015 dan 4,67 persen pada kuartal 2 dibawah target 5,4 persen sampai 5,8 persen pertumbuhan membuat rakyat mempertanyakan tindakan pemerintah. Ditambah dengan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan perusahaan memperburuk kondisi perekonomian. 
“Nilai tukar rupiah terhadap dollar US semakin melemah, masyarakat kita dibuat was was dengan kondisi ini, secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat, sebut saja kenaikan harga sembako, dan Pemutusan Hubungan Kerja,” ujar Rizki Hairul salah satu orator di Depan Istana Negara, Jakarta Jalan Medan Merdeka Utara, Kamis (10/09/2015).
Dia menyebutkan sebagian negara mengandalkan impor bahan pangan yakni beras dan gula, Anjloknya nilai tukar rupiah akan berimbas pada harga pokok.
“70 persen bahan pokok didapat dari proses impor, sehingga menjadi logis ketika nilai tukar lemah maka harga pokok mengalami kenaikkan, selain itu NKRI sedang dilanda kemarau panjang dan momentum Idul Adha sudah didepan mata kita, menyebabkan harga pangan meroket,” ucapnya.
Selain faktor tersebut, kata Rizki, ada mafia pangan yang melakukan penimbunan, permainan mafia itu turut berperan dalam memperkeruh kondisi perekonomian indonesia, situasi ini tidak bisa dibiarkan menjalar.
Rizki mengatakan Sampai dengan juli 2015 tercatat 11.350 pekerja Pribumi yang terkena PHK, kondisi ini tidak terlepas dari besarnya ketergantungan industri lokal terhadap bahan baku impor, dalam setiap proses produksi terdapat 60-70 persen bahan baku yang digunakan masih harus impor.
“Untuk itu Kami BEM Sejabodetabek – Banten menuntut dengan tegas kepada Jokowi untuk, Kendalikan harga pangan, Berantas mafia, dan melindungi pekerja lokal dari ancaman PHK,”katanya.

KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Adista Pattisahusiwa
Foto            : Adista Pattisahusiwa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...