Dalem Kalitan dan Masjid Kalitan, Dua Saksi Sejarah Pemimpin Rakyat.


SURAKARTA — Masjid Nurul Iman atau Masjid Dalem Kalitan yang baru saja diresmikan oleh Keluarga Besar Cendana pada Kamis pagi (24/9/2015), mulai dibangun sejak tahun 1996. Pada awalnya, masjid tersebut merupakan sebuah rumah kecil yang berada tepat di depan Dalem Kalitan sisi barat. Riwayat masjid tersebut tak bisa lepas dari riwayat Dalem Kalitan. Tak ada Dalem Kalitan, tak mungkin ada Masjid Kalitan. (Baca berita : Masjid Nurul Iman Dalem Kalitan, Investasi Akherat Keluarga Besar Cendana)
Menurut RM. Agus Suhendro, Kepala Rumah Tangga Dalem Kalitan, keberadaan Masjid Nurul Iman dan Masjid Kalitan dan Dalem Kalitan saling berkaitan. Jika tak ada Dalem Kalitan, kata Agus, tentu juga tidak akan ada Masjid Kalitan karena pada waktu itu Masjid Kalitan merupakan sebuah rumah milik warga setempat. 
Dalam sejarahnya, kata Agus, Dalem Kalitan itu merupakan rumah peninggalan Sunan Paku Buwono X yang pada tahun 1874 diberikan kepada putri sulungnya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Rumah tersebut kemudian menjadi kediaman turun-temurun dari Eyang Prawironegoro yang merupakan saudara dari Eyang Putri Sumoharyono. 
Karena zaman dan situasi perang pada waktu itu, kata Agus, rumah tersebut kemudiaan mangkrak. “Lalu, pada tahun 1967 ketika Pak Harto sudah sukses, tentu ingin memuliakan rumah peninggalan moyangnya. Keinginan Pak Harto itu juga sudah diupayakan sejak sejak tahun 1963, dan baru terlaksana tahun 1967”, jelasnya.
Setelah melalui musyawarah keluarga, akhirnya diserahkan kepada Pak Harto dan Ibu Tien, mulailah rumah tersebut dibangun kembali tanpa merubah bentuk aslinya. Joglo yang dari awalnya ada diperbaiki dan semua bagiannya dipercantik. 
Waktu itu, lantai rumah masih dari tegel buatan Belada dan sudah rusak. ”Namun karena mencari tegel kuno itu susah, diputuskan untuk menggantinya dengan marmer. Itu pun, Pak Harto dan Ibu Tien meminta agar marmer tersebut bukan dari luar negeri. Pak Harto dan Ibu Tien itu cinta produk dalam negeri, sehingga marmernya didatangkan dari Tulung Agung”, beber Agus.
Seiring dengan waktu, rumah yang telah dibangun dan diperindah dengan gebyok ukiran gaya Solo, menjadi rumah keluarga besar Cendana. Sejak Pak Harto dan Ibu Tien masih ada dan sampai sekarang pun, rumah tersebut difungsikan sebagai tempat berkumpul keluarga. 
“Seperti pada momentum lebaran Idul Adha ini. Dan di Dalem kalitan ini pula terpajang foto Pak Harto beserta Ibu serta sejumlah penghargaan yang pernah diterima oleh Pak Harto dan Ibu Tien”, katanya.
Pohon beringin yang berusia sekitar 50 tahun, menurut Agus menambah kemegahan Dalem Kalitan , dan menjadi tempat pilihan masyarakat sekitar untuk berteduh. Halaman seluas kurang lebih 1 hektar seringkali dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjalankan beberapa aktifitas, bahkan banyak warga menempati lahan depan komplek untuk berjualan. 
“Keluarga Cendana tidak berkeberatan dengan keberdaan pedagang kaki lima itu, karena mereka juga mencari rejeki. Bahkan, turun-temurun pula beberapa pedagang yang berjualan di komplek dalem masih ada sampai kini”, paparnya.
