Gelombang Laut Tinggi, Puluhan Nelayan di Yogyakarta Menganggur

YOGYAKARTA — Puluhan nelayan di pesisir selatan Kulonprogo, Yogyakarta, terpaksa menganggur karena sejak dua hari ini gelombang laut naik hingga setinggi 7-8 meter. Sambil menunggu, penangkap ikan tersebut hanya membersihkan jala dari sampah.
Johan Susanto (40), nelayan Pantai Congot, Kulonprogo, Yogyakarta, terpaksa mengurungkan niatnya melaut bersama istrinya, Kamis (10/9), pagi. Ia mengatakan, jika sejak dua hari ini ombak Laut Selatan di sepanjang pesisir selatan Kulonprogo seperti di Pantai Bugel, Pantai Congot, Pantai Trisik dan Pantai Glagah sedang tinggi. Takut terjadi hal yang tak diinginkan, Johan pun memilih untuk mendarat dahulu.
Johan tak sendirian. Puluhan nelayan lainnya pun juga memilih tak melaut. Alhasil, puluhan kapal terlihat berjejer di pinggir pantai. Sejumlah nelayan pun tampak hanya duduk-duduk saja sambil memandangi lautan lepas. Mereka seolah meratapi hari yang terpaksa dilalui dengan berpangku tangan akibat tak bisa melaut. Padahal, saat ini menurut Johan sedang musim ikan pari dan udang lobster.
“Gelombang tinggi ini membuat kami rugi. Biasanya dalam keadaan normal, paling tidak hasil tangkapan ikan dalam sehari bisa satu kwintal”, keluh Johan.
Buruknya cuaca saat ini pun pada akhirnya juga kian menyulitkan perekonomian para nelayan. Dengan harga ikan pari yang menurut Johan perkilonya bisa laku Rp 20.000, berarti dalam sehari para nelayan kehilangan penghasilan sebesar Rp 200.000.
Namun demikian, Johan dan puluhan nelayan lainnya mengaku pasrah. Bagi mereka lebih baik bersabar menunggu gelombang tinggi mereda, daripada nekat melaut yang justru bisa menimbulkan petaka.
Sementara itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY, dihubungi terpisah mengatakan, gelombang tinggi yang telah terjadi sejak dua hari lalu disebabkan oleh tekanan udara rendah di Lautan China Selatan yang mengakibatkan kecepatan angin di Samudera Hindia meningkat sampai 36 kilometer per jam. 
“Angin kencang ini yang menyebabkan gelombang naik dua sampai tiga meter dari kondisi normal”, jelas Teguh Prasetyo, Kasi Data dan Informasi BMKG DIY, sembari mengimbau agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar pantai untuk lebih waspada.

KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...