Beralaskan Tanah, Semangat Belajar Murid SDN 1 Way Haru Tetap Tinggi

LAMPUNG — Salah satu daerah yang ada di bagian Kabupaten Pesisir Barat Lampung adalah Pekon Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing. Perjalanan dan akses menuju desa ini harus ditempuh menggunakan kendaraan ojek atau kendaraan bermotor serta gerobak sapi sehingga menjadi daerah yang cukup terisolir dan jauh dari daerah sekitarnya.
Sekitar 200 kilometer dari kota Bandarlampung, sedangkan dari Pekon Sumberejo ke Pekon Way Haru ini bisa ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Kondisi jalan yang masih cukup sederhana dengan jalan berbatu masih berjarak sekitar 4 kilometer dari Sumberejo menuju bibir pantai di Samudera Hindia. Setelah menempuh perjalanan berbatu masih harus dilanjutkan dengan menempuh perjalanan sepanjang pesisir pantai melwati jalan yang harus naik rakit, melewati muara sungai, serta melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menyusuri pantai sekitar 10 kilometer dan melewati jembatan gantung lebih dari 20 meter.
Di wilayah di pekon Way Haru ada Sekolah Dasar (SD) N 1 Way Haru Pekon Way Haru.  Sekitar 100 siswa belajar di SDN tersebut yang terdiri dari sebanyak 6 kelas yang menggunakan bangunan dan ruangan terbuat dari kayu papan dan beratapkan seng.
Meskipun sarana pendidikan di Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat Lampung yang masih terbilang minim tak menyurutkan murid di sekolah tersebut untuk menuntut ilmu. Ratusan pelajar berseragam merah putih terlihat belajar di ruang kelas beralaskan tanah.
Way Haru merupakan salah satu pekon yang berada di wilayah tanah marga termasuk Pekon Bandar Dalam, Pekon Way Tias dan Pekon Siring Gading yang terhimpit Samudera Hindia dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memang terlihat masih kurang mendapat perhatian.
“Sudah beberapa tahun kami menempati sekolah ini meskipun kondisinya masih sangat sederhana namun kami bersyukur masih bisa memberi pendidikan bagi anak anak di Way Haru,”ungkap Rosida salah satu guru SDN 1 Way Haru kepada media Cendananews.com Senin(7/9/2015)
Rosida mengaku ratusan siswa yang belajar di sekolah tersebut rata rata anak warga pekon setempat yang bekerja sehari hari sebagai petani pekebun. Masyarakat bahkan secara bergotong royong membuat sekolah secara swadaya agar anak anaknya bisa bersekolah dan mendapat pendidikan yang layak seperti anak anak seusianya di daerah lain.
Menurut Rosida saat ini sekolah ini memiliki guru sebanyak 8 orang yang terdiri dari satu kepala sekolah yang sudah PNS bernama Margono, serta sekitar 7 orang guru honorer diantaranya M.Yuzni, Rosida, Surohman, Herca Etra, Muklas, Wandi,Nada Naseha.
Hingga saat ini lokal yang digunakan masih menggunakan bangunan papan atap seng dengan dibangun swadaya masyarakat dan dari pantauan, beberapa atap sudah jebol sementara dinding papan yang menyekat antar kelas juga terlihat bisa tembus melihat ke kelas sebelah.
Salah satu murid kelas 6 Zendika Pebriansah mengungkapkan, saat ini ia mengaku bersyukur bisa menempuh pendidikan di SDN 1 Way Haru meskipun kondisi sekolah yang masih minim. Ia pun berharap beberapa fasilitas sekolah seperti perpustakaan dan lapangan olahraga bisa dibangun di lokasi tersebut karena saat ini lokal kelas pun juga digunakan untuk ruang guru.
“Kalau maunya sih ada sarana olahraga dan kami bisa seperti siswa di sekolah dasar lain yang ada di kota” ungkap Zendika.
Salah satu kendala di pekon tersebut dan dirasakan oleh para siswa serta warga diantaranya kondisi jalanan yang rusak. Masyarakat berharap agar ke depan bisa dibuat infrastruktur jalan yang memadai untuk keperluan belajar mengajar serta untuk kebutuhan masyarakat yang akan melakukan aktifitas di kabupaten yang merupakan pemekaran dari  Lampung Barat tersebut.
Dalam perjalanan ke SDN 1 Way Haru tersebut, Yayasan Transformasi Bangsa diwakili oleh Hindar dari Jakarta dan Supriyanto yang mengujungi sekolah di tepian Samudera Hindia sempat memberikan bingkisan kepada beberapa tenaga pendidik yang mengajar di SDN 1 Way Haru tersebut.
Hindar yang mengaku beberapa kali mengunjungi wilayah tersebut mengaku prihatin dengan kondisi sekolah tersebut yang masih jauh dari sempurna. Selain itu infrastruktur jalan masih sangat belum menunjang untuk aktifitas warga.
“Kondisinya masih memprihatinkan dan kita berharap akan ada perubahan di desa ini dan kami berharap bisa memberikan bantuan keperluan untuk listrik tenaga surya serta alat keperluan sekolah setelah kunjungan kami” ujar Hindar.

SELASA, 8 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...