Dishut NTB Targetkan Rehabilitasi Sepuluh Ribu Hektar Hutan Gundul

Kepala Dinas Kehutanan NTB, Andi Paramaria
MATARAM — Kerusakan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat akibat aksi pembalakan liar oleh warga, telah menyebabkan hutan menjadi gundul. Pohon – pohon besar yang ada dan seharusnya menjadi penyangga banyak yang ditebang dan dibabat warga tanpa ampun, termasuk pohon yang masih umurnya kecil.
“Kerusakan hutan kita sekarang ini sudah terlalu parah sehingga harus segera direhabilitasi dengan melakukan penanaman kembali pada lahan yang gundul pada musim penghujan mendatang dan proses rehabilitasi kita targetkan mencapai sepuluh ribu hektar,” kata Kepala Dinas Kehutanan Andi Paramaria di Mataram, Jumat (25/9/2015).
Dikatakan, kondisi hutan yang gundul padahal sangat berbahaya menimbulkan terjadinya bencana longsor pada musim hujan, karena pohon penyangga tanah pegunungan sudah ditebang dan banyak yang hilang.
Andi mengatakan, proses rehabilitasi yang telah dilakukan Dishut sebelumnya hanya baru tiga ribu hektar. Rendahnya luasan hasil rehabilitasi hutan tersebut tidak terlepas dari masih minimnya anggaran diberikan, baik bersumber dari APBD maupun APBN.
“Dari APBD anggaran setiap tahun hanya 500 juta setiap tahun, sementara dari APBN hanya  1 Miliar pertahun untuk masing-masing Kabupaten Kota di NTB, sangat tidak sebanding dengan luasan hutan yang ada dan dikelola Dishut,”katanya.
Tidak hanya itu, menurutnya,  kelemahan merehabilitasi hutan selama ini juga tidak dibarengi maksimalisasi pengamanan hutan. Sehingga, kerusakan hutan bisa lebih besar daripada upaya rehabilitasi yang dilakukan. Termasuk, anggaran untuk polisi kehutanan pertahun relatif rendah sebesar Rp.300 juta.
Berdasarkan data Dishut NTB, luasan kerusakan hutan akibat pembalakan liar di seluruh wilayah NTB telah mencapai 200.309 hektar dengan lokasi kerusakan paling parah banyak terjadi di Pulau Sumbawa

JUMAT, 25 September 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...