Diduga Persaingan Bisnis, Tukang Senso Kayu Ditembak OTK

JAYAPURA – Diduga persaingan bisnis kayu, Kuba Marmahu (38) ditembak orang tak dikenal (OTK), saat korban sedang bekerja di Kampung Skopro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Rabu (09/09/2015). Korban mengalami luka tembak pada kepala belakang tembus mata kiri dan kini telah dirawat secara intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua.
Wakapolres Keerom, Komisaris Polisi Bambang Irawan mengakui adanya penembakan yang mengakibatkan satu orang warga sipil di Distrik Arso Timur, Keerom. “Korban kena luka tembak di kepala, pelurunya masih bersarang di kepala,” kata Bambang via seluler.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol Rudolf Patrige menguraikan bahwa penembakan terjadi sekitar pukul 09.00 WIT. Dibeberkannya, korban mengalami luka tembak pada bagian kepala belakang, tembus ke mata kiri, serta tangan kiri terkena panah, tembus perut.
“Saat kejadian korban diketahui sedang menyenso kayu, kami masih mencari motif dan pelaku penembakan,” kata Patrige.
Kuba Marmahu (38) korban penembakan juga benarkan penembakan tersebut, ia menjelaskan saat kejadian, dirinya sedang senso kayu seorang diri. “Saat senso saya tiba-tiba jatuh dan saya baru tau kalau saya ditembak. Waktu saya jatuh ditanah, saya didatangi empat orang,” kata korban yang masih sempat berikan keterangan pers kesejumlah wartawan saat dibawa menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Bhayangkara.
Sementara itu, Jamilatun, istri korban saat ditemui sejumlah wartawan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua, Kota Jayapura mengatakan suaminya telah bekerja sebagai tukang senso kayu selama satu tahun lebih. “Saya tadi dapat info dari bosnya suami saya,” kata Jamilatun.
Penembakan di Keerom, Papua diduga Persaingan Bisnis Kayu
Pasca penembakan di Distrik Arso Timur, Dewan Adat Keerom mengklaim insiden tersebut murni persaingan bisnis kayu di Kabupaten Keerom, dan bukan karena masalah politik kemerdekaan Papua atau politik lainnya.
Ketua Dewan Adat Keerom, Herman Yoku menegaskan penembakan yang terjadi di kampung Skopro saat sedang senso dan tertembak. Kalau diurut jalur bisnis kayu tersebut berpusat di Kampung Krikuk. Seluruh persoalan ini, lanjutnya, bukan soal politik Papua Merdeka atau politik-politik lainnya.
“Hari ini saya luruskan ini semua kembali dari bisnis antara pengusaha dengan pengusaha. Apart kita, intelijen kita, bisa tidak ungkap ini. Saya secara tegas sebagai dewan adat, saya tidak mau dengar penembakan itu ada Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM), itu adalah murni bisnis pengusaha dan pengusaha, salah satu karyawannya menjadi korban,” tegas Yoku ke sejumlah wartawan di Kota Jayapura, Rabu (09/09/2015).
Persoalan ini ia serahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum, khusus polisi agar mengusutnya hingga tuntas keakar-akarnya. Sehingga, menurutnya, masyarakat yang ada di wilayah adat Keerom tidak menjadi resah.
“Khusus daerah Yeti, Distrik Arso Timur adalah daerah berkembang yang saat ini ada perusahaan Tandang Sawita yang perusahaannya PT Rajawali itu sedang lagi berinvestasi dan berkebun demi masyarakat yang ada di perbatasan. Karena masyarakat saya sudah menjadi korban politik Papua merdeka,” ujarnya.
Selaku tokoh perbatasan RI-PNG di kabupaten Keerom juga menjelaskan banyak bisnis ilegal yang berkecimpung di wilayah tersebut, seperti bisnis kayu, bisnis minuman keras dan bisnis narkoba jenis ganja.
“Besok saya akan turun langsung kelokasi kejadian, yang jelas banyak bisnis ilegal disana yang paling tren bisnis ganja, terus kayu dan miras,” dijelaskan Yoku.
Saat disinggung soal persaingan bisnis, yang diduga dibekingi oknum aparat kepolisian? Ia menampik tak memvonis institusi mana, karena hal tersebut konteksnya pihak intelijen yang dapat mengungkapnya.
“Pengusaha kayu banyak, ada perorangan dan perusahaan. Kalau bisnis kayu perorangan saya tidak bisa hitung, karena hampir semua cari makan disana. Kalau perusahaan hanya ada 4 perusahaan. Tapi yang sudah beroperasi adalah PT Batasan di daerah kampung Ampas, Distrik Waris. Kalau dilokasi penembakan, itu bisnis kayu perorangan, jadi ada persaingan bisnis disana,” ungkapnya.
RABU, 9 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta

Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...