Di Maluku, Investasi Akhirat HM Soeharto Terus Mengalir

Masjid Kampus IAIN Ambon
AMBON — Satu dari sekian sisi positif dari kepemimpinan Presiden RI Kedua, Almarhum Jenderal Haji Muhammad (HM) Soeharto, adalah membangun rumah ibadah dengan tujuan berinvestasi akhirat.
Di Provinsi Maluku, ada 6 unit bangunan masjid yang dibangun Almarhum Jenderal Besar HM. Soeharto, di bawah naungan Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP). 
  1. Di Desa Kampung Buru Kecamatan Banda Naera Kabupaten Maluku Tengah.
  2. Perumahan Pemda Desa Watdek/Ohijang Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. 
  3. Perumahan Nasional Poka Kelurahan Poka Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon.
  4. Kampus IAIN Ambon Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon.
  5. Kampus Universitas Pattimura Ambon Desa Poka Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon.
  6. Perumahan Bumi Wayame Kelurahan Wayame Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon.

Investasi akhirat Almarhum HM. Soeharto di Maluku itu, hingga sekarang terus mengalir. Enam unit masjid yang dibangun Yayasan Amalbakti Pancasila di Ketuai Almarhum HM. Soeharto, bangunannya masih utuh dan terus diamaliah oleh umat muslim setempat.
Kamis (24/9/2015) Cendana News di Ambon berkesempatan sholat Idhul Adha Berjamaah di salah satu masjid yang dibangun Almarhum HM. Soeharto, tepatnya di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon.
Masjid ini selain dipakai untuk sholat berjamaah, juga digunakan oleh para mahasiswa IAIN Ambon untuk belajar pembinaan Al Qur’an.
Sholat idul adha kali ini, tampak jamaah padat hingga ada yang sholat di halaman masjid berukuran 19 m x 19 m tersebut.
Suasana sholat idul adha di Masjid yang diresmi pada 21 Oktober 1995 oleh Presiden RI Kedua itu, dipenuhi jamaah, mulai dosen mahasiswa dan warga masyarakat yang tinggal di lingkungan kampus IAIN Ambon.
Bertindak sebagai imam, Drs. Muhammad, MM, Dosen IAIN Ambon, sedangkan Khotib DR. Asani, S.Ag,M.Pd.i (Dosen IAIN Ambon), dan Muadzin Moh. Hasan Pattikupang (Juga Pengurus Masjid/Pegawai di IAIN Ambon).
Dalam khotbahnya, DR. Asani, S.Ag, M.Pd.i, mengajak semua umat Islam untuk merenungi makna Ibadah Haji dan Ibadah Qurban.
Dijelaskan, salah satu makna terbesar yang terkandung dalam ibadah haji adalah persatuan dan kesatuan umat.
Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah haji memasuki miqat. Disini para jamaah harus berganti pakaian. Karena melambangkan pola, status dan perbedaan-perbedaan tertentu.
Pakaian menciptakan “batas” palsu yang tidak jarang menyebabkan “perpecahan” di antara manusia.
Dari perpecahan itu timbul konsep “aku” bukan “kami” atau “kita”.
Sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku, bangsaku dan sebagainya yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme. Penonjolan “keakuan” adalah perilaku orang musyrik yang dilarang oleh Allah SWT.
DR Asani memetakan problematika umat islam abad ini tak lain karena telah jauh dari ajaran islam, Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
“Problem-problem umat islam semakin bertambah banyak dan kompleks” tandasnya.
Ia menekankan, inti dari problematika itu pada hakikatnya adalah krisis rohani yang sedang melanda umat islam karena tidak mengamalkan ajaran dan hukum islam secara konsekuen.
Sudah begitu, tokoh-tokoh islam semakin jauh dari ajaran islam. Banyak yang mengatasnamakan islam untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya, tidak memberikan contoh yang baik kepada pengikutnya.
“Pada akhirnya islam tidak lagi dipercayai dapat menyelesaikan masalah umat manusia. Padahal di tangan umat islamlah terletak tanggung jawab problematika-problematika umat manusia, sebagaimana yang telah dibuktikan umat Islam di masa kejayaannya karena konsekuen dengan ajarannya,” ulasnya.
Sayangnya, umat Islam sendiri sedang menghadapi problema internal yang diakibatkan oleh perpecahan dan tersobek-sobeknya kesatuan.
Menurut DR Asani, keadaan seperti ini akan terus berlangsung selama umat Islam masih tetap dalam perpecahan, dan tidak berkehendak mencari jalan keluarnya.
“Mudah-mudahan dengan merenungi makna ibadah haji kali ini umat Islam menjadi sadar, betapa pentingnya keversamaan dan kesatuan umat dalam menyelesaikan problematika umat manusia dewasa ini,” harapnya.
Dikemukakan, problematika-problematika besar yang menghadang umat Islam seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan sebagainya akan terselesaikan dengan baik, apabila ada istiqamah dalam agama Islam.
Kesatuan dan kebersamaan umat islam akan terwujud apabila mampu menangkap makna ibadah haji, juga mampu memaknai ibadah Qurban dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mempersatukan umat Islam memang tugas besar dan berat. Untuk itu butuh pengorbanan yang besar dan berat,” jelasnya.
Seperti diketahui, ibadah Qurban bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim as, menyembelih anaknya, yaitu Nabi Ismail as.
Sebagai seorang Nabi yang menyerukan Tauhid, Ibrahim melaksanakan tugas berat dalam sebuah masyarakat tiran dan penuh perlawanan. Namun setelah seabad menanggungkan segala macam derita dan siksaan, Ibrahim berhasil menanamkan kesadaran dalam diri manusia-manusia akan cinta kemerdekaan dan keberagamaan.
Di akhir khotbahnya, DR Asani menyimpulkan, pelaksanaan ibadah haji laksana sebuah sinetron dimana pemeran utamanya ada tiga orang. Masing-masing mewakili generasi dan kaum.
“Pemeran pertama adalah Nabi Ibrahim as, mewakili generasi tua. Pemeran kedua, Sitti Hajar dan Sitti Sarah mewakili kaum wanita, serta Nabi Ismail as, mewakili generasi muda,” tutupnya.

Jurnalis CND di Masjid YAMP Kampus IAIN Ambon
KAMIS, 24 September 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Foto            : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...