Seiring berjalannya waktu, sambung Agus, pada tahun 1996  Pak Harto menginginkan adanya sebuah masjid di Komplek Dalem. Selain memang ingin memberikan sedekah hibah bermanfaat dunia akherat kepada masyarakat, tentu keinginanan itu juga agar masyarakat yang sering memanfaatkan lahan di depan komplek dalem tak kesulitan untuk melakukan ibadah solat. 
Maka diputuskan untuk membangun masjid di depan komplek dalem sisi barat. “Sebelum dibangun masjid, tempat itu dulu merupakan rumah kecil milik warga. Dengan musyawarah kekeluargaan, pun warga pemilik rumah itu tak keberatan jika rumahnya dibeli untuk dijadikan musola. Lalu, dibangunlah musola pertamakalinya pada tahun 1996”, tuturnya.
Musola tersebut diberi nama Nurul Iman. Sejak pertama kali dibangun, musola selalu dipenuhi jemaah untuk melakukan kegiatan keagamaan. Melihat perkembangan jumlah jemaah yang semakin bertambah maka pada tahun 1998 musola tersebut dipugar menjadi masjid. 
Masjid Nurul Iman diregistrasi di Pemda setempat dan keluar surat penetapannya sebagai masjid pada tahun 1999. Dan sejak itu pula masjid mengalami renovasi dan perluasan, diawali dengan pemasangan kanopi di bagian depan serambi masjid dan pelebaran sayap kiri dan kanan oleh Tommy Soeharto. Lalu, pada Desember 2014, berdasarkan keinginan dari Keluarga Besar Cendana, dilakukan pemugaran besar-besaran.
Masjid yang semula sederhana, kata Agus, dengan pengawasan langsung Mbak Tutut dan segenap keluarga, Masjid Kalitan dibangun ulang dengan desain arsitektur perpaduan Jawa, Indonesia dan Timur Tengah. Masjid yang kemudian selesai pada pekan ini diresmikan oleh Keluarga Besar Cendana.
Masjid Nurul Iman tak sekedar dibangun megah berlantai dua dengan daya tampung 800 jemaah. Namun juga penuh makna dan pitutur (pesan).
Agus menjelaskan, bangunan masjid itu terdiri dari beberapa bagian yang melambangkan Ke-esa-an Tuhan, Rukun Iman dan Rukun Islam. Di depan pintu masuk, kata Agus, ada segitiga berjumlah lima yang melambangkan Rukun Isam, dan di bagian dalam masjid ada sejumlah enam segitiga yang merupakan lambang Rukun Iman. Lalu, di bagian atasnya ada segitiga berjumlah satu yang melambangkan Ke-esa-an Allah. “Gaya arsitektur ini sengaja dipilih supaya unik dan lebih khas dan bermakna. Diharapkan juga bisa menjadi ikon wisata reliji di Kota Solo”, katanya.
Setelah Masjid Kalitan menjadi semegah sekarang, jemaah kian banyak memenuhi masjid untuk seholat berjamaah. Perkembangan pesat ini tidak lepas dari peran keluarga yang selalu memperhatikan kondisi masjid. Juga warga jemaah setempat yang selalu menjaga kebersihan dan kenyamanan.  
Terkait peresmian masjid, sambung Agus, ada kisah menarik yang bagi keluarga bnermakna dalam. “Masjid itu sebenarnya hendak dilakukan peresmiannya pada tanggal 8 Juni yang bertepatan dengan lahirnya Pak Harto. Namun, masjid itu belum selesai. Lalu, ditetapkan lagi pada 23 Agustus yanng merupakan hari lahir Ibu Tien dan hari lahirnya Mbak Mamik. Tapi, masjid itu belum juga selesai pembangunannya. Ternyata, Tuhan memang berkehendak agar Masjid itu diresmikan pada saat hari Idul Adha, yang merupakan hari khaul wafat Ibu Tien”, pungkas Agus. 
KAMIS, 24 SEPTEMBER 2015
Jurnalis : Koko Triarko
Foto : Koko Triarko
Editor : Gani Khair

Lihat juga...