Cukupi Kebutuhan Keluarga dengan Berjualan Jangkrik dan Undur-undur

JAKARTA — Berbagai cara orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik di Ibukota maupun di daerah. Tidak terkecuali Sigit adalah pria tua yang sudah 60 tahun berada di jalan kemuning, jatinegara, pemilik gerobak tua penjual jangkrik dan undur-undur. Sudah lima tahun terakhir ini ia menekuni usaha tersebut agar bisa terus menghidupi keluarganya.

Tepat diujung jalan kemuning atau lebih dikenal jalan mede depan pasar Jatinegara ada sebuah gerobak tua yang berisi hewan jangkrik dan undur-undur. Dia tetap bertahan meski rekan sejawatannya sudah beralih haluan.

“Saya tidak mau ikut-ikutan teman lainnya yang beralih jualan batu akik, lagipula sekarang pedagang batu akik sudah menjamur, keuntungannya juga sudah tipis,” urai Pak Sigit.

Jangkrik adalah hewan malam bersuara khas memekakkan telinga yang ternyata akan mengeluarkan suara khasnya tersebut siang dan malam jika distimulasi ujung kepalanya dengan ujung batang padi atau lidi dengan bulu ayam diujungnya. Sedangkan undur-undur dikenal sebagai larva berjalan mundur berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit pada diri manusia, seperti hipertensi, gula darah tinggi, paru-paru, dan berbagai penyakit lainnya.

Dengan berjualan jangkrik seharga 10,000 rupiah per ekor dan undur-undur seharga 1,000 rupiah per ekor,  ia bisa mendapatkan omset antara 100-180 ribu perhari, dan itu sudah dirasakan cukup baginya untuk tetap menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah.
Walau kesannya ia tertutup mengenai keluarganya,  namun sempat terlontar dari Pak Sigit bahwa ia tidak pernah mau mengandalkan anak-anaknya maupun orang lain dalam mencari nafkah.

“Selama kita sanggup untuk apa meminta-minta. Tuhan memberi tenaga dan harus saya manfaatkan sepenuhnya untuk keluarga dengan tetap bekerja dagang jangkrik dan undur-undur, ” tambah Pak Sigit.
Rupanya keteguhan hati Pak Sigit terbayarkan secara tunai, karena gerobaknya ramai dikunjungi pembeli jangkrik.  Tono seorang karyawan di daerah tebet mengatakan ia dan anaknya dirumah senang akan suara jangkrik.

“Saya selalu beli dua ekor jangkrik,  jika mati satu maka saya harus beli lagi sebelum anak saya menangis,” ujar Tono singkat.
Harapan Pak Sigit kedepannya adalah ia diberikan kesehatan lahir dan bathin agar tetap bisa berdagang demi mencari nafkah untuk keluarga.


JUMAT, 4 September 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...