Diusulkan Mahasiswa KKN, Kesenian Batombe Tampil di Festival NJT3

?PADANG — Panitia Festival Nan Jombang Tanggal 3 (NJT3) menampilkan kesenian Batombe pada Kamis (03/09/2015) pada pukul 20.00 WIB. Batombe merupakan kesenian yang berasal dari kecamatan Sangir Batang Hari, Solok Selatan. Ada tiga daerah tempat pengembangannya, Ranah Pantai Cermin, Abai dan Sitapus.

“Itu memang sudah kesenian yang lama terpendam. Menarik untuk menyaksikannya kembali,” ujar seniman tradisi, Hasanawi dari Langkok Grup. 

Batombe biasa dimainkan ketika ada pesta perkawinan atau hari seremonial adat dan agama. Bentuknya berbalas pantun dengan rebab sebagai pengiring. Pantun-pantun akan didendangkan dalam bahasa asli Kecamatan Sangir Batanghari. 
Pada mulanya, kesenian ini tercipta dari sebuah ketidaksengajaan. Dahulu, ketika nagari Sitapus masih menjadi hutan belatara, masyarakat berkeinginan memiliki tempat berlindung dari makhluk buas.
Pada masa itu kaum laki-laki bergotong-royong mengambil kayu di hutan, kayu-kayu yang diambil para lelaki digunakan untuk membangun rumah gadang. Jenuh dengan kegiatan mengambil kayu di hutan, para perempuan berinisiatif bernyanyi untuk menghibur para lelaki yang sedang mengambil kayu di hutan. Pada akhirnya, kegiatan itu menjadi kesenian di nagari Sangir Batang Hari.
“Dari cerita yang saya dapat, dahulu Batombe bisa dimainkan banyak orang. Asal berpasang-pasangan. Tetapi karena sekarang seniman Batombe sudah sedikit, maka saat ini Batombe hanya dimainkan oleh dua orang. Biasanya pantun-pantun yang dimainkan berisikan syair-syair percintaan,” ujar Miftahul Usman, mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) Unand yang memediasi kesenian ini tampil di NJT3.
Jika dimainkan dalam nagari Ranah Pantai Cermin, Abai, Sitapus, kesenian ini menjadi sangat sakral. Tidak boleh dimainkan pada tempat dan waktu sembarangan. Dalam proses kegiatannya, harus ada satu kerbau atau kambing (sesuai kemampuan) yang disembelih setelah mendapat ijin dari perangkat adat nagari untuk melaksanakan kesenian ini.  
Kesenian ini sempat ‘lenyap’ untuk beberapa masa. Alasannya, Batombe jadi kambing hitam banyaknya perceraian yang terjadi di daerah sana.
“Itu benar. Saya pernah mendengar kabar itu sewaktu di Solok Selatan,” kata Joni Andra, Koreografer Impessa Dance Company. 
Selain Batombe, akan ada juga randai dari grup di Ranah Pantai Cermin. Kesenian ini sempat mati, namun kedatangan mahasiswa KKN membuat kesenian tradisi di sana kembali bergairah. Para Mahasiswa dari Unand itu kemudian yang menawarkan pada panitia NJT3 untuk menampilkan seni tradisi ini.
“Kami tentu menyambutnya dan mengucapkan terima kasih pada mahasiswa KKN yang sudah mau ikut menjaga budaya tradisi kita,” ujar Angga Djamar, direktur festival.
JUMAT, 4 September 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...