BPS Lampung: Rata-rata Harga Gabah di Petani Turun 2,98 Persen

LAMPUNG — Musim panen yang tak merata di sejumlah daerah di Provinsi Lampung berdampak pada tidak meratanya harga gabah di tingkat petani. Beberapa daerah mulai memasuki masa panen sementara di daerah lain sedang memasuki masa tanam dan memasuki masa padi berisi.

Berdasarkan rilis yang diperoleh Cendana News dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan turun di bulan Agustus 2015 dan dikeluarkan pada awal September menurun. Hal ini disebabkan panen bulan ini lebih banyak dari bulan sebelumnya.

Pantauan di beberapa wilayah Lampung Selatan beberapa diantaranya sudah memasuki masa panen meskipun produksi gabah pada panen musim ini relatif rendah akibat kurangnya pasokan air.

Salah seorang petani di Kecamatan Penenengahan, Sobari (35) mengungkapkan, selama musim tanam kali ini dirinya harus mengandalkan pasokan air dari mesin pompa yang digunakan untuk menyedot air dari Way Asahan. Akibatnya pasokan air terpaksa lebih diirit dan pertumbuhan padi tidak maksimal.

“Sudah bisa panen dan padi kami tumbuh dengan baik cukuplah namun tentunya ada penurunan hasil sekitar 2 hingga 3 persen karena musim kemarau yang berdampak pada kuantitas bulir padi,”ungkap Sobari kepada media ini Kamis(3/9/2015).
Meskipun produktifitas padi yang menurun, namun hal tersebut tidak lantas membuat Sobari berpuas diri sebab kenyataannya harga gabah justru turun. Ia mengungkapkan penurunan tersebut diakuinya merugikan petani sehingga dirinya tidak  berniat menjual gabah miliknya. Sobari mengaku lebih senang menyimpan gabah yang sudah kering di rumahnya untuk konsumsi sendiri dan dijual dalam bentuk beras jika sewaktu waktu membutuhkan uang.
Berdasarkan data BPS Lampung penurunan rata-rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 2,98 persen dari Rp. 4.526,67 per kg menjadi Rp. 4.391,67 per kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama, turun sebesar 3,04 persen dari Rp. 4.622,38 per kg menjadi Rp. 4.482,05 per kg.
Selama Agustus 2015, Survei Harga Produsen Gabah mencatat 39 observasi. Observasi didominasi oleh kelompok gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP). Tidak dijumpai kelompok gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) dan gabah kualitas rendah.
Harga gabah tertinggi di tingkat petani mencapai Rp. 5.100,00 per kg pada gabah kualitas GKP dengan Varietas Ciherang terdapat di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah. Harga gabah terendah mencapai Rp. 3.800,00 per kg pada gabah kualitas GKP yaitu Varietas Melati dan Mayang terdapat di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur. Harga tersebut berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yaitu Rp. 3.700,00 per kg.
Di tingkat penggilingan, harga gabah tertinggi Rp. 5.220,00 per kg pada gabah kualitas GKP yaitu Varietas Ciherang terdapat di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, sedangkan harga gabah terendah kelompok kualitas GKP yaitu Rp. 3.880,00,00 per kg dengan Varietas Melati dan Mayang terdapat di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur. Harga tersebut berada di atas HPP yaitu Rp. 3.750,00 per kg.
Harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan turun di bulan Agustus 2015. Hal ini disebabkan panen bulan ini lebih banyak dari bulan sebelumnya. Penurunan rata-rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 2,98 persen dari Rp. 4.526,67 per kg menjadi Rp.4.391,67 per kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama, turun sebesar3,04 persen dari Rp. 4.622,38 per kg menjadi Rp. 4.482,05 per kg. 
Dari keseluruhan observasi yang dilakukan BPS selama Agustus 2015, pemantauan harga yang terbanyak berasal dari Kabupaten Lampung Timur 15 observasi (38,46 %), Kabupaten Lampung Tengah 12 observasi (30,77 %), Kabupaten Lampung Selatan 9 observasi (23,08 %), dan Kabupaten Pringsewu 3 observasi (7,69 %). Selama Agustus 2015, Survei Harga Produsen Gabah mencatat 39 observasi. Observasi didominasi oleh kelompok gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP). Tidak dijumpai kelompok gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) dan gabah kualitas rendah.
Harga gabah tertinggi di tingkat petani pada gabah kualitas Gabah Kering Panen adalah Rp. 5.100,00 per kg dan di tingkat penggilingan Rp. 5.220,00 per kg terdapat di Kecamatan Punggur,Kabupaten Lampung Tengah dengan Varietas Ciherang. Sedangkan harga terendah di tingkat petani untuk kualitas Gabah Kering Panen yaitu Rp. 3.800,00 per kg dan di tingkat penggilingan Rp. 3.880,00 per kg terdapat di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur dengan Varietas Mayang dan Melati.
Selain itu BPS mencatat selama Agustus 2015, Survei Harga Beras di Penggilingan mencatat 14 observasi yang terdapat di 5 kabupaten terpilih. Berdasarkan kualitas beras, observasi yang dilakukan didominasi beras kualitas premium. Berdasarkan jenis beras yang di perjual belikan didominasi oleh IR 64. Harga beras tertinggi di tingkat penggilingan mencapai Rp. 9.200,00 per kg untuk kualitas Premium jenis beras Ciherang terdapat di Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus. Harga beras terendah yang diperjual belikan bulan ini mencapai harga Rp. 8.000,00 per kg untuk beras kualitas Asalan jenis beras IR64 terdapat di Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Harga beras di tingkat penggilingan seluruh kelompok kualitas mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan kualitas beras yang kurang baik di musim gadu. Peningkatan rata-rata harga beras kualitas Premium 0,98 persen dari Rp. 8.950,00 per kg menjadi Rp. 9.037,50 per kg, harga beras kualitas Medium naik 5,18 persen dari Rp. 8.050,00 per kg menjadi Rp. 8.466,67 per kg. Harga beras kualitas Asalan naik 5,47 persen dari Rp. 7.775,00 per kg menjadi Rp. 8.200,00 per kg.
Salah seorang pedagang beras di pasar Bandarjaya Lampung tengah, Sumini (40) mengungkapkan saat ini daya beli masyarakat yang masih kurang mengakibatkan pembelian beras untuk kulitas premium menurun dan memilih beras kualitas medium.
“Ada penurunan pembelian untuk jenis beras premium karena banyak yang beralih ke beras kualitas medium, tapi semoga akan semakin meningkat jika kondisi ekonomi mulai membaik,”ujar Sumini.
Meminimialisir kerugian, Sumini bahkan tak hanya menjual beras di pasar tetapi sekaligus menjual berbagai kebutuhan warga baik minyak goreng, sayur mayur serta kebutuhan dapur lainnya. Pemilihan barang penjualan yang beragam dilakukannya untuk biisa menutupi kerugian akibat menurunnya daya beli masyarakat di pasar.
Selama Agustus 2015, harga beras di tingkat penggilingan beberapa kelompok kualitas mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan mutu beras yang kurang baik di musim gadu. Peningkatan rata-rata harga beras kualitas Premium 0,98 persen, kualitas Medium 5,18 persen, dan kualitas Asalan 5,47 persen.

KAMIS, 3 september 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...