Diyakini Bisa Hidup Lagi, Jenazah Pendeta Disemayamkan di Gereja

Gereja Tabernakel
YOGYAKARTA — Jemaat Gereja Kristen Mempelai Kristus Tabernakel Yogyakarta meyakini Pendeta Paulus Tribrata yang meninggal sejak 11 September 2015 akan hidup kembali setelah 30 hari. Dalam proses menunggu, jenazah pendeta disemayamkan di dalam gereja dan hal tersebut menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Muspida, Muspika Tegalrejo Yogyakarta melakukan pertemuan tertutup dengan pihak Gereja Kristen Mempelai Kristus Tabernakel Yogyakarta beserta sejumlah tokoh masyarakat di Balai Kota Yogyakarta untuk mencari solusi terbaik. 
Haryadi Suyuti Walikota Yogyakarta
Walikota Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyebutkan, hasil dari pertemuan itu, bahwa jenazah Pendeta Paulus Tribata akan segera dipindahkan ke kamar mayat RSUP Dr Sardjito, karena tidak layak jika jenazah tetap berada di dalam gereja. 
Haryadi mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan keyakinan jemaat Gereja Kristen Tabernakel, dan dia mengaku tidak tahu perihal kabar yang menyatakan jika Pendeta Paulus diyakini bisa bangkit lagi setelah 30 hari terhitung sejak kematiannya 11 September 2015. Haryadi hanya menegaskan, sebagaimana layaknya jenazah yang belum dikebumikan harus disimpan di kamar mayat rumah sakit.
Sementara itu, pihak Gereja yang dalam pertemuan tersebut diwakili Humas Gereja, Sundang Guguk mengatakan, jika pihaknya telah menyampaikan semua hal terkait keyakinannya terkait meninggalnya Pendeta Paulus. Sundang mengaku, jika pihaknya juga akan mengikuti petunjuk walikota. 
Sundang Guguk
“Sementara ini selama 30 hari kami akan berkabung dan melaporkan perkembangannya kepada Walikota,” tuturnya.
Sebelumnya, beredar kabar yang menyebut Pendeta Paulus Tribata telah mengalami 4 kali mati suri. Karena itu ketika pendeta tersebut kembali dinyatakan meninggal karena sakit diabetes yang dideritanya di RSUP Dr Sardjito, pihak gereja tak mau memakamkannya. Diyakini, pendeta tersebut akan bangkit lagi setelah 30 hari kematiannya. 
Tak ingin hal itu menimbulkan keresahan, dalam pertemuan tertutup di Balai Kota Yogyakarta, diputuskan jenazah pendeta untuk dibawa ke kamar mayat RSUP Dr. Sardjito, guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Sementara, pihak gereja tak mengijinkan awak media mengambil gambar jenazah pendeta yang diyakini bisa hidup lagi itu. Bahkan, gereja pun terkesan tertutup dan protektif terhadap warga yang bukan jemaatnya. 
MINGGU, 27 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